ACT

Bantu Penderita Kanker Payudara, Relawan dan Anggota BPRS Kalsel Turun Tangan

0 115

GERAK cepat penangananpenderita tumor atau kanker payudara kronis dilakukan tim Relawan Emergency Banjarmasin Bakula (REBB) dan anggota Badan Pengawas Rumah Sakit (BPRS) Kalimantan Selatan, Anang Rosadi terhadap Amas (68 tahun).

WARGA Jalan Alalak Selatan ini RT 04 RW 001, Kelurahan Alalak Selatan ini menderita tumor di bagian payudaranya, hingga membusuk.  Bersama Ketua ERBK Abdul Hadi dan Udin dari RSUD Ulin, Amas didampingi putrinya dibawa dengan mobil ambulance ke rumah sakit, Senin (3/2/2020).

Sebelumnya, kondisi Amas membuat para relawan bergerak menggalang donasi untuk penyembuhan warga Alalak Selatan, dengan menyebar foto kondisi terkini, Amas yang tergulai lemah di atas kasur di media sosial.

Anggota BPRS Kalsel, Anang Rosadi Adenansi mengucapkan terima kasih atas kepedulian para relawan terhadap kondisi Amas yang sangat membutuhkan uluran tangan untuk segera diatasi.

BACA : Memastikan Mutu Layanan Rumah Sakit, Komisi IV DPRD Kalsel Maksimalkan Sidak

“Indikasi penyakit tumor atau kanker payudara lebih terlihat diderita Amas. Alhamdulillah, pihak RSUD Ulin Banjarmasin dan RSUD Moh Ansari Saleh cepat merespon. Sempat diobservasi di rumah sakit, nantinya akan dirujuk pada Selasa (11/2/202) nanti atas rujukan RSUD Ansari Saleh ke RSUD Ulin Banjarmasin, ” ucap Anang Rosadi kepada jejakrekam.com, Senin (3/2/2020).

Ia mengapresiasi gerak cepat Wakil Direktur RSUD Moh Ansari Saleh, dr Yuddy Riswandi Noora dan Direktur Pelayanan dan Peratawan RSUD Ulin, Aini Robby atas arahan Diretur Utama RSU Ulin, dr Hj Suciati, untuk menangani pasien kanker payudara atas nama Amas tersebut.

“Pasien merupakan peserta kartu KIS program pemerintah pusat. Ini harus menjadi pembelajaran berharga bagikita dalam membangun edukasi kesehatan dengan sistem yang kuat, sehingga ketika ada pasien yang tergolong kronis bisa segera ditangani pihak rumah sakit,” ucap Anang Rosadi.

Mantan anggota DPRD Kalsel ini mengeritik posisi puskesmas yang harusnya berada di garda terdepan, justru terkesan abai dalam kasus Amas. Ia menyarankan agar puskemas atau RS pratama harus segera dibangun di tingkat kecamatan sebagai rujukan primer.

BACA JUGA : Dinkes-DPRD dan BPRS Awasi Ketat Pelayanan Rumah Sakit di Kalsel

Di sisi lain, menurut Anang Rosadi, tindakan preventif bisa diawali dengan menyusun skema bank data pasien berdasar data medical record (rekam medis) dari semua rumah Sakit atau klinik.

“Database ini menjadi output kepada Dinas Kesehatan dan SKPD terkait untuk menetakan programberdasarkan tim analisis dan tim eksekusi. Dalam hal ini, tim analisis berfungsi sebagai penyusun program edukasi dan promotif. Sedangkan, tim eksekusi adalah tim yang mengarahkan pergerakan anggaran,” paparnya.

Anang Rosadi mencontohkan di daerah tertentu banyak penyakit yang disebabkan sanitasi buruk, maka outputnya kepada Dinas PUPR atau Dinas Sosial. Sedangkan, papar dia, apabila sumber penyakit dari makanan mengandung boraks atau formalin baik yang dijual di pasaran atau pabrikan, maka BPOM dan Satpol PP serta polisi terus menerus kontinyu.

“Tindakan konkret harus dikenakan kepada para penjual atau pedagang dengan memberi sanksi yang keras. Bahkan, melarang pelaku nakal untuk tidak lagi berjualan di pasar-pasar dikelola pemerintah dan melakukan daftar black list terkoneksi,” urai Anang Rosadi.

Putra tokoh pers Anang Adenansi ini berharap agar fungsi rumah sakit tidak boleh lagi seperti pemadam kebakaran, setela ada pasien parah baru berobat. “Karenaya, orientasi puskesmas  betul-betul fokus menjadi health centre atau pusat kesehatan. Seharusnya, kasus seperti yang dialami Amas,  sudah terdeteksi secara dini jika mekanisme dan tanggungjawab berjalan normal,” katanya.

BACA LAGI : Menderita Tumor Jaringan, Bayi Rezky Mendapat Penanganan Serius

Bagi Anang, sebuah kepemimpinan di semua level dalam berpikir dan bertindak bukan tatanan sloganisme spanduk semata-mata atau dari seminar ke seminar.

“Sangat disayangkan, kondisi sekarang yang sudah canggih teknologi, namun cara-cara manual dalam mengontrol masih dilakukan. Saya juga mengimbau agar aspek bisnis rumah sakit dijauhkan, fokus pada pelayanan kesehatan prima serta mengangkat kesejahteraan karyawan dan dokter serta tenaga medis. Dengan begitu, saat menangani pasien lebih mengutamakan hati nurani, ketimbang bisnis,” urai Anang Rosadi.(jejakrekam)

Penulis Ipik Gandamana
Editor Didi GS

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.