ACT

Virus Corona dan Prestasi

0 122

Oleh: Erdeny Mithriany Yunus

DUNIA saat ini dihebohkan wabah Virus Covid-19 atau lebih dikenal virus corona. Bahkan, Pemerintah Cina mengisolasi salah satu kota di negeri itu, Wuhan. Karena banyak warganya yang terpapar virus ini. Bahkan tidak sedikit yang meninggal dunia.

TAK hanya Cina, beberapa negara lain juga mewaspadai penyebaran virus ini. Termasuk Indonesia yang seperti beberapa negara lainnya, memulangkan warganya dari Wuhan dan kota lainnya di Provinsi Hubei.

Sebanyak 238 WNI dipulangkan dari Cina. Untuk memastikan kesehatan mereka, ratusan WNI yang sebagian besar mahasiswa ini, menjalani observasi dan karantina di Hanggar Lanud Raden Sadjad Ranai Natuna. 

Dari 238 WNI, tercatat tujuh diantaranya warga Kalimantan Selatan. Satu warga Kota Banjarmasin dam enam warga Kabupaten Tabalong.

Usai menjalani karantina sekitar dua pekan atau 14 hari, mereka akhirnya bisa pulang ke rumah masing-masing. Berdasarkan skema kepulangan dari pemerintah pusat, 238 WNI ini, diterbangkan dari Natuna ke Bandara Halim Perdana Kusuma Sabtu (15/2/2020) siang.

Setibanya di Halim Perdana Kusuma, tim pemerintah pusat menyerahkan mereka ke perwakilan pemerintah daerah. Selanjutnya, mereka melanjutkan perjalan ke daerah masing – masing.

Untuk tujuh mahasiswa asal Kalsel, dijadwalkan berangkat dari Bandara Sukarno Hatta Jakarta, Minggu (16/2/2020) sekitar pukul 10.10 WIB, menuju Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin di Banjarbaru, seperti dikutip dari banuapost.net.

BACA : Tim Dinkes Dan Disdik Jemput Enam Mahasiwa Tabalong Yang Pulang Dari Natuna

Masih mengutip dari banuapost.net, Kepala BPBD Kalsel, Wahyudin mengatakan, tidak ada penjemputan khusus kepada para mahasiswa itu. Mereka, akan dijemput keluarga masing – masing. Sementara tim hanya melakukan monitoring.

Sebelumnya dipemberitaan media online yang sama, Sekdaprov Kalsel Haris Makkie mengatakan, tidak ada perlakuan khusus. Alasannya,  mereka sudah menjalani karantina dan sudah dinyatakan bebas virus corona. Justru akan aneh atau menimbulkan pertanyaan di masyarakat bila mereka diperlakukan khusus.

Bila hal itu sebuah kebijakan, tentulah bukan sesuatu yang salah. Karena menjadi hal yang penting untuk menjaga privasi mereka. Apalagi mereka sempat merasakan kecemasan berada di daerah yang diserbu wabah mematikan.

Sehingga, bagi mereka pulang ke rumah, bisa jadi melepas penat sambil meluapkan kerinduan dengam keluarga yang juga sempat mencemaskan mereka.Jadi tidak perlu lagi hal-hal yang bisa memicu kekhawatiran masyarakat terhadap mereka.

Bisa jadi, mereka juga tidak menginginkan perlakuan khusus. Namun, rasanya tidak ada salahnya mengapresiasi mereka. Meski hanya sekadar menjemput. Atau mengucapkan selamat datang dan memberi semangat kepada mereka agar tidak trauma dengan apa yang sudah dialami.

Syukur- syukur, bila pemerintah daerah bisa menjanjikan kemudahan bagi mereka bisa kembali melanjutkan pendidikan kelak, saat wabah virus corona sudah teratasi.

Karena, mereka adalah sedikit dari banyak generasi muda banua yang punya semangat meraih mimpi. Dan punya keberanian berkuliah di negeri tirai bambu. Sebuah negeri yang masih mempertahankan ideologi komunis yang bagi sebagian orang tentu menakutkan. Sebuah negeri maju yang kini menjadi musuh dagang negara adidaya Amerika Serikat.

BACA JUGA : Antisipasi Virus Corona, Bandara Syamsudin Noor Aktifkan Pendeteksi Panas Tubuh

Semangat dan keberanian mereka, tentu saja ditopang dengan prestasi. Karena beberapa dari mereka, mendapat kesempatan berkuliah di perguruan tinggi di Cina atas beasiswa yang berhasil mereka raih.

Tapi saat ini, mereka harus pulang. Harus meredam semangat dan keberanian mereka untuk mengurangi kecemasan keluarga yang lama menanti kepulangan mereka.

Saat ini mereka harus bersabar karena manusia harus percaya, bahwa ada hikmah dan juga mungkin prestasi yang bisa dipetik di balik musibah.

Seperti halnya yang dirasakan Pemerintah Cina. Upaya mereka melawan virus corona, mendapat banyak dukungan, bahkan pujian. Mereka mampu membangun Rumah Sakit Khusus Pasien Khusus Corona.

Fasilitas kesehatan di lahan seluas 33.900 meter persegi ini, memiliki 1.000 tempat tidur. Pembangunan rumah sakit dalam waktu efektif delapan hari ini, mengundang apresiasi dari banyak pihak. Sebuah prestasi di tengah mewabahnya virus corona.

Begitu pula dengan para mahasiswa yang berkuliah di Cina.  Termasuk dari Kalsel. Karena virus corona, prestasi yang mereka raih, bisa berkuliah di luar negeri, juga diketahui banyak orang. Dan bisa jadi, prestasi mereka menjadi motivasi bagi anak muda lainnya untuk punya semangat meraih pendidikan tinggi, sebagai bekal di masa depan.

Sehingga, tidak ada salahnya mereka disambut meski tidak harus dengan perlakuan khusus karena belum banyak anak muda banua berprestasi seperti mereka yang bisa dibanggakan pemerintah daerah ini.(jejakrekam)

Penulis adalah Wakil Sekretaris Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Kalsel

Editor Andi Oktaviani

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.