ACT

Cina Banjar dan Sepenggal Kisah dari Rumah Lanting

0 214

Oleh : Mansyur ‘Sammy’

KEDATANGAN masyarakat Cina atau Tionghoa ke Banjarmasin mulai terekam dalam Hikayat Banjar pada abad ke-16 hingga abad ke-17. Hal ini berdasar hasil riset yang ditulis Dana Listiana (2011) dalam historiogafi lokal.

TULISAN historiografi lokal yang selesai digarap pada tahun 1728 ini bercerita mengenai peran serta pedagang Tiongha dalam perdagangan sejak masa Kerajaan Nagara Daha yang berpusat di Muara Bahan (Marabahan).

Begitu pula ketika bandar dagang pindah ke Bandar Masih sekitar tahun 1526, pedagang Tionghoa dikabarkan ikut pindah dan menetap.

Dalam perkembangannya, di awal abad ke-17 keberadaan orang-orang Cina di Banjarmasin diketahui dengan kedatangan pencatat perjalanan Dinasti Ming. Dalam catatannya berjudul Dong Xi Yang Kao yang berangka tahun 1618, ia menginformasikan kegiatan perdagangan di Banjarmasin, kala itu.

BACA : Hikayat Dua Klenteng Besar, Identitas Etnis Tionghoa Banjar

Sedangkan, Idwar Saleh (1982) memaparkan terdapat pada sumber Cina masa Dinasti Ming tahun 1618, menyebutkan terdapat rumah-rumah di atas air yang dikenal sebagai rumah lanting (rumah rakit). Sayangnya, Idwar saleh tidak mengemukakan sumber dimaksud. Dalam penelusuran penulis, diduga sumber ini berasal dari catatan ini dirangkum zang xie, dalam tulisannya Dong Xi Yang Kao tahun 1618.

Sebagaimana kabar tersebut, para penulis Eropa menyatakan bahwa sejak tahun 1630-an saudagar Cina telah eksis dalam kegiatan perdagangan di Banjarmasin. Malahan karena kalah saing, VOC Belanda meninggalkan Banjarmasin “untuk orang Cina (dan Inggris)” pada tahun 1635.

BACA JUGA : Leluhur dari Yunan, Etnis Tionghoa Membaur di Pacinan

Dalam surat perjanjian 4 September 1635 antara Kesultanan Banjar dengan Belanda disebut bahwa Sultan telah melakukan ikatan kegiatan dagang dengan seorang kepala orang-orang Cina di Batavia, sekaligus pemilik perusahaan dagang (lantjong) bernama Bencon.

Betapa hebat dan besarnya armada dagang orang Tionhoa yang diduga bernama asli Souw Beng Kong adalah Kapitan Cina pertama di Batavia. Sebab untuk menghindari kerjasama tersebut, Sultan harus mengirim utusan kepada pihak VOC di Batavia dan meminta perlindungan bagi keamanan Banjarmasin. Caranya dengan menempatkan beberapa kapal seperti yacht, fregat, dan kapal cepat.

Adapun informasi mengenai kiprah para pedagang Tionghoa ini menurut Dana Listiana (2011) pada kurun selanjutnya tertulis dalam cerita perjalanan Daniel Beeckman pada tahun 1718.

Pelaut Inggris tersebut menyatakan bahwa sebagaimana orang-orang Portugis yang datang ke Maluku melalui Makassar, sejak pertengahan abad ke-16 orang Cina telah singgah di Banjarmasin.

BACA LAGI : Mandi Kekayaan Pedagang Bakumpai yang Merajai Tanah Dusun

Ia juga menjelaskan bahwa di awal abad ke-17 sebagian besar penduduk Banjarmasin adalah orang Cina yang menguasai seluruh perdagangan di sana. Monopoli mereka saat itu terutama pada komoditas lada. Sebagian besar dialirkan untuk perdagangan di Tiongkok.

Besarnya volume perdagangan yang dilakoni para pedagang Cina ditunjukkan oleh kedatangan 12 jung Tiongkok tiap tahun sejak awal abad ke-18. Kecuali itu, meluasnya penggunaan uang picis di Banjarmasin terlihat melalui pembelian mata uang Tiongkok oleh para pedagang Banjar di Jawa. Kemudian, penukaran ribuan real oleh VOC.

