ACT

Berguru pada Buah-Buahan

0 74

Oleh : Humaidy Ibnu Sami

BUAH-buahan adalah bagian dari jenis tumbuh-tumbuhan atau bagian flora yang ada di wilayah daratan. Sedangkan flora sendiri merupakan bagian penting dari lingkungan alam semesta bersama fauna dan yang lainnya.

MEREKA diadakan Tuhan terlebih dahulu daripada manusia sebagai persiapan bagi kebutuhan manusia nantinya sebagai khalifah di muka bumi untuk memakmurkan dunia dengan segala isinya.

Secara teologis buah-buahan adalah saudara tua bagi manusia karena lebih awal diciptakan. Lebih dari itu, di dalam Alqur’an buah-buahan disebut sebagai ayat-ayat Allah yang kauniyah (sunnatullah) hampir setara posisinya dengan ayat-ayat Allah yang Qur’aniyah (kalamullah) yang wajib pula bagi setiap muslim untuk selalu membacanya.

Mereka (buah-buahan) disebut Alqur’an selalu berdzikir (mengingat Allah), bertasbih (mensucikan Allah) dan berdoa (memohon kepada Allah agar manusia selalu dalam kebaikan) sebagaimana manusia, tapi dzikir, tasbih dan doa mereka tidak dipahami oleh manusia kecuali bagi yang sudah terbiasa mengakrabi mereka insya Allah akan tahu dan mengerti.

BACA : Ternyata Buah Durian Menurunkan Kalesterol Jahat

Di samping itu, Alqur’an memerintahkan juga buat orang-orang beriman agar menjadikan buah-buahan sebagai medan tafakkur berpikir mendalam terhadap ciptaan Tuhan, sebagaimana firman-Nya “Tafakkaru fi khalqillah wala tafakkaru fi dzatihi, artinya pikirkanlah secara mendalam ciptaan Allah dan jangan berfikir mendalam akan zat-Nya”, bisa menyimpang dari jalan yang lurus bahkan bisa mengalami kegilaan yang permanen.

Jika dikontekskan kepada buah-buahan, maka akan berbunyi berpikir mendalamlah kalian tentang buah-buahan, nanti di ujung perenungan akan kau temukan Tuhan atau setidaknya bayang-bayang Tuhan di buah-buahan.

Banyak dari pemikir Islam yang arif bijaksana mau berguru kepada buah-buahan. Konon ulama besar Iran, Ayatullah Sayyid Muhammad Thabathaba’i ketika menulis karya tafsirnya Al-Mizan, sebanyak 30 jilid, cukup besar dan tebal di dalam salah satu bagiannya terdapat hasil dari bergurunya dengan pohon dan buah-buahan yang berada di belakang rumahnya.

Tafsir Al-Mizan ini sangat terkenal di dunia Islam, menjadi referensi yang diperhitungkan baik di kalangan kaum Suni (Ahlussunnah wal Jamaah) maupun kaum Syi’i (Syi’ah Zaidiyah dan Syi’ah Ja’fariyah).

Demikian juga, ada beberapa tabib ahli herbal dan ahli pengobatan lokal yang berguru kepada buah-buahan. Mereka karena saking mesranya berakrab-akrab dengan buah-buahan hingga mereka perlahan-lahan tapi pasti bisa berkomunikasi dan berinteraksi dengan baik seperti dengan manusia saja layaknya.

BACA JUGA : Animo Masyarakat Banjarmasin Beli Buah Lokal Kian Tergerus

Mereka memperoleh bocoran dari sang guru (buah-buahan) tentang manfaat kesehatan, kenikmatan, keindahan dan berbagai makna hidup darinya karena mau menyelami sampai ke lubuk terdalamnya.

Demikian juga, kaum sufi banyak membuat amsal dan simbol buah-buahan untuk pengajian tasawufnya. Imam Ghazali, Hujjatul Islam dalam kitab agungnya Ihya Ulumuddin menggambarkan orang yang berilmu tapi tidak diamalkannya dengan kalimat “al-ilmu bilaa ‘amalin kassyajari bilaa tsamar”, artinya berilmu tanpa diamalkan laksana pohon rimbun tanpa buah sama sekali.

