ACT

Mancari Suluh, Tajajak Handayang

Oleh : Noorhalis Majid

0 99

MENCARI obor atau lampu, di malam gelap gulita,  tidak disangka terinjak pelepah daun kelapa. Sesuai harapan, keinginan.  Daun kelapa kering, dapat dijadikan obor. Tidak perlu lagi obor ataupun suluh. Cukup dengan mengikat daun kelapa, dipilin kuat, dapat menjadi pengganti obor atau suluh.  

PARIBAHASA atau peribahasa dalam bahasa Banjar ini menggambarkan sesuatu yang secara kebetulan datang sesuai harapan. Misalnya, saat perlu uang ingin bayar biaya sekolah anak, tiba-tiba ada orang datang membayar hutang. Ingin pergi, tapi  tidak ada kendaraan, tanpa diduga ada kawan mengajak jalan dan tujuannya berdekatan.  Pendek kata, pucuk dicinta ulam tiba. Tepat sesuai keinginan, sesuai harapan.

BACA : Ditinggal Manawak, Dibawa Malinggang

Sebenarnya tidak ada yang kebetulan, semua sudah berjalan sesuai takdirnya, Tuhan maha pengatur. Merangkai sesuatu yang nampak kebetulan, sesungguhnya memang demikian alurnya. Semua itu karena ketidak mampuan kita menangkap isyarat, atau rahasia Tuhan,  sehingga kita sebut kebetulan. Padahal semua berjalan sesuai skenarioNya, sesuai kehendak-Nya.

Semua ada sebab dan musabab. Agar ada cerita dibalik peristiwa. Sesuatu yang dianggap kebetulan, sesuai dengan harapan, orang Banjar menyebutnya mancari suluh tajajak handayang.

Dari ungkapannya, paribasa ini nampak sangat tua sekali. Karena lahir kala listrik, atau penerangan belum ada. Masih menggunakan suluh, obor saat pergi malam hari, menyusuri jalan setapak yang gelap. Terbayang di kiri kanan jalan masih hutan, jarak rumah dengan tetangga masih sangat jauh.

BACA : Paribasa Banjar; Dimamah Hanyar Ditaguk Penuh Makna

Tanpa bertanya kepada yang lebih tua, tidak ada gambaran nyata tentang paribasa ini. Era sekarang tidak mengenal suluh. Karena suluh sudah tidak diperlukan. Namun makna dari paribasa tentu saja masih sangat aktual.

Kesempatan, peluang, bisa datang secara kebetulan. Tepat saat kita membutuhkan. Tanpa direncanakan, Tuhan memberikan jalan atau kemudahan. Karena itu agama mengajarkan agar selalu berdoa, sehingga sesuatu yang dianggap di luar jangkauan manusia, bukan mustahil bagi Tuhan.

Tidak ada salahnya berdoa, dan kemudahan datang tanpa disangka-sangka. Banyak buku yang mengulas tentang keajaiban doa. Sehingga sangat mungkin terwujud sesuatu di luar imajinasi manusia, orang banjar dengan arif menyebutnya mancari suluh, tajajak handayang. (jejakrekam)

Penulis adalah Kepala Perwakilan Ombudsman Kalsel

Pegiat Budaya dan Bahasa Banjar

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.