ACT

Segelas Air

0 108

Oleh : Almin Hatta

CERITA berikut ini sebenarnya sudah cukup sering dikisahkan oleh sejumlah penceramah agama. Tapi, lantaran fitrah manusia ini pelupa, maka kita pun kerap tak mengingatnya. Lantaran manusia umumnya disibukkan urusan dunia yang tak berkesudahan, maka pesan yang dikandungnya pun terabaikan.

DIKISAHKAN, seorang raja arif bijaksana minta segelas air untuk melepas dahaga. Oleh penasihatnya, permintaan itu ditahan dengan pertanyaan. “Jika seandainya air sedang langka dan segelas air ini adalah air yang penghabisan, bersediakah tuan menukarnya dengan separo kerajaan?” Sang Raja tanpa pikir panjang menjawab, “Tentu saja bersedia. Sebab, air itu kan sumber kehidupan. Tanpa air, sudah bisa dipastikan seseorang sedang menuju ke kematian.”

Segelas air pun diberikan dan raja minum dengan nikmatnya. Dahaganya seketika hilang. Selang beberapa waktu, ia permisi ingin masuk ke dalam karena ‘kebelet’ kencing yang tak bisa lagi ditahan-tahan.

Tapi keinginannya lagi-lagi dihalangi penasihatnya. “Tunggu dulu tuan. Jika seandainya air kencing tuan yang sepertinya sudah mendesak untuk keluar tapi lantaran sesuatu hal ternyata tak bisa keluar, dan hanya bisa lancar keluar jika diberi obat seharga separo kerajaan, bersediakah tuan membayar obat yang sebegitu mahalnya?” katanya.

Sebagaimana halnya pertanyaan pertama tadi, raja lagi-lagi tanpa pikir panjang menjawab, “Tentu saja saya bersedia. Sebab, setiap yang kita masukkan ke dalam perut akan menyisakan ampas yang wajib dibuang. Kalau ampas itu tak bisa dikeluarkan, maka orang yang bersangkutan bisa dipastikan sedang menuju ke kematian.”             

Raja pun masuk ke dalam. Tak lama ia datang lagi menemui penasihatnya dengan wajah cerah ceria. “Tampaknya tuan raja sangat bahagia,” sambut penasihatnya.

“Bagaimana tak bahagia? Ingin minum ada air yang diminum. Ingin kencing, bisa kencing,” jawab Sang Raja tersenyum penuh pesona.

“Tapi, bukankah untuk semua itu tuan harus kehilangan kerajaan, dan karenanya sekarang tuan bukan lagi seorang raja?” sergah penasihatnya.

Raja tertegun sejenak. Benar-benar sejenak. Setelah itu ia tersenyum, dan bahkan tertawa. Bukan terbahak. Sebab, tertawa ngakak bukanlah watak raja arif bijaksana. Ia cuma tertawa ringan saja, tapi cukuplah untuk menggambarkan ia benar-benar bahagia. “Tak masalah kehilangan kerajaan, tidak jadi soal jika tak lagi bermahkota. Yang penting, tetap bahagia. Bukankah tujuan hidup ini memang sekadar untuk meraih bahagia?” ujarnya.

Penasihatnya pun manggut-manggut, mengaminkan pernyataan bijak tuannya. Begitulah kisahnya. Cuma perkara segelas air, seorang raja kehilangan mahkota berikut kerajaannya. Pertanyaannya: bagaimana dengan berkubik-kubik air leding yang kerap terbuang percuma lantaran kotor tak bisa dipakai mandi, cuci, apalagi diminum? Pantaskah kita tetap wajib membayar harganya, meski tak semahal air minum Sang Raja?(jejakrekam)

Editor Almin Hatta

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.