S.H. Nasr sufi besar dari Iran, selaku juru bicara Islam tingkat dunia, menyatakan dalam bukunya “Islam dalam Cita dan Fakta”, diterjemahkan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bahwa Syariat ibarat sabut dari buah kelapa, Tarikat ibarat tempurung dari buah kelapa, Hakikat ibarat daging dari buah kelapa dan Ma’rifah ibarat minyak dari hasil santan buah kelapa.

Banyak lagi tokoh sufi lain, yang menjadikan buah-buahan sebagai refresentasi dan ekspresi dari hasil pencarian dan perjalanan panjang dunia batin mereka agar mudah dipahami orang lain, khususnya oleh para muridnya sendiri dalam dunia tasawuf.

Rupa-rupanya buah-buahan bagi para sufi menjadi metode atau media mengungkapkan pengalaman batin mereka yang sangat abstrak dan subtil.

BACA LAGI : Lestarikan Buah Endemik Kalimantan, Hanif Wicaksono Masuk Finalis SATU Indonesia

Kemudian, di dalam Alqur’an terdapat nama-nama beberapa buah-buahan sebagai tanda bahwa Allahpun memuliakan mereka. Ada buah yang dicantumkan berpasangan dalam satu ayat, dan ada buah yang berpasangan dalam satu surat serta ada pula buah yang berpasangan dalam lain surat, bahkan ada salah satu nama buah menjadi nama surat yakni surat At-Tiin.

Adapun pasangan buah dalam Alqur’an adalah Buah Tiin dan Buah Zaitun ( At-Tiin ayat 1 ), Buah Zaitun dan Buah Delima ( Al-An’am ayat 99 dan 141 ), Buah Kurma dan Buah Anggur ( Yasin 34 dan +-7 ayat berada dilain tempat), Buah Kurma dan Buah Delima ( Ar-Rahman 58), Buah Pisang dan Buah Bidara ( Al-Waqiah 28-29), Buah Zaitun dan Buah Anggur ( An-Nahl 11), Buah Zaitun dan Buah Kurma ( Abasa 29).

BACA LAGI : Purik, Buah dari Lereng Meratus yang Mampu Mengatasi Penyakit Diabetes

Dari uraian barusan di atas buah yang paling banyak disebut dan dipasangkan adalah Buah Kurma. Sementara buah yang paling sedikit disebut dan dipasangkan adalah Buah Tiin.

Ada bagusnya, buah-buahan yang disebut Alqur’an harus di miliki dan dikonsumsi semampunya. Dimiliki maksudnya adalah buah tersebut ditanam dan dipelihara dengan sebaik-baiknya di kebun, taman, hutan, halaman dan belakang rumah kita untuk dikembangkan dan dilestarikan.

Dikonsumsi maksudnya menjadi menu makanan sehari-hari untuk asupan energi, nutrisi dan gizi kita, karena disebutkan di Alqur’an berulangkali dan banyak sekali isyarat agar buah Kurma dan buah Anggur dikonsumsi dengan cara dikombinasi bahkan dikolaborasikan.

Kebetulan secara ekonomi rumah tangga harga kedua buah itu, tidak terlalu mahal untuk selalu dikonsumsi di rumah, buah Kurma sekitar Rp 40 ribu per kilogram yang standar normal, sama dengan buah anggur juga Rp 40 ribu per kilogram.

BACA LAGI : Ayo, Selamatkan Plasma Nutfah Buah Endemik Kalimantan

Kalau kepengen juga buah yang menjadi nama surat dalam Alqur’an atau satu-satunya buah yang disebut di ayat 1 dalam surat At-Tiin, bolehlah disediakan Buah Tiin dirumah sebulan sekali saja karena harganya cukup mahal 200rb perkilo.

Pengistimewaan beberapa buah-buahan ini bukan berarti kita lantas melupakan dan membuang buah-buahan lokal kita yang sangat beragam. Justru kita harus berusaha untuk menghormati, memuliakan dan melestarikan juga terutama pada buah-buahan yang sudah langka seperti buah Bundar, buah Karamunting, buah Bangkinang dan lain-lain dengan cara menghayatinya dalam berbagai perspektif melalui kajian, penelitian, dialog, diskusi, penulisan dan publikasi dalam spektrum yang luas dan beragam.(jejakrekam)

Penulis adalah Dosen di UIN Antasari

Peneliti Senior LK3 Banjarmasin      

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.