ACT

9 November 1945, Medan Laga Pasukan Berani Mati BPRIK Amin Effendy

0 307

PASUKAN berani mati yang dikomando Amin Effendy menyerang tangsi militer NICA di Jalan Jawa, kini menjadi Markas Polda Kalimantan Selatan Jalan DI Panjaitan, pada 9 November 1945. Hari itu, hari Jumat keramat, pertempuran tak seimbang mengakibatkan 9 nyawa kesuma bangsa melayang.

SELAMA 74 tahun, peristiwa heroik para pemuda tergabung dalam Barisan Pemberontakan Republik Indonesia Kalimantan (BPRIK), nyaris dilupakan generasi sekarang. Padahal, Jumat membara itu lebih awal dua hari dibandingkan peristiwa serupa di Kota Surabaya, pada 10 November 1945 yang diperingati sebagai Hari Pahlawan itu.

Sembilan kesuma bangsa yakni Badran, Badrun, Utuh, Umur, Ta’in, Juma’in, Sepa, Dulah, dan Pak Ma’rupi, harus merenggang nyawa. Mirisnya, kini di bekas Markas BPRIK itu seakan tak terurus, dibiarkan rumah bergaya arsitektur tradisional Banjar, lapuk dengan sendirinya.

Putra tokoh BPRIK Amin Effendy, Alimun Hakim pun mengakui saat ini para pejuang yang terlibat dalam peristiwa 9 November, bisa dihitung dengan jari. Ada yang telah wafat, sebagian lagi sakit-sakitan karena sudah uzur.

BACA : Mengenang Peristiwa 9 November, Para Zuriat Pejuang Gelar Haul Jamak

Menurut dia, para pemuda tergabung dalam BPRIK benar-benar berani mengorbankan jiwa dan raga untuk mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 yang dibacakan Dwi Warna; Soekarno-Hatta di Jakarta.

Ketika itu, perlawanan dengan mengangkat senjata dilakukan para pemuda Banjarmasin dan sekitarnya terhadap keberadaan NICA-Belanda yang membonceng tentara Australia yang ditugaskan melucuti serdadu Jepang yang menyerah pasca kalah Perang Pasific di Banjarmasin.

Awalnya, dua jalur perlawanan dilakukan para pejuang. Melobi tentara Australia untuk mendukung mempertahankan kemerdekaan. Terbukti, gedung kampus Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), dan kini ditempati Bank Mandiri Syariah menjadi gudang persenjataan untuk menyerang NICA Belanda.

Hingga pertempuran pun meletus, titik serangan  disepakati adalah tangsi polisi kemudian merembet ke Markas Kompi Betet, dan terakhir Kompi X milik NICA-Belanda, berada di luar Benteng Tatas. Pejuang berdatangan dari Banua Anyar, Pasar Lama, Pengambangan, serta pejuang Alam Roh dan Cintapuri turut bergabung menyerang pos-pos militer Belanda.

BACA JUGA : Ahli Waris Pejuang Minta Tugu 9 November 1945 Ditinggikan

Pasukan dibagi untuk sayap kiri dipimpin Mas Untung Sabri dengan kekuatan 110 orang. Lalu, sayap kanan dikomando Panglima Halid Tafsiar dengan kekuatan 90 orang, tergabung pula orang-orang Cintapuri yang dikenal kebal peluru. Sedangkan, pasukan inti dikendalikan Amin Effendy sendiri dengan dukungan 300 pejuang.

Dalam buku Sejarah Banjar yang disusun M Suriansyah Ideham dkk (2003), diungkapkan alasan serangan di siang hari ingin membuktikan kepada Belanda, jika para pejuang bukanlah perampok seperti yang diisukan di tengah masyarakat. Sebab, para pejuang ingin menunjukkan khususnya Kalimantan di Banjarmasin itu tetap mendukung kemerdekaan Republik Indonesia.

Menurut versi Alimun, serangan awal itu dimulai pukul 14.00 Wita, usai shalat Jumat 9 November 1945. Sayap tengah yang dipimpin Amin Effendy mengepung tangsi polisi NICA di Jalan Jawa (kini jadi markas Polda Kalsel). Belanda pun menurunkan panser-pansernya dan memuntahkan peluru panas menerjang para pejuang yang maju menyerang.

Rupanya, pertahanan tangsi polisi NICA ini sangat kuat, karena didukung senjata semi otomatis dan panser. Makanya, Amin Effendy dan para pejuang memilih merembes ke markas Belanda, Kompi Betet (kini ditempati Korem 101/Antasari) di Jalan Jawa (sekarang Jalan DI Panjaitan).

Serangan para pejuang juga menjalar ke markas Kompi X yang berada di Kelayan. Ada 150 serdadu NICA-Belanda berusaha menangkis serangan mendadak para pejuang tersebut.

Bala bantuan pun datang. Sayap kiri di bawah komando Mas Untung yang mula-mula menyerang ke pertahanan Belanda berkekuatan 250 tentara, lalu menuju markas Kompi X. Pergerakan menuju titik serang juga dijalankan pasukan Panglima Halid Tafsiar, juga menuju markas Kompi X.

“Dari sini, aksi peperangan terjadi. Menurut ayah saya, pertempuran ini berlangsung empat jam lebih. Sebab, dari pukul 14.00 hingga 18.30 Wita, para pejuang dengan senjata api dan parang, tombak, Mandau, dan keris maju bertempur menghadapi Belanda yang bersenjata modern dan dilindungi panser,” tutur Alimun kepada jejakrekam.com, Sabtu (9/11/2019).

BACA LAGI : Ziarah dan Tabur Bunga di Tugu 9 November 1945

Gara-gara tak seimbang dari segi persenjataan, ada sebagian pejuang memilih mundur dari laga. Dari perang yang berkecamuk itu, telah gugur kesuma bangsa dari pertempuran 9 November 1945, seperti Badran, Badrun, Utuh, Umur, Ta’in, Juma’in, Sepa, Dulah, dan Pak Ma’rupi. Sang panglima sayap kanan, Halid Tafsiar tertangkap. “Sedangkan, ayah saya (Amin Effendy) tertembak peluru Belanda,” ujar Alimun.

Ia ingat betul, sang ayah dipapah para pejuang menuju markas sayap tengah di rumahnya yang berarsitektur Banjar di Jalan Jawa. Termasuk, para pejuang yang harus “berpalas” darah, akibat terjangan peluru dari senjata otomatis dan semi modern milik NICA-Belanda.

“Waktu itu, dari cerita ayah saya dan para pejuang lainnya, rumah kami ini bersimbah darah. Bahkan, ada yang gugur dalam rumah ini,” ucap Alimun, sembari menunjuk halaman depan rumahnya, kini banyak ditempati kios dan warung makan.

Peristiwa itu dikenang dengan haul jamak dan dialog di kediaman Kapten Amin Effendy (Panglima Laskar BPRIK), Jalan DI Panjaitan dilanjutkan dengan tabur bunga bersama para veteran dan elemen militer dan polisi di Tugu Mini 9 November 1945 pada Sabtu (9/11/2019).

Alimun berharap semangat juang yang diwariskan para pemuda BPRIK dan syuhada itu harus bisa jadi pegangan generasi sekarang, agar tak melupakan sejarah panjang mempertahankan kemerdekaan ditebus dengan pengorbanan jiwa dan raga.(jejakrekam)

Penulis Siti Nurdianti
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.