ACT

Penjajahan Kapitalisme, Demokrasi dan Runtuhnya Dominasi Negara

0 145

Oleh : Muhammad Uhaib As’ad

JUDUL tulisan ini diinspirasi oleh buku Professor Noreena Hertz, The Silent Take Over (Pengambilalihan Diam-diam). Noreena Hertz dikenal sebagai  akademisi muda terdepan dalam kajian globalisasi ekonomi (economy globalization).

THE Silent Take Over telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa seperti Prancis, Jerman, Cina,  Spanyol, Italia, Belanda, Korea, Portugis, dan Jepang. Norrena Hertz mendapatkan PhD dari University of Cambridge dalam bidang filsafat dan ekonomi.

Buku The Silent Take Over merupakan karya akademik kelas tinggi dari seorang pengamt globalisasi. Tidak mengherankan bila para aktivis kiri dan aktivis Islam radikal menjadikan buku ini sebagai rujukan sebagai model atau cara memahami globalisasi dan proses demokratisasi.

Pada saat ini, sebagian besar negara-negara di dunia berada pada pusaran globalisasi, demokratisasi atau ekonomi global kapaitalisme (economic global capitalism). Hampir dapat dipastikan bahwa negara-negara di dunia saat ini tidak berada pada ruang hampa ekonomi kapitalis, demikian pula halnya beberapa negara yang masih bertahan dengan ideologi sosialis komunis, sebut saja seperti negara Cina.

Negara Cina yang mengklaim diri sebagai negara berideologi sosialis komunis, namun praktek ekonominya secara jelas mempraktekan ekononi pasar bebas atau ekonomi kapitalis. We are living under vortex economic capiltalism, dan termasuk Indonesia yang menerima ideologi kapitalisme sebagai jalan hidup sistem ekonomi negara.

BACA : HRS Dan Gerakan 212 Dalam Pusaran Politik Indonesia

Indonesia memang tidak termasuk negara-negara Amerika Latin seperti negara Cuba dan lainnya yang masih gigih mempertahankan ideologi sosialnya, secara terseok-seok mempertahankan gempuran ideologi kapitalis dengan segala resiko politik dan ekonomi.

Namun demikian, beberapa negara Amerika Latin masih memiliki marwah atau martabat tetap mempetahankan harga diri sebagai negara independen secara politik dan ekonomi. Cuba misalnya, tidak ingin menjadi agen atau komparador dari hegemoni kapitalis.

Negara tidak ingin menjadi sandera dari kepentingan elite-elite ekonomi pasar yang hanya menguntungkan kelompok tertentu dari hasil eksploitasi sumber daya ekonomi dan politik dari suatu negara yang diintervensi oleh hegemoni kapitalis.

Apa pun pembacaan kita dari fenomena sejumlah negara Amerila Larin itu, negara itu masih memiliki warwah, martabat,harga diri dan tidak mempelacurkan negara atas nama demokrasi dan ideologi ekonomi pasar bebas.

Argumentasi Noreena Herzt (2005) mengofirmasi pemikiran di atas bahwa hegemoni kapitalisme global telah merampas independensi suatu negara secara politik dan ekonomi. Hegemoni kapitalisme semakin menguat di era demokratisasi.

Oleh karena itu, tidak aneh bila sejumlah negara kapitalis mengkapanyekan isu-isu demokrasi atau demokratisasi dan bahkan tidak dukungan finansialpun dikucurkan untuk mendukung proses demokratisasi suatu negara. Para negara kapitalis yang memiliki kuasa ekonomi telah menjadi negara yang sedang mengalami transisi demoktasi dari sistem otoriter menjuju demokrasi sebagai pesakitan (klien) yang perlu diinjeksi secara politik dan ekonomi.

BACA JUGA : Mengharumkan Uniska, Uhaib As’ad Masuk Deretan Editor Jurnal Internasional

Transisi demokrasi menjadi struktur kesempatan bagi negara kapitalis untuk membangun jaringan terutama memberikan bantuan dana atau hutang kepada negara. Negara-negara yang demokrasinya terseok-seok mangsa negara kapitalis dan menjadi jalan mulus untuk menguasa suatu negara terutama para pemimpin negara itu terperangkap dalam praktek korupsi (elite capture corruption).

