ACT

8 0rang Guru Honerer Terima BEA Guru ACT

0 30

KALIMANTAN Selatan kembali memberikan apresiasi kepada guru honorer yang ada di Banua, Rabu (12/2/2020). Apresiasi ini merupakan kelanjutan dari program Sahabat Guru Indonesia yang ACT luncurkan pada 25 November 2019 lalu. Ada 8 guru prasejahtera di Ponpes Nurul Hidayah, Desa Lok Baintan Kabupaten Banjar. Kalimantan Selatan yang mendapatkan bantuan biaya hidup pada Februari ini.

SERAH terima bantuan biaya hidup dilaksanakan di Ponpes Nurul Hidayah. Selain menyerahkan bantuan, Global Zakat-ACT juga memberikan edukasi terkait dunia kemanusiaan agar para guru dapat peduli dan mengajak murid-muridnya melakukan hal baik untuk sesama.

Kasmiati (46) selaku salah satu guru yang menerima Bea Guru mengucapkan terima kasih kepada Global Zakat – ACT yang telah memberikan bantuan  kepada kami.

BACA: Guru Yayasan Al-Ajyb Dapat Beaguru Dari Global Zakat ACT

“Semoga menjadi berkah bagi kita semua. Mudah – mudahan bantuan ini tidak hanya sampai di sini akan tetapi tetap berlanjut dan lancar, dan semoga akan bertambah banyak lagi bantuan yang diberikan, sehingga menjadi pemacu semangat dan motivasi kami dalam mengajar serta menjadi berkah dan ladang amal bagi kita semua,” ujarnya.

Abdul Khair (32) berharap bantuan ini bisa terus berjalan setiap bulannya dan bantuan ini menjadi berkah dan ladang amal bagi kita semua. “Mengajar itu sesuatu yang sudah menjadi bagian dari hidup saya,” tuturnya.

M. Budi Rahman dari Tim Program Global Zakat – ACT Kalimantan Selatan berharap, guru-guru dapat menularkan semangat kebaikan ke semua orang, khususnya anak didiknya. “Dengan kata lain kami ingin aksi kebaikan ini dapat menyebar ke semua orang,” jelasnya.

BACA JUGA:  ACT Respon Tanggap Darurat Banjir Jabodetabek

M. Fauzi Ridwan dari Tim Program Global Zakat – ACT Tasikmalaya berharap, guru-guru dapat menularkan semangat kebaikan ke semua orang, khususnya anak didiknya. “Dengan kata lain kami ingin aksi kebaikan ini dapat menyebar ke semua orang,” jelasnya, Kamis (6/2).

Ucu Entik, guru yang mendapat bantuan biaya hidup, mengatakan dirinya telah mengabdi sebagai tenaga pengajar sejak 1993. Tempat mengajarnya di Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah Al Hidayah menggajinya Rp50 ribu per bulan. Walau begitu, Ucu tetap semangat mengajar karena cita-citanya ingin anak didiknya dapat lebih baik secara wawasan dan pengetahuan. “Waktu tahun 1993 itu digaji pas kenaikan kelas saja, tapi sekarang bisa per bulan digajinya,” katanya.

Dengan penghasilan itu, Ucu harus membiayai dua orang anaknya sendirian. Ia tak pernah merasa kurang, Ucu selalu bersyukur atas gaji yang diterimanya. “Saya sudah bisa mengajar anak-anak saja sudah senang,” imbuhnya.

Program Sahabat Guru Indonesia senantiasa menjangkau guru-guru prasejahtera di Indonesia. Di Tasikmalaya sendiri, bantuan beaguru telah menjangkau 196 guru prasejahtera hingga kini.(jejakrekam)

Penulis Fathoni ACT
Editor Fahriza

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.