ACT

Tradisi Baayun Maulid di Kubah Basirih Diikuti Warga Pekanbaru

0 134

TRADISI Baayun Maulid digelar di Komplek Kubah Basirih, Jalan Basirih, benar-benar berlangsung meriah dan sakral, Sabtu (9/11/2019). Peserta pun datang tak hanya dari Banjarmasin, namun juga beberapa kota di luar Kalimantan Selatan.

TRADISI yang terus dilestarikan masyarakat Banjarmasin untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW ini pada 12 Rabiul Awal ini, menjadi suguhan menarik. Kemasan wisata religi ini pun mendatangkan banyak pengunjung.

Bahkan, peserta Baayun Maulid datang dari Jakarta. Amanda, misalkan ikut merasakan tradisi yang lekat dengan masyarakat Banjar. Dia pun ikut berayun di seuntai kain berhias pernak-pernik di kawasan Kubah Basirih.

Sedangkan, peserta baayun tertua diikut Rusminah (70 tahun), warga Kelayan Banjarmasin. Termuda atas nama Sayyid Ahmad Kabir, bayi berusia tiga tahun.

BACA : Baayun Maulid Ungkapan Rasa Syukur Kelahiran Nabi Muhammad SAW

“Kami sekeluarga tiap tahun mengikuti tradisi Baayun Maulid di Kubah Basirih. Ya, ini tradisi yang harus kita jaga karena berbarengan peringatan Maulid Nabi SAW,” ucap Hasnah, warga Kelayan kepada jejakrekam.com, Sabtu (9/11/2019).

Walikota Banjarmasin Ibnu Sina yang hadir pun mengaku gembira dengan antusiasme warga mengikuti tradisi Baayun Maulid. Bahkan, orang nomor satu di Banjarmasin ini memberi hadiah bagi peserta Baayun Maulid yang termuda dan tertua. “Tradisi Baayun Maulid ini hanya ada di Kalimantan Selatan. Bahkan, tradisi ini sudah berlangsung lebih dari 100 tahun,” ucap Walikota Ibnu Sina.

Tak hanya menarik warga Banjarmasin, beberapa warga lainnya seperti asal Pekanbaru (Riau), Jakarta, Kuala Kapuas dan Palangka Raya dari Kalimantan Tengah juga turut membaur bersama peserta tradisi tahunan ini.

BACA JUGA : Ba’ayun Maulid Masjid Sultan Suriansyah Diikuti 1.070 Warga

Nihry Mangkuto, peserta Baayun Maulid asal Pekanbaru mengaku senang bisa merasakan even tahunan di kawasan bersejarah di Banjarmasin.

“Saya berharap tradisi semacam ini terus dijaga. Karena memang hanya ada di Kalimantan Selatan, khususnya Banjarmasin. Daerah lain tentu berbeda dalam memperingati Maulid Nabi SAW,” ucap Nihry.

Ritual ini pun diabadikan sejumlah fotografer, ketika melihat warga berjejer di atas ayunan terbuat dari kain sari gading kuning atau tapih bahalai dihiasi anyaman daun kelapa. Seketika itu, shalawat kepada Nabi Muhammad SAW pun bergema di kawasan Kubah Basirih, di tengah pusara ulama kesohor Banjarmasin yakni Habib Hamid bin Abbas Bahasyim.(jejakrekam)

 

Penulis Sirajuddin
Editor Didi GS

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.