ACT

Syekh Abdussamad Syahid di Medan Jihad Pattani Kontra Siam (2-Habis)

0 96

SYEKH Abdussamad Al-Falimbani (Palembang) sebenarnya berkeinginan untuk turut berjuang mengusir penjajah kolonial Belanda di tanah air. Namun, akhirnya, ulama yang merupakan sahabat karib Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary ini memilih membantu masyarakat Pattani dan Kedah dalam berjuang mengusir aksi agresi Kerajaan Siam.

SEJARAWAN Islam asal UIN Antasari Banjarmasin, Humaidy Ibnu Sami mengungkapkan sepulang dari menimba ilmu dari Tanah Suci Makkah, Syekh Abdussamad berhasrat untuk pulang ke Nusantara, turut membantu perlawanan rakyat mengusir penjajah Belanda.

“Ini merupakan cita-citanya yang lama untuk turut berjihad melalui kolonialisme di Nusantara. Namun, dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Syekh Abdussamad tertarik membantu umat Islam di Pattani dan Kedah melawan keganasan Kerajaan Siam yang ingin mencaplok dua wilayah itu,” ucap Humaidy Ibnu Sami kepada jejakrekam.com, Jumat (8/11/2019).

Dalam laga jihad itu, Humaidy mengatakan banyak catatan menyebut Syekh Abdussamad sebagai Panglima Melayu. Namun, ada catatan menarik lainnya yang menyebut jika Syekh Abdussamad memposisikan diri sebagai ulama yang mendampingi Panglima Melayu sebagai penasihat spiritual dalam perlawanan kontra Kerajaan Siam.

BACA : Empat Serangkai Tanah Jawi yang Disegani Ulama Tanah Suci (1)

“Syekh Abdussamad merupakan seorang ulama sufi yang sentiasa berwirid, bertasbih, bertahmid, bertakbir dan bershalawat setiap siang dan malam. Jadi, posisinya sebagai penasihat spiritual dalam peperangan itu,” tutur Humaidy.

Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari ini mengatakan di sela kesibukannya dalam berjihad, justru masih menyempatkan diri menulis beberapa kitab berbahasa Melayu.

Humaidy menyebut sedikitnya ada 15 kitab yang disusun ulama besar ini. Beberapa kitab susunan Syekh Abdussamad itu antara lain berjudul Zahratul Murid fi Bayani Kalimatit Tauhid, 1178 H/1764 Masehi. Risalah lainnya yang menyatakan sebab diharamakan bagi nikah pada 1179 H/1765 M.

BACA JUGA : Jejak Syekh Muhammad Arsyad di Tanah Betawi

Yang terkenal adalah Kitab Hidayatus Salikin fi Suluki Maslakil Muttaqin, 1192 H/1778 M serta Siyarus Salikin ila ‘Ibadati Rabbil ‘Alamin, 1194 H/1780 M-1203 H/1788 M. Kemudian, Al-‘Urwatul Wutsqa wa Silsiltu Waliyil Atqa serta Ratib Syekh ‘Abdussamad al-Falimbani. Kitab ketujuh adalah berjudul  Nashihatul Muslimina wa Tazkiratul Mu’minina fi Fadhailil Jihadi wa Karaamatil Mujtahidina fi Sabilillah.

Kitab-kitab lainnya karya Syekh Abdussamad adalahAr-Risalatu fi Kaifiyatir Ratib Lailatil Jum’ah, Mulhiqun fi Bayani Fawaidin Nafi’ah fi Jihadi fi Sabilillah, Zatul Muttaqin fi Tauhidi Rabbil ‘Alamin, ‘Ilmut Tasawuf, Mulkhishut Tuhbatil Mafdhah minar Rahmatil Mahdah ‘Alaihis Shalatu was Salam, Kitab Mi’raj, 1201 H/1786 M, Anisul Muttaqin hingga Puisi Kemenangan Kedah.

Diakui Humaidy, untuk menelusuri tahun pasti wafatnya Syekh Abdussamad, cukup banyak beragam versinya. Mengutip pendapat Dr M Chatib Quzwain dalam bukunya “Mengenal Allah Suatu Studi Mengenal Ajaran Tasauf Syekh Abdussamad al-Falimbani” pada tahun 1244 Hijriyah atau 1828 Masehi dikatakan umur Syekh Abdussamad sekitar 124 tahun.

“Sedangkan, Dr Azyumardi Azra menulis: meskipun saya tidak dapat menentukan secara pasti angka-angka tahun di seputar kehidupannya, semua sumber bersatu kata bahwa rentang masa hidup Al-Falimbani adalah dari dasawarsa pertama hingga akhir abad kedelapan belas,” beber Humaidy.

BACA JUGA : Gelar Al Banjary dan Budaya Lokal dalam Ijtihad Syekh Muhammad Arsyad

Berbeda, Al-Baythar menyatakan Al-Falimbani meninggal setelah 1200 hijriyah atau 1785 Masehi. Tetapi kemungkinan besar, wafat setelah 1203 Hijriyah atau 1789 Masehi, setelah dia menulis karya terkenalnya ‘Sayr Al-Salikin’. Saat itu, usianya diperkirakan berkisar 85 tahun.

Humaidy juga mengetengahkan sumber di Kedah yang menyebut Syekh Abdussamad terbunuh dalam perang melawan Thailand pada 1244 Hijriyah atau 1828 Masehi.

Lalu di mana Syekh Abdul Samad dimakamkan? Humaidy kembali mengutip pendapat Dr M Chatib Quzwain menyebut makam Syekh Abdussamad di Palembang, tapi di Palembang belum didapatkan informasi di mana makamnya.

BACA LAGI : Mengenal Metode Instinbath yang Digunakan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari

Sementara, Dr Azyumardi Azra menulis ada kesan kuat dia meninggal di Arabia. Tetapi, yang jelas, seperti ditulis penyair Malaysia yakni Muhammad Abdulloh bin Suradi dalam artikelnya “Syekh Abdussamad Al-Falimbani, Ulama, Sufi dan Syuhada” masyarakat di Pattani mengklaim telah menemukan makam Syekh Abdusaamad di antara kampung Sekom dengan Cenak di kawasan Tiba, Pattani Utara, Thailand.

“Makam Syekh Abdussamad berada di tengah hutan, karena beliau dulu ikut serta dalam perjuangan melawan Kerajaan Siam Budha Thailand yang ingin merebut tanah Melayu Pattani. Kini, Pattani menjadi bagian negara Thailand,” ujarnya.

Sedangkan, beber dia, Syekh Abdussamad Al-Falembani mati syahid ketika berjuang bersama tentara Melayu Kedah melawan Tentara Kerajaan Siam Budha Thailand.(jejakrekam)

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.