ACT

Berziarah ke Makam Gus Dur dan Guru Sekumpul yang Membawa Berkah

0 248

TRADISI berziarah ke makam para wali atau auliya atau ulama kesohor tak terpisahkan dari kultur masyarakat Indonesia, khususnya komunitas muslim yang identik dengan kaum sarungan.

ADA dua episentrum makam ulama yang hingga kini masih diziarahi umat Islam, di samping makam Wali Songo atau ulama-ulama di Nusantara adalah makam Syekh Muhammad Zaini Abdul Ghani atau Guru Sekumpul di Martapura, Kalimantan Selatan.

Sedangkan, di Pulau Jawa adalah makam KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Presiden RI ke-4 yang juga tokoh ormas Islam terbesar, Nahdlatul Ulama (NU).

Azzam Anwar, mahasiswa S3 Universitas Groningen Belanda yang merupakan peneliti pusat wisata religi baru di Indonesia pasca reformasi dan Ustadz Khairullah Zain, alumni Ponpes Darussalam yang merupakan santri Guru Sekumpul, berbagi pengetahuan dalam diskusi bertajuk Ziarah dan Wali; Cerita dari Makam Guru Sekumpul dan Gus Dur di Kampung Buku, Jalan Sultan Adam, Banjarmasin, Senin (4/11/2019) malam.

BACA : Ada Rider Muslimah, Intan-Go Layani Rute Ziarah ke Makam Wali

Menurut Azzam Anwar, pengaruh Gus Dur masih sangat besar di kalangan umat Islam, khususnya kaum sarungan. Ini tergambar, ketika Gus Dur wafat dan dimakamkan di kawasan Ponpes Tebung Ireng, Jombang, Jawa Timur, hampir 100 hari ponpes terbesar di kota itu lumpuh, karena banyak yang berziarah ke makam Gus Dur.

“Bahkan, ini diluar perkiraan pihak pengasuh Ponpes Tebung Ireng Jombang yang memprediksi para penziarah itu hanya mendatangi selama tujuh hari. Ternyata, justru lebih dari 100 hari, mereka memadati makam Gus Dur untuk bertakziyah,” tutur Azzam Anwar.

Tak hanya itu, kunjungan para penziarah justru makin hari makin bertambah, hingga berlangsung selama 24 jam.

“Tentu saja, dampak yang dirasakan warga sekitar Ponpes Tebung Ireng adalah dari sisi perekonomian. Kedatangan para penziarah itu membawa berkah, menghidupkan warung-warung  dan perputaran uang hingga Rp 100 juta sampai Rp 200 juta per pekan. Ini belum ditambah, penghitungan infak yang dikumpulkan pengelola untuk keperluan haul Gus Dur,” tutur Azzam Anwar.

Menurut dia, wajah Ponpes Tebung Ireng yang awalnya pusat pembelajaran Islam tradisional dan tempat bersejarah berubah drastis. “Ini karena hampir tiap hari, jumlah penziarah yang datang ke makam Gus Dur di Jombang mencapai 3.000 orang per hari,” tuturnya.

BACA JUGA : Akhiri Syaban dengan Ziarah Kubur, Ketua MUI Kalsel : Bisa Lembutkan Hati dan Ingat Mati

Makin bertambah ketika mendekati bulan Ramadhan. Atas dasar itu, Azzam mengungkapkan dari hasil risetnya, pemerintah daerah setempat pun menjadikan kawasan makam Gus Dur sebagai sentra wisata religi di Jombang.

“Naiknya pendapatan itu juga dirasakan para tukang parkir yang dulu bekerja jadi kernet bus dengan penghasilan rata-rata Rp 2 juta, ketika itu. Ini belum lagi, para penjaga parkir resmi di kawasan makam Gus Dur di Jombang,” ucap Azzam.

Dengan pendapatan jutaan rupiah itu, Azzam mengatakan para penjaga parkir dan lainnya turut merasakan berkah dari efek spiritual keberadaan makam Gus Dur.

Setali tiga uang, Ustadz Khairullah Zain mengungkapkan tradisi ziarah ke makam wali atau ulama dalam tradisi Banjar disebut dengan ‘baelang’.

“Berdasar Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ziarah merupakan kunjungan ke tempat yang dianggap keramat. Jadi, kata ziarah ini sudah berbeda artinya antara bahasa Indonesia dengan bahasa Arab,” papar Khairullah.

BACA JUGA : Mewujudkan Kampung Wisata Religi, Wilayah Kubah Basirih Terus Dipercantik

Ia mengakui fenomena berziarah ke makam para ulama atau wali di Kalimantan Selatan, sebenarnya tak seramai sekarang. Menurut dia, di bawah tahun 1990-an, justru kebanyakan terpusat ke makam Datu Kalampayan (Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary) di Kalampayan, Martapura Timur.

“Ketika Guru Sekumpul hijrah dari Keraton ke Sekumpul, Martapura pada 1992,  banyak yang mencontoh apa yang dilakukan Guru Sekumpul yang gemar berziarah ke makam-makam wali yang ada di Kalimantan. Tradisi ini pun terjaga sampai sekarang,” papar Khairullah.(jejakrekam)

Penulis Ricky Fahriza
Editor Didi GS

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.