Hal ini dapat dilihat beberpa negara di Afrika yang tersandera Cina dan pemimpinnya terjebat praktek korupsi dan hutang negara yang besar. Penguasa negara yang terjebak pusaran korupsi, negara mengalami the lack of democracy (kekacauan demokrasi). Isu-isu demokrasi atau demokratisasi yang dikampanyekan oleh sejumlah negara kapitalis sesunggunya hanyalah instrumen akal bulus untul menyadera suatu negara. Sekali lagi, situasi ini terjadi pada sejumlah negara di Afrika yang memiliki sumber daya alam yang pada akhirnya mengalami the lack of democracy.

Jebakan kampanye demokratisasi oleh negara kapitais, sekali lagi, hanyalah permainan akal bulus negara kapitalis. Salah satu jalan mulus untuk menguasa suat negara adalah memberikan pinjaman utang sampai negara tidak lagi mampu membayar utang.

BACA JUGA : Pasar Politik di Tengah Demokrasi yang Melelahkan

Negara yang terperangkap hutang, kualitas demokrasinya sangat rendah. Mengapa? Kontestasi demokrasi hanyalah sekedar formalisme saja. Pesta demokrasi yang hiruk-pikuk sekedar serimonial demokrasi semata yang sarat persekongkolan kepentingan para aktor politik.

Di sini berlaku teori bahwa pesta demokrasi sebagai arena untuk menunjukan kepada dunia bahwa negara itu adalah negara demokrasi bukan negara totaliter atau negara negara kerjaan yang tidak mengenal kontestasi atau pemiliahan umum.

Pasar judi politik global yang diskenarionakan oleh negara kapitalis adalah suatu strategi yang kelihat legal dan konstitusional namun menyampan sejumlah agenda kepetingan yang tersembunyi, terutama bagi negara yang memiliki sumber daya alam. Kontestasi demokrasi yang berbiaya tinggi suatu negara, prosedural dan formalisme lebih utama dari substantif.

Indonesia sebagai negara yang masih berada transisi demokrasi menjadi salah satu contoh kasus dalam membaca spektruk domokrasi saat ini. Proses demokrasi yang terjadi saat ini sesungguhnya bukan berdiri sendiri atau berada dalam ruang hampa kepentingan pihak asing. Apakah kita bisa mengatakan bahwa proses demokrasi tidak ada intevensi kepentingan pihak asing atau negara-negara kapitalis? Bukankah utang negara yang besar itu sebagai strategi dari pihak asing untuk menciptakan pelapukan demokrasi atau pembusukan politik (politival decay)? Masih banyak pertanyaan elementer yang bisa dikemukakan.

Secara teori, negara yang mengalami lack of democracy atau kualitas demokrasi yang rendah menjadi arena bagi negara kapitalis untuk mendikte negara itu dan menyusupkan agenda kepetingan ekonomi, politik dan kebijakan. Sudah dapat dipastikan suatu negara yang masuk dalam lingkaran kroni kapitalisme (crony capitalism) secara otomatis akan terkooptasi dalam ketidak berdayaan ekonomi dan politik.

BACA LAGI : Demi Stabilitas Nasional, Pakar Politik Uniska Sarankan Jokowi Terbitkan Perppu KPK

Pikiran-pikiran Professor Noreena Herzt dapat menjadi referensi dalam membaca etalase demokrasi di negeri ini. Buku The Silent Take Over menurut saya bukan buku teoritik tapi tidak lebih sebuah tumpahan refleksi pemikiran dari seorang Professor Filsafat dan Ekonomi dalam membacakan praktik demokrasi saat ini yang banyak dekendalikann oleh kekuatan kapitalis.

Lalu apa yang dapat kita pahami praktek demokrasi dan pembusukkan politik (political decay) di negeri ini menjelang Pilkada Serentak 2010 datang?(jejakrekam)

Penulis adalah Pengajar pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Kalimantan Banjarmasin

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.