ACT

Berburu Kosa Kata, Dosen UPR Susun Kamus Bahasa Bakumpai-Indonesia

0 274

KAMUS dwibahasa Bakumpai-Indonesia telah berhasil disusun akademisi Universitas Palangka Raya (UPR) Iwan Fauzi, setebal 280 halaman yang dipublis pada Maret 2019. Bahkan, kamus yang memuat 5.000 entri dan subentri kata dasar ini telah mengantongi ISBN 978-623-7145-50-9, terbitan Araska Publisher Yogyakarta.

MANTAN Walikota Palangka Raya HM Riban Satia yang juga Ketua Dewan Adat Dayak Kota Palangka Raya periode 2012-2017 memberi sambutan dalam kamus yang disusun Iwan Fauzi. Diterbitkan Pemkot Palangka Raya bersama Pusat Kaiian Bahasa Daerah dan Budaya Kalimantan Tengah, menjawab kegelisahan akan punahnya bahasa ibu asli Borneo.

Dosen bahasa Inggris FKIP Universitas Palangka Raya berupaya melestarian bahasa Bakumpai, karena dalam nadinya mengalir darah subetnis Dayak Ngaju. Lahir di Tumbang Samba, Kabupaten Katingan, Iwan Fauzi pun melacak dan merekam kosa kata dan dialek dalam bahasa Bakumpai, hingga lahir kamus dwibahasa dengan sampul hitam merah itu.

BACA : Melawan Ancaman Kepunahan, KKB Gagas Bikin Kamus Bahasa Bakumpai

“Dalam menyusun kamus bahasa Bakumpai-Indonesia tidak semudah yang dibayangkan. Sebab, secara keseluruhan telah berhasil menghimpun dan menyusun hampir 5.000 kosa kata Bakumpai beragam dialek,” ucap Iwan Fauzi kepada jejakrekam.com, Selasa (12/11/2019).

Ia pun memulai pemburuan kosa kota dengan melakoni riset kecil di Kota Marabahan, Kabupaten Barito Kuala (Batola) Kalimantan Selatan dengann berkomunikasi dengan warga.

Diajak bercakap dan semua direkam, terutama warga-warga asli di Ulek Marabahan. Menurut Iwan, dalam Kamus Bakumpai-Indonesia telah mewakili bahasa tutur masyarakat Bakumpai mulai dari Muara Barito hingga ke Hulu Barito, wilayah Kalimantan Tengah.

BACA JUGA : Baru Ada Empat Kamus Bahasa Daerah, Bahasa Berangas di Ambang Punah

Ahli linguistik jebolan Universitiet Radboud Nijmegen, Belanda mengatakan setelah mengantongi data kosa kata di Marabahan, selanjutnya mengajak mahasiswa dari Buntok (Barito Selatan), Muara Teweh (Barito Utara) dan Barito Hulu untuk menghimpun kosa kata Bakumpai yang lazim digunakan di daerah itu.

Ia mengakui masih ada kosa kata Bakumpai yang masih belum terangkum terutama kosa-kata arkais yang mulai jarang digunakan. “Ada rencana menyempurnakan kamus ini, apalagi saya berniat membikin lagi kamus Indonesia-Bakumpai sehingga kosa kata yang belum masuk kita masukkan ke kamus,” kata Iwan.

Hanya saja, Iwan mengaku masih terkendala dana, karena belum ada donator yang membantu dalam menyusun kamus bahasa Bakumpai-Indonesia yang disempurnakan. “Kamus Bakumpai-Indonesia didanai dari Pemkot Palangkaraya, mudahan ada sponsor yang mau mensupport penyusunan Kamus Indonesia-Bakumpai,” beber Iwan.

BACA LAGI : Hikayat Sang Penyusun Kamus Bahasa Banjar, Prof Djebar Hapip

Iwan menginginkan Kamus Bakumpai-Indonesia bisa didiskusikan lebih lanjut terutama pakar bahasa daerah guna untuk menyempurnakan kamus tersebut.

“Kalau memungkinkan saya mau membikin semacam seminar, untuk meminta masukan dengan pakar dan masyarakat Bakumpai, baik untuk kamus ini maupun usaha-usaha pelestarian Bahasa Bakumpai,” beber Iwan.

Selain Kamus Bahasa Bakumpai-Indonesia, Iwan mengikuti kursus singkat leksikografi di Jakarta pada 9-28 Agustus 2004 digelar Majelis Bahasa Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia (MABBIM), juga telah menyusun kamus bahasa lainnya.

Antara lain, Kamus Pelajar Dayak Ngaju-Indonesia (Edisi 1-2015), Kamus Bahasa Pembuang-Indonesia (2016),  Kamus Pelajar Dayak Ngaju-Indonesia: Indonesia-Dayak Ngaju (Edisi 2-2017), serta Kamus Pelajar Tribahasa, Dayak Ngaju-Indonesia-Inggris, cetakan tahun 2016.(jejakrekam)

Penulis Ahmad Husaini
Editor Didi GS

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.