ACT

Benteng Oranje Nassau, Simbol Supremasi Belanda Pemicu Perang Banjar

0 279

TEPAT pada Kamis, 24 Ramadhan 1215 Hijriyah atau 18 April 1859, Perang Banjar pun meletus. Perang besar yang berbiaya tinggi ini merupakan simbol perlawanan rakyat Kalimantan, khususnya Kesultanan Banjar terhadap hemegoni kolonial Belanda di Tanah Banjar.

SEJARAWAN muda FKIP Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur mengungkapkan Perang Banjar terjadi ketika seranganan dilakukan Pangeran Antasari terhadap Benteng Oranje Nassau di Pengaron.

“Ketika itu, ada 500 anggota pasukan Muning dan pasukan Riam Kiwa di bawah komando Pangeran Antasari menyerbu benteng yang berada di wilayah konsesi tambang Oranje Nassau, Pengaron,” ucap Mansyur yang akrab disapa Sammy ini kepada jejakrekam.com di Banjarmasin, Senin (4/11/2019).

Magister sejarah jebolan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini mengungkapkan Oranje Nassau merupakan simbol supremasi ekonomi kapitalis yang diterapkan pemerintah Hindia Belanda di wilayah Karesidenan Borneo bagian selatan dan timur.

 

BACA : Tambang Batubara Era Merdeka Lebih Buruk Dibanding Kolonial Belanda

“Tambang batubara ini tergolong modern dan pertama di Borneo (Kalimantan) dan Hindia Belanda umumnya. Setelah era kemerdekaan, tambang Oranje Nassau menjadi situs Cagar Budaya,” papar Sammy.⁣⁣⁣⁣⁣

Dosen prodi sejarah FKIP ULM mengungkapkan nama tambang Oranje Nassau diambil dari nama dinasti (wangsa) Oranje Nassau di Belanda. Menurut Sammy, berdasarkan catatan de Loos, pada tanggal 28 September 1849, Gubernur Jenderal Rochussen datang ke Pengaron, wilayah Kerajaan Banjar untuk meresmikan pembukaan tambang batubara Belanda pertama di Indonesia, yang dinamakan Oranje Nassau.⁣⁣⁣⁣

“Sumber tertulis ini berdasar tulisan Jan Adriaan Hooze, Van Rees, M.C. van Doorn, dalam majalah Eigen Haard, 188,” ucap Sammy.

BACA JUGA : Perang Banjar di Hulu Barito dan Karamnya Onrust (2)

Ternyata, areal tambang ‘emas hitam’ itu tak hanya di Pengaron. Beberapa penulis juga mengaitkan adanya rel kereta api dari Martapura, yang diangkut dari Pengaron dan Gunung Ronggeng merupakan wilayah konsesi tambang era kolonial Belanda.

Bahkan informasinya di Martapura, hingga kini, masih terdapat nama Jalan Rel, menandakan begitu seriusnya Belanda membangun industri tambang. Karena dipercaya, di kawasan Pesayangan hingga Teluk Selong, merupakan kawasan dermaga untuk penumpukan atau stockpile batubara.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Walhi Kalsel Kisworo Dwi Cahyono mengungkapkan apa yang dilakukan Pangeran Antasari dengan menyerang Benteng Emas Oranje Nassau merupakan simbol perlawanan terhadap kapitalisme di era penjajahan. Hal ini sejalan dengan film garapan Walhi, Friends of the Earth, European Climate Foundation, yang diproduseri Budi ‘Dayak’ Kurniawan dari Padma Borneo Raya Media berjudul Bara di Bongkahan Batu.

BACA LAGI : Bubuhan Haji dalam Perang Banjar Abad Ke-19

Apa yang dilakukan Pangeran Antasari dan memicu Perang Banjar dengan menyerang benteng dan wilayah konsesi tambang merupakan bentuk perlawanan rakyat ketika sumber daya alam dikuasai kelompok atau korporasi. Apa yang terjadi di masa itu, juga tergambar di kondisi sekarang,” imbuh Kisworo.(jejakrekam)

 

Penulis Siti Nurdianti
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.