ACT

Intan Sultan Adam, Rampasan Perang Banjar yang Kini Dikoleksi Museum Belanda

0 124

INTAN asal Banjarmasin yang terkenal merupakan warisan Sultan Adam, Raja Banjar memerintah 3 Juni 1825-1 November 1857, menjadi topik perbincangan dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini mengiringi kedatangan Raja dan Ratu Belanda ke Indonesia.

INTAN ini sekarang dikoleksi Rijks Museum Amsterdam sejak tahun 1875. Yang berukuran weight (berat) 7.65 gr × lenght (panjang) 2.1cm × widt (lebar) 1.7cm × height (tinggi) 1.4 cm.

Sejarawan FKIP Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur menjelaskan berlian yang kini disimpan Rijk Museum Amsterdam, Belanda itu merupakan rampasan Perang Banjar, yang dimiliki oleh Panembahan Adam/Sultan Adam, Sultan Banjarmasin tahun 1825-1857.

“Berlian tersebut adalah pusaka, simbol kedaulatan sultan. Setelah meninggalnya Sultan Adam, Belanda ikut campur dalam suksesi di Kesultanan Banjar. Pada 1860, pasukan Belanda dengan brutal menguasai wilayah Kesultanan Banjarmasin dan menghapuskan kerajaan. Berlian kasar ini kemudian dikirim ke Belanda, kemudian dipotong berbentuk persegi panjang dengan ukuran 36 karat setelah diasah,” kata Sammy, sapaan akrabnya saat berbincang dengan jejakrekam.com, Kamis (19/3/2020).

BACA : Cerita Keris Abu Gagang dan Pangeran Hidayatullah di Tanah Pengasingan

Sammy mengutip sejarawan Helius Syamsudin yang menyebut memang benar terdapat intan dengan nama Intan Sultan Adam. Nama intan sebesar 103 karat milik Sultan Adam, putra Sultan Sulaiman Saidullah II yang berkuasa pada 1825-1857.

“Harganya pada tahun 1857 ditaksir sekitar Fl 50.000 atau setara dengan 25.000 Real. Sementara itu, dalam penelusuran di buku “Sekelumit Tentang Intan”, terbitan Humas Pemda Daerah tingkat II Banjar Kalimantan Selatan tahun 1981, memang terdapat berbagai penemuan intan di daerah Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan,” papar Sammy.

BACA JUGA : Politik Belah Bambu Snouck dalam Perang Banjar

Dia menyebut pada pertengahan abad ke-19, sekitar tahun 1846 di wilayah Banjar-Martapura, ditemukan intan dengan ukuran berat 12, 13, 20, dan 21 karat. Dalam tahun 1850 ditemukan lagi, intan Galuh Cempaka 1 sebarat 106 dan 74 karat. Kemudian, tahun 1856, intan seberat 103 karat milik Sultan Adam Al-Wasikubillah, dan tahun 1865 ditemukan pula intan seberat 25 karat.

Dari kedua keterangan ini, diuraikan Mansyur, justru intan milik Sultan Adam yang sekarang ada di Rijks Museum Amsterdam sejak tahun 1875 adalah intan Sultan Adam yang sebelum di-cutting seberat 103 karat.

BACA JUGA : ‘Menggugat’ Kiprah Pangeran Antasari di Kecamuk Perang Banjar

“Konon, Sultan Adam Al-Wasiku-billah memiliki keris dengan sarung dan gagangnya bertatahkan intan berlian merah dan biru. Memiliki pending (sabuk) dari emas, yang juga bertaburkan berlian warna-warni. Gagang tongkat Sultan Adam bertaburkan intan berlian merah dan putih cemerlang,” ujar Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (LKS2B) Kalimantan ini.

Mansyur mengatakan hampir semua pusaka Kesultanan Banjar bertaburkan intan berlian aneka warna, batu-batu intan berlian itu beratnya di atas empat karat.

“Pada era abad ke-14 sampai abad ke-19. Tanah-tanah yang mengandung intan, yang dimiliki para bangsawan, digarap oleh para pendulang. Hasilnya, intan 4 karat ke atas wajib dijual kepada bangsawan pemilik tanah. Pemilik tanah juga mendapat hasil sepertiga dari taksiran harga intan,” kata Mansyur.

BACA JUGA : Keraton Dibumihanguskan, Belanda Sita Regalia Kesultanan Banjar

Magister sejarah Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini juga pernyataan sejarawan Leiden University J. Thomas Lindblad yang menuturkan sebelum tahun 1861, keseluruhan pemotongan intan ini berada di bawah otoritas Sultan Banjarmasin.