Uraian di atas merupakan fase awal kedatangan orang Cina ke Tanah Banjar. Gelombang kedatangan selanjutnya terjadi pada paruh kedua abad ke-19. Karena adaptasi, kesetiaan, dan kemauan untuk memperbaiki diri (terutama menyangkut pelayaran), mereka berhasil merebut kedudukan para pedagang Bugis yang kala itu mendominasi perdagangan ekspor tradisional.

Gelombang berikutnya muncul pada awal abad ke-20. Berbeda dengan sebelumnya yang mengandung motif ekonomi sangat kuat, sebagian pendatang dari fase ini memiliki motivasi khusus di dunia pengajaran.

Mereka adalah para guru di mana di antaranya ada yang mengajar di Ma Hua. Sekolah dengan bahasa pengantar bahasa Mandarin di Jalan Martapura (kini Jalan Veteran), Banjarmasin.

BACA JUGA : Ditanam Sejak Sultan Suriansyah, Banjarmasin Pusat Lada Dunia

Sepertinya mereka adalah revolusioner pendukung Sun Yat Sen yang terkait dengan gerakan Nasionalisme Tiongkok. Gejala tersebut muncul di kota-kota Hindia Belanda sejak awal tahun 1900-an. Gerakan yang bertujuan untuk membangkitkan kesadaran nasional di kalangan etnis Tionghoa di Hindia Belanda ini dipelopori oleh Tiong Hoa Hwee Koan (THHK).

THHK sendiri adalah sebuah perkumpulan Tionghoa yang menuntut persamaan hak antara orang Tionghoa dengan Belanda.

Fase kedatangan selanjutnya terjadi pada masa awal Republik Indonesia terbentuk. Arus kedatangan terjadi ketika Orde Lama menerapkan peraturan bagi orang Cina untuk tingal di perkotaan. Itu menyebabkan penduduk yang tinggal di wilayah pedesaaan terutama dari Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah, akhirnya bermigrasi ke Banjarmasin.

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa masa keberadaan mereka di Tanah Banjar cukup lama, sehingga membuat sebagian dari mereka tidak lagi dianggap orang asing. Bahkan kini, sebagian besar orang Cina Banjar tidak paham mengenai asal-usul kelompok etnisnya.

Sebagian besar hanya paham bahwa mereka adalah peranakan. Berkaitan dengan itu, Onghokham menyatakan bahwa hampir semua peranakan tidak dapat lagi ditelusuri asal-usulnya.

Jika asal-usul ini dapat ditelusuri, leluhur mereka tidak akan lebih lampau dari abad ke-18. Namun berdasarkan informasi dari pengurus Tempat Ibadat Tri Dharma Soetji Nurani, Tiono Husin diketahui bahwa sebagian besar orang Cina Banjar adalah sub-etnis Hok Jia dan Hakka, sebagian kecil  lainnya.

BACA LAGI : Berbekal Ranjang dan Cermin, Syekh Muhammad Arsyad Pinang Ratu Aminah

Hok Jia atau Fu atau Fuk Jing lebih populer dengan nama Fuqing atau Hok-Chiang, Hokchia, Hokchew, Foochowese, Fuzhounese atau Hokchiu adalah sub-etnis yang mengacu pada dialek Fuzhou.

Etnis ini berasal dari shi Fuqing, Gutian dan Pingnan, di tepi laut Tiongkok Selatan, tepatnya selat yang memisahkannya dengan Taiwan sejarak 180 kilometer. Jadi sub-etnis ini secara antropologis memiliki budaya bahari atau budaya maritime, meski secara umum Provinsi Fujian secara topografis bernuansa pegunungan.

Sub-etnis ini dikenal pula dengan keuletan, kekompakan yang tinggi. Dengan kata lain saling membantu terutama dalam hal pemberian modal bagi kelompoknya.(jejakrekam)

(Tulisan disarikan dari tulisan Dana Listiana, Balai Pelestarian Nilai Budaya Pontianak, Kampung Cina Banjar di Banjarmasin: Pembentukan dan Perkembangannya Hingga Awal Kemerdekaaan)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.