ACT

Kaya Kosa Kata, Secara Linguistik Bahasa Bakumpai Serupa Bahasa Bajau

0 193

DI ERA era saat ini, penggunaan bahasa Bakumpai dalam kehidupan sehari-hari mulai ditinggal oleh sebagian masyarakat, khususnya di kalangan milenial.

HAL ini diakui sosiolog dan antropolog Universitas Lambung Mangkurat Nasrullah dalam diskusi terpumpun yang dihelat Kerukunan Keluarga Bakumpai (KKB) di Banjarmasin, Sabtu (2/11/2019) lalu.

Nasrullah menyebut bahasa Bakumpai terancam punah ditelan zaman bukan isapan jempol belaka. Hal ini tergambar dengan realita di sejumlah kampung-kampung Bahasa bakumpai mulai ditinggalkan sebagai bahasa tutur masyarakat, digantikan bahasa tutur lainnya.

“Ada satu generasi milenial yang mulai mengkonversi bahasa ibu bahasa Bakumpai dengan menggunakan bahasa daerah lain. Selain karena pengaruh bahasa daerah lain, bahasa Bakumpai  akan mengalami kontestasi dengan bahasa Indonesia yang didoktrin secara masif oleh negara,” urai magister antropolog jebolan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

BACA : Melawan Ancaman Kepunahan, KKB Gagas Bikin Kamus Bahasa Bakumpai

Bagi Inas, warga Bakumpai sangat toleran dengan warga dari suku lain, sehingga dalam bahasa tutur sehari-hari menggunakan bahasa yang dimengerti masyarakat non Bakumpai.

Selain mulai tergusur oleh bahasa daerah lain dan bahasa Indonesia, dalam kacamata Nasrullah adalah terdapatnya kosakata baru yang berkaitan dengan teknologi, yang belum belum ada padanannya dalam bahasa Bakumpai.

“Kita merasa prihatin dengan kondisi bahasa Bakumpai, baik dipengaruhi oleh bahasa daerah lain ataupun dengan adanya rasa malu berbahasa Bakumpai oleh individu-individu warga Bakumpai itu sendiri,” beber sarjana jebolan IAIN (UIN) Antasari Banjarmasin ini.

BACA JUGA : Dayak Bakumpai, Pendakwah dan Penyebar Islam di Pedalaman Kalimantan (3-Habis)

Menurut Inas, persoalan lain yang dialami masyarakat Bakumpai dalam melestarikan bahasa daerahnya adalah kurangnya literasi keilmuan, baik dalam buku maupun media populer.

“Bahasa Banjar, misalkan ada kisah Si Palui yang intens muncul dalam kolum media lokal atau di suku Minangkabau misalnya, memiliki buku Tambo yaitu suatu hikayat cerita rakyat yang dibukukan yang muncul sejak pertengahan abad 20-an,” ucap Inas.

Menurut dia, kisah Si Palui urang Banjar dan buku Tambo masyarakat Minangkabau secara tidak langsung menjaga kelestarian keberagaman bahasa daerah.

“Nah, orang Bakumpai belum memiliki dongeng atau kisah populer yang dibukukan. Kita perlu menjaga kelestarian bahasa Bakumpai bukan atas dasar etnosentris akan tetapi melestarikan dalam rangka keragaman budaya dan bahasa daerah,” kata Inas.

BACA JUGA : Diaspora Orang Bakumpai dari Barito hingga ke Mahakam dan Katingan (1)

Bagi dia, bahasa Bakumpai kaya akan kosa-kata yang memiliki karakteristik dan kekhasan makna kearifan lokal yang tak kalah dengan daerah lain.

“Bahasa Bakumpai sendiri memiliki hubungan dengan bahasa daerah lain baik bahasa Banjar, Ngaju, bahasa Minang, termasuk serapan bahasa asing. Bahkan, berdasar riset peniliti dari Prancis, Bahasa Bakumpai memiliki kesamaan linguistik suku Bajau, masyarakat nomaden yang hidup di atas laut,” papar dosen FKIP ULM ini.

BACA LAGI : Bandar Marabahan dan Melacak Asal Usul Orang Bakumpai (2)

Menurut tokoh masyarakat Batola ini, bahasa Bakumpai memiliki keistimewaan kekayaan kosa kata. Ambil contoh istilah lempar dalam bahasa Bakumpai, ada kata mamampang, ma’abir, mamedak dan manimbai.

“Satu kata dasar misalnya dalam bahasa Bakumpai, ada sampai 7-8 varian kata, seperti kata bohong, dalam bahasa Bakumpai sendiri dikenal istilah, karamput, karadau, kamburau, mangabuwau dan seterusnya,” tandasnya.(jejakrekam)

Editor Didi GS

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.