Untuk pemotongan intan di sebuah perusahaan swasta yang mendapat keuntungan dari sisi ketersediaan tenaga kerja.

“Kemudian, di bawah peraturan Belanda, sebuah sistem lisensi dikembangkan untuk peraturan bagi penggalian dan pemotongan intan. Sebelum tahun 1861, ketika hak pemotongan atau hak 10 persen yang diberikan pendulang intan Martapura untuk intan di atas 4 karat menunjukkan hasil produksi dari galian lubang pendulangan intan berlian Banjar kian meningkat,” ucapnya.

BACA JUGA : Melintas Batas Benteng Tatas, Dibina Inggris hingga Bumi Hangus

Sekretaris Pusat Kajian Budaya dan Sejarah Banjar ULM ini mengatakan berdasarkan laporan dari Johan Andreas Paravicini yang dikirim VOC untuk datang ke Banjarmasin, menjelaskan tentang bangunan Keraton Kayutangi yang luar biasa mewah.

Ia menceritakan Kesultanan Banjarmasin begitu indah, tombak dan mahkota dibalut dengan emas, serta intan berlian yang sangat indah berkilau.

“Kemewahan mahkota Sultan yang bertaburkan kemilau intan berlian, yang disaksikan Andreas Paravicini dalam tahun 1756. Hal ini menunjukkan hasil pendulangan intan yang dikerjakan orang Banjar menghasilkan intan berlian yang memiliki mutu yang tinggi. Mahkota Sultan Banjar bertaburkan intan berlian berwarna merah, biru, hijau dan putih cemerlang. Intan berlian itu hasil dari bumi Sultan Banjar sendiri, yakni pada kawasan Riam Kanan dan Riam Kiwa,” papar Mansyur.

BACA JUGA : Benteng Oranje Nassau, Simbol Supremasi Belanda Pemicu Perang Banjar

Ia pun menyebut biasanya mereka memiliki akses kepada para pendulang intan sekaligus kepada para bangsawan pemilik tanah lungguh (apanage). Itu ketika para pendulang intan yang mendulang intan di tanah lungguh (apanage) para bangsawan Banjar dan tanah Sultan Banjar memiliki hak penjualan intan berlian, jika mereka memperoleh intan dengan berat di bawah 4 karat di tanah apanage bangsawan Banjar, termasuk di tanah Sultan Banjar.

“Peluang inilah yang dimanfaatkan para pedagang intan berlian untuk membuka akses jual-beli intan berlian dengan para pendulang intan di Martapura, Helius Syamsuddin (2001: 223) mengutip dari Borneo Reis Bandjermasin, menyebutkan bahwa Ratu Komalasari, istri Sultan Adam memiliki botol-botol anggur yang penuh dengan intan berlian dan ditanam dalam tanah di bawah rumahnya di Martapura. Penjelasan ini menandakan para bangsawan Banjar memiliki peran yang besar dalam aktivitas produksi dari berbagai lokasi pendulangan intan berlian yang ada di dalam wilayah Kesultanan Banjar,” papar Sammy.

BACA JUGA : Bubuhan Haji dalam Perang Banjar Abad Ke-19

Lantas bagaimana sikap Kesultanan Banjar di era kini? Ahmad Fikri Hadin, perwakilan Kesultanan Banjar menuturkan pihak kesultanan pernah melakukan lobi ke museum di Belanda untuk pengembalian berlian juga barang-barang bersejarah lainnya ke Banua.

“Alasan Belanda tidak mengembalikan barang-barang (bersejarah) itu adalah kami mengembalikan ke siapa, karena Kesultanan Banjar tidak mempunyai otoritas seperti negara,” ucap Fikri.

Dia menyebut kedatangan Raja dan Ratu Belanda ke Indonesia beberapa waktu lalu, sekaligus mengembalikan barang-barang bersejarah, harus dimanfaatkan untuk menuntut artefak dan benda bersejarah di Kesultanan Banjar untuk dikembalikan ke tempat asalnya.

“Kenapa harus dikembalikan, karena (barang bersejarah) itu hak dari Kesultanan Banjar, selain berlian Sultan Adam juga banyak artefak Kesultanan Banjar,” pungkas Ahmad Fikri Hadin.(jejakrekam)

Penulis Ahmad Husaini
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.