ACT

Empat Serangkai Tanah Jawi yang Disegani Ulama Tanah Suci (1)

0 366

MENIMBA ilmu di Tanah Haramain, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary, Syekh Abdurrahman Al Misri Al-Batawi, Syekh Abdul Wahab Bugis dan Syekh Abdussamad Al-Falimbani (Palembang) terkenal dengan julukan Empat Serangkai dari Tanah Jawi di Tanah Suci Makkah.

PENELITI sejarah Islam asal UIN Antasari Banjarmasin, Humaidy Ibnu Sami mengungkapkan dari kapasitas keilmuan empat serangkai sangat mumpuni di bidang agama. Apalagi, dalam menuntut ilmu memilih baik guru sebagai panduan.

“Keberadaan empat serangkai cukup disegani  ulama-ulama yang ada di Makkah dan Madinah pada masa itu. Terutama pada abad ke-18 dan ke-19,” ucap Humaidy Ibnu Sami kepada jejakrekam.com, Kamis (7/11/2019).

Khusus Syekh Abdussamad sendiri lahir di Palembang pada 1116 Hijiriyah atau 1704 Masehi. Menurut Humaidy, masyarakat Palembang, termasuk pula keturunannya, menyebut namanya Syekh Abdul Samad Al-Falembani.

BACA : Jejak Syekh Muhammad Arsyad di Tanah Betawi

Budayawan Nahdlatul Ulama (NU) mengungkapkan ada tiga nama lain yang menyebutkan ulama besar asal Palembang ini. Yakni, berdasar Ensiklopedia Islam, namanya Abdussamad Al-Jawi Al-Falembani. Sedangkan, dari sumber -sumber Melayu, termasuk ditulis Azyumardi Azra dalam bukunya ‘Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, tersebut namanya  adalah Abdussamad bin Abdullah Al-Jawi Al-Falembani.

“Berdasar tulisan Azyumardi Azra, apabila merujuk pada sumber-sumber Arab, namanya Sayyid Abdussamad bin Abdurrahman Al-Jawi. Jelas dari garis keturunan bapak, masih keturunan Arab. Nama bapaknya adalah Syekh Abdul Jalil bin Syekh Abdul Wahhab bin Syekh Ahmad Al-Mahdani, berasal dari Yaman,” tutur Humaidy.

BACA JUGA : Cinta Mendalam untuk Syekh Samman, Lautan Manusia di Masjid Sabilal Muhtadin

Sebelum ke Palembang, Humaidy mengatakan ayah Syekh Abdussamad pernah mampir dahulu di Kedah, Malaysia. Di tempat ini, Syekh Abdul Jalil menikahi Wan Zainab, putri Dato Sri Maharaja Dewa.

“Sedangkan, ibunya adalah Radin Ranti, seorang perempuan Palembang. Jadi jika dilihat garis keturunan ibu, Syekh Abdussamad keturunan Palembang. Seperti para ulama di masanya, Syekh Abdussamad ini banyak melakukan pengembaraan dalam menuntut ilmu. Baik di Nusantara maupun di negeri yang jauh, seperti Arab,” urai Humaidy.

Magister pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini mengatakan guru pertama Syekh Abdussamad adalah orangtuanya sendiir, Syekh Abdul Jalil. Kemudian, Abdussamad kecil di sekolahkan di sebuah pondok pesantren di Negeri Pattani, Thailand.

“Saat itu, Pattani merupakan salah satu tempat menempa ilmu-ilmu keislaman dengan sistem pondok. Mungkin saja, Syekh Abdussamad bersama saudaranya seperti Wan Abdullah dan Wan Abdul Qadir telah memasuki pondok-pondok yang terkenal saat itu, seperti Pondok Bendang Gucil di Kerisik, Pondok Kuala Bekah atau Pondok Semala,” beber staf senior LK3 Banjarmasin ini.

BACA LAGI : Islam Banjar Perpaduan Kultur Demak dan Samudera Pasai

Menurut dia, di antara para gurunya di Pattani, Thailand ketika itu dapat diketahui dengan jelas hanya Syekh Abdurrahman bin Abdul Mubin Pauh Bok.

“Dari ulama ini, Syekh Abdussamad mempelajari ilmu tasawuf dari Syekh Muhammad bin Samman. Selain itu, juga mendalami kitab-kitab tasawuf dari Syekh Abdul Rauf Singkel dan Syekh Samsuddin Al-Sumatrani. Keduanya merupakan ulama besar asal Aceh,” papar Humaidy.

Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari ini mengatakan dari  Pattani, Syekh Abdussamad berlanjut belajar ke Makkah dan Madinah.

“Di Tanah Suci ini, Syekh Abdussamad kemudian mengenal ulama asal Nusantara seperti Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Syekh Abdurrahman Al-Masri Al-Batawi, Syekh Abdul Wahab Bugis serta Syekh Daud Al-Fattani,” tutur Humaidy.

BACA LAGI : Datu Kandang Haji, Pengasas Pendidikan Islam Tertua Tanah Banjar

Walau menetap di Makkah, Syekh Abdussamad berdasar tulisan Azyumardi, tetap memberikan perhatian besar pada perkembangan sosial, politik, dan keagamaan di Nusantara. “Gurunya di Makkah dan Madinah antara lain Syekh Muhammad bin Abdul Karim Al-Sammani, Syekh Muhammad bin Sulayman Al-Kurdi dan Syekh Abdul Al-Mun’im Al-Damanhuri,” ungkap Humaidy.

Selain itu, Syekh Abdussamad berguru bersama tiga sahabatnya dengan Syekh Ibrahim Al-Rais, Syekh Muhammad Murad, Syekh Muhammad Al-Jawhari, dan Syekh Athaillah Al-Mashri.(jejakrekam/bersambung)

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.