Perlu Perlakuan Khusus, Olah Kapur Kerang Tetap Berkualitas

0

DARI generasi ke generasi, pembuatan kapur berbahan dasar cangkang kerang terus dilestarikan para pengrajin yang ada di Pulau Sugara, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.

HASIL penelitian menunjukkan cangkang kerang mengandung kalsium karbonat (CaCO3) dalam kadar yang lebih tinggi, bila dibandingkan batu gamping, cangkang telur, keramik atau bahan lainnya. Sebab, cangkang kerang merupakan media alternatif pemisah air dengan ion logam, dan terbukti aman jika terkonsumsi manusia dalam ukuran tertentu.

Mungkin, secara ilmiah, para pengrajin kapur berbahan kerang yang terpusat di Jalan Desa Pulau Sugara RT 1, Kecamatan Alalak ini, belum mengetahuinya. Namun, yang pasti, mereka tetap melestarikan tradisi turun temurun yang sudah berlangsung dari generasi ke generasi itu. Saat ini, hanya tersisa lima generasi penerus pembuatan kapur berbahan dasar cangkang kerang itu di Pulau Sugara. Padahal, sebelumnya, terbilang satu rukun tetangga (RT) adalah para pembuat kapur tradisional andalan desa itu.

“Saya ini adalah generasi ketiga. Pekerjaan membuat kapur dari cangkang kerang ini sudah diwariskan nenek kepada ayah saya, kemudian saya yang melanjutkannya lagi,” ujar Baidawi (36 tahun) di Kecamatan Alalak, Kamis (16/2/2017).

Ia mengungkapkan bahan dasar pembuatan kapur berupa kerang jenis lokan yang banyak terdapat di lumpur pinggir laut, didatangkan dari Sungai Telan, Kecamatan Tabunganen, Kabupaten Batola, atau disuplai para nelayan asal Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah.

“Setiap kali datang, didrop cangkang kerang ini mencapai 8 ton. Datangnya tidak tiap hari, ya terkadang satu minggu atau lebih,” ujar Baidawi.

Cangkang kerang itu kemudian dijemur kering. Menurut Baidawi, ada perlakuan khusus untuk membuat kapur yang berkualitas sebagai bumbu masak, atau keperluan lainnya seperti pengobatan, adat istiadat, hingga bahan campuran pupuk tanah untuk lahan yang memiliki kadar keasaman tinggi di rawa atau gambut berpasir.

Dibakar dalam suhu yang sangat panas, dengan cara ditumpuk berselang-seling. Gundukan pertama adalah kulit kayu, ditumpuk cangkang kerang, kemudian dibungkus kulit kayu, dan seterusnya, hingga membentuk sebuah gunungan besar. “Kulit kayu yang dipakai sebagai bahan bakar tidak bisa sembarangan. Perlu kulit kayu keruing atau keladan, kalau kulit kayu yang lain akan menghasilkan kapur yang jelek. Makanya, kulit kayu ini kami ambil dari limbah pabrik yang ada di pabrik kayu,” tutur Baidawi.

Dengan minimnya pasokan kayu gelondongan, serta pabrik kayu lapis yang beroperasi dalam hitungan jari, Baidawi mengaku terpaksa harus mengambil agak jauh dari luar daerah Alalak. Untungnya kulit kayu keruing itu masih tersedia di pabrik kayu lapis PT Tanjung Raya Plywood (TRP), Surya Satria Timber Group, atau di Austral Byna di kawasan Jelapat, Batola dan Pelambuan, Banjarmasin itu.

Nah, jika kulit kayu itu telah berubah menjadi arang dan abu, gundukan tepung kapur pun siap diolah. “Diberi air panas, tepung kapur itu diaduk-aduk hingga mengental menjadi kapur siap pakai,” ujar Baidawi.

Dengan mengandalkan usaha tradisional pembuat kapur ini, Baidawi mengaku bisa menghidupi keluarganya, termasuk mempekerjakan beberapa orang untuk membantu usaha agar asap dapurnya terus mengepul.

“Alhamdulillah, sekarang harga kapur cukup membaik. Kalau dulu, satu blek (ukuran sekira 25 kilogram) dihargai Rp 7 ribu, sekarang sudah tembus Rp 60 ribu,” kata Baidawi.

Nah, jika dulunya, banyak kapal besar atau klotok bersandar di pelabuhan kecil di Pulau Sugara, kini dengan akses jalan beton, mobil pickup pun menjadi pengganti moda transportasi pengangkut kapur-kapur basah itu.

“Sekarang pasar terbesar kapur Pulau Sugara bukan hanya dari Negara (Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan), tapi sudah banyak permintaan dari Kapuas dan Sampit (Kalimantan Tengah),” katanya.

Ia menduga ratusan kilogram hingga berton-ton kapur cangkang kerang asal Pulau Sugara ini, digunakan untuk bahan dasar penyubur tanah gambut. “Kalau di Kapuas, mereka lebih senang dibungkus kecil-kecil. Mungkin untuk keperluan menginang atau adat warga Dayak. Nah, kalau sudah skala besar, bukan hanya untuk bumbu masak, sudah hampir dipastikan sebagai bahan dasar pencampur pupuk,” imbuh Baidawi.(jejakrekam)

Penulis : Didi GS

Foto    : Didi GS

 

Pencarian populer:apakah kulit kerang yg dibakar masih mengandung kalsium,caco3 menginang

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.