ACT

Ketika Temuan James Watt Memantik Perang Banjar

0 156

JAMES Watt merupakan seorang penemu asal Skotlandia yang lahir di tahun 1736. Sosoknya sering dikaitkan dengan penemuan mesin uap menjadi kunci utama revolusi industri di Inggris dan menjalar di Benua Eropa, hingga memengaruhi dunia setelahnya.

MUHAMMAD Iqbal sejarawan Insitut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangkaraya mengungkapkan penemuan James Watt menjadi tonggak awal revolusi industri pertama. Ini mengingat hasil temuannya tentang mesin uap mengubah wajah Eropa, yang bergantung dengan teknologi manual, beralih ke teknologi mesin uap.

“Setelah revolusi industri pertama, para ilmuan eropa mulai diorientasikan ke bisnis pada masa itu. Hingga mulai terjadi pergeseran masyarakat feodal ke masyarakat industri,” ucap Iqbal saat dihubungi jejakrekam.com, Selasa (24/12/2019).

BACA : Benteng Oranje Nassau, Simbol Supremasi Belanda Pemicu Perang Banjar

Pria yang sempat mengajar di IAIN Antrasari ini menyebut perkembangan industri pada masa itu membuat masyarakat yang tinggal di desa, kebanyakan para petani mulai berbondong-bondong pindah ke kota. Mereka pun berganti profesi menjadi buruh pabrik.

“Urbanisasi ini juga mengakibatkan perubahan sosial masyarakat. Dulunya berstatus petani di desa menjadi buruh di kota. Yang dulunya memiliki alat produksi sendiri berupa tanah kini bergantung dengan pemiliki pabrik,” ucap mantan aktivis pers mahasiswa ini.

Iqbal mengatakan revolusi industri pertama seperti pisau bermata dua, karena mulai mengubah tatanan masyarakat feodal yang percaya mistisme dan takhayul menuju tatanan masyarakat modern. Namun, kata Iqbal, di sisi lain terjadinya ketimpangan pendapatan antara kapitalis dan buruh.   

“Sebelum revolusi industri yang berkuasa adalah kaum bangsawan dan pemilik tanah setelahnya yang berkuasa adalah pemilik modal dan kapitalis,” ucap Iqbal.

BACA JUGA : Tenggelamnya Onrut, Kapal Modern dari Feyenoord dalam Perang Banjar (1)

Ia menjelaskan revolusi industri di Eropa secara tidak langsung berdampak terhadap kolonialisme di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.

“Karena mereka membutuhkan sumber daya alam bahan baku mereka harus menjalin perdagangan dengan Nusantara nah mungkin bisa dikatakan beringan dengan kolonialisme di Nusantara,” kata Iqbal.  

Terpisah, aktivis senior Budi ‘Dayak’ Kurniawan menganggap revolusi industri di Eropa secara tidak langsung memantik Perang Banjar. Ini mengingat Eropa membutuhkan batubara untuk menjalankan mesin uap.

Wartawan senior ini mengatakan tambang batubara pertama kali di Indonesia adalah tambang Pengaron masuk wilayah Kesultanan Banjar. Konsesi tambang era kolonial Belanda inilah yang diserang Pangeran Antasari bersama pasukannya sekaligus menandai dimulainya Perang Banjar.

“Yang menarik pada masa itu, Belanda melakukan penambangan underground atau tambang bawah tanah, bukan tambang terbuka seperti yang terjadi masa kini. Jadi, sebenarnya penjajah Belanda lebih arif ketimbang kita dalam aktivitas pertambangan,” imbuh mantan aktivis era Orde Baru ini.

BACA LAGI : ‘Menggugat’ Kiprah Pangeran Antasari di Kecamuk Perang Banjar

Budi menganggap Pangeran Antasari merupakan aktivis anti tambang pertama Nusantara pertama yang tercatat dalam sejarah.

“Apa yang dilakukan Pangeran Antasari dan memicu Perang Banjar dengan menyerang benteng dan wilayah konsesi tambang merupakan bentuk perlawanan rakyat ketika sumber daya alam dikuasai kelompok atau korporasi. Perlawanan masyarakat terhadap industri tambang hari ini, tidak jauh berbeda dengan perlawanan Pangeran Antasari berabad silam,” tandas Budi.(jejakrekam)

Penulis Ahmad Husaini
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.