ACT

Melacak Jejak Keraton Banjar, Apakah di Kuin atau Pulau Tatas?

0 290

PENELUSURAN komplek Istana atau Keraton dilakukan dosen muda Fakultas Teknik Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al Banjary, Adhi Surya Said untuk menguatkan hipotesis yang berkembang menyebutkan berada di Tanah Kuin, Banjarmasin Utara.

SEBAGAI raja pertama Kesultanan Banjar, Pangeran Raga Samudera (1520-1546) mengutip hipotesis begawan sejarah Banjar, Prof Idwar Saleh dari FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin didaulat sebagai Sultan Banjar pertama pada 24 September 1526 bertepatan dengan 6 Zulhijjah 932 Hijriyah.

“Sebagai putra berdarah biru dari Putri Galuh (Ratu Intan Sari), putri Maharaja Sukarama dari Kerajaan Negara Daha. Sedangkan, ayah Sultan Suriansyah merupakan Raden Mantri Alu, sangat wajar ketika akhirnya diangkat penduduk Bandarmasih (Kuin) ketika itu sebagai raja,” ucap Adhi Surya Said kepada jejakrekam.com di Banjarmasin, Rabu (20/11/2019).

BACA : Melacak Istana dan Ibunegeri Sultan Banjar di Tanah Kuin

Pegiat dunia arsitektur Banjar ini meyakini jika Istana atau Keraton Banjar yang pertama dibangun bukan berada di Muara Kuin seperti yang diyakini selama ini.

“Sebab, dalam Hikayat Banjar atau referensi maupun dokumen sejarah lainnya menyebut jika di Dermaga Bandarmasih itu merupakan kediaman penguasa Bandaramasih, yakni Patih Masih yang menjadi penggerak utama Kerajaan Banjar, pasca mengambilalihan kekuasaan dari Kerajaan Negara Daha berpusat di Marabahan,” tutur jebolan magister teknik Institut Teknologi Bandung (ITB).

Menurut dia, posisi Sungai Kuin yang terhubung dengan Sungai Martapura, tepatnya berada di delta Tatas merupakan letak posisi istana pertama Raja Banjar dari era Sultan Suriansyah hingga diwariskan kepada dua penerusnya, Sultan Hidayatullah dan Sultan Hidayatullah.

“Baru ketika era Sultan Mustainbillah berkuasa di Tanah Banjar, istana yang ada dipindahkan ke Teluk Selong, Martapura,” kata Adhi Surya.

Keyakinan pegiat sejarah Banjar ini adalah pada masa Sultan Mustainbillah (1595-1642), baru Keraton Banjar berpindah ke Martapura, usai digempur VOC Belanda dalam misi balas dendam.

“Patut dicatat, di masa Sultan Suriansyah hingga Sultan Hidayatullah, baru VOC Belanda masuk ke Tanah Banjar. Jadi, dari raja pertama hingga ketiga, sebenarnya bebas dari ancaman kolonialisme,” tutur Adhi Surya.

BACA JUGA : Melintas Batas Benteng Tatas, Dibina Inggris hingga Bumi Hangus

Dengan keyakinan dari posisi strategis Pulau Tatas, Adhi mengatakan saat itu, Sungai Kuin sebagai muara dari Sungai Martapura merupakan jalur perdagangan dan pemerintahan, , hingga ujungnya berada di Sungai Barito ke Laut Jawa.

“Jadi, Benteng Tatas itu dibangun era Kesultanan Banjar, bukan dibangun VOC Belanda atau dibangun Inggris, karena tipikal Belanda biasanya mengambil posisi yang strategis untuk mengontrol kerajaan-kerajaan di Nusantara. Ya seperti Benteng Rotterdam di Makassar, atau benteng-benteng lainnya di Pulau Jawa, seperti Batavia dan Banten,” kata Adhi Surya.

Hipotesis dosen muda ini juga terkait dengan keberadaan Sungai Kuin sebagai Syahbandar dan tempat berkumpulnya pasukan Kesultanan Banjar. Hal ini ditandai dengan adanya alun-alun dan tempat latihan berkuda yang didatangkan dari Bima (Mataraman) di kawasan pertigaan Sungai Kuin-Sungai Pangeran.

“Peninggalan arsitektur jika Benteng Tatas merupakan pusat pemerintahaan Kesultan Banjar adalah bangunan rumah Banjar yang berdiri di sepanjang Sungai Kuin hingga Sungai Martapura. Jadi, kawasan Kuin itu merupakan kawasan pelabuhan, sedangkan posisi istana atau pusat pemerintahan berada di Pulau Tatas. Model ini juga diterapkan era kerajaan sebelumnya, ketika Marabahan atau Muara Bahan merupakan syahbandar Kerajaan Negara Daha, namun pusatnya berada di Danau Panggang,” kata Adhi Surya.

Menurut dia, artefak atau peninggalan di kawasan Pulau Tatas yang kini berdiri Masjid Raya Sabilal Muhtadin, justru ditemukan tumpukan bata merah serupa dengan yang ditemukan di kawasan Kuin Utara, seputar kawasan Makam Sultan Suriansyah.

BACA JUGA : Dipesan VOC Belanda, Meriam Eks Benteng Tatas Buatan Pabrik Besi Skotlandia

“Dari kesimpulan sementara, saya meyakini jika posisi Keraton Sultan Banjar itu berada di kawasan Pulau Tatas, bukan benteng Belanda yang selama ini diyakini. Karena, ketika ada penyerahan tanah itu, baru Belanda membinanya ketika Banjarmasin menjadi kota kolonial. Namun, awalnya merupakan Tanah Sultan,” tutur Adhi.

Menurut dia, dari 11 bentukan atau arsitektur Banjar yang disepakati para ahli rancang bangunan tradisional, justru banyak terdapat di sepanjang Sungai Kuin dan Sungai Martapura, yang membuktikan jika posisi Pulau Tatas itu sangat penting di masa kesultanan.(jejakrekam)

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.