ACT

Dari Militaire Weg ke Jalan Kalimantan hingga Jalan S Parman

0 261

DERAP langkah pembangunan infrastruktur berupa jalan dan jembatan di era kolonial Belanda berpusat di Benteng (Fort Tatas) cukup menggeliat. Status Banjarmasin sebagai kotamadya (gemeentee), tentu membutuhkan infrastruktur yang layak di tanah jajahan.

SALAH satu ruas jalan bersejarah di ibukota Provinsi Kalimantan Selatan adalah Jalan S Parman, dengan panjang sekitar 1,35 kilometer. Dulunya,  di era kolonial Belanda bernama Militaire Wieg atau Jalan Militer.

Sejarawan muda FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Mansyur mengungkapkan sebelum berubah menjadi Jalan Kalimantan dan terakhir berganti menjadi Jalan S Parman, kawasan pusat kota merupakan wilayah militer.

BACA : Melintas Batas Benteng Tatas, Dibina Inggris hingga Bumi Hangus

Maklum, karena Jalan S Parman, banyak berdiri fasilitas militer seperti Tangsi Militer Belanda yang kini jadi Mapolda Kalsel, Rumah Sakit Umum (Zieken Huis), sebelum dipindahkan ke Jalan Ulin (Jalan Achmad Yani) menjadi Rumah Sakit Ulin era sekarang.

Ruas jalan ini terakses ke perkampungan Belanda (Amerong) hingga ke Jalan Jenderal Sudirman (Karel van den Heijden) dan Jalan Lambung Mangkurat (Laan de Resident de Hans).

Mansyur mengungkapkan Jalan S Parman atau Jalan Kalimantan ini memiliki dua simpang yakni Simpang Militair Weg 1, sekarang bernama Jalan (Gang) Karimata. Kemudian kedua, Simpang Militair Weg 2, kini bernama Jalan Andalas atau Jalan Perintis Kemerdekaan terhubung ke simpang empat Pasar Lama.

“Berdasar foto lama lama koleksi KITLV (1898) berjudul Militaire Weg tee Bandjermasin, jalan ini mengalami banyak perubahan, terutama infrastruktur sekitar jalan. Pada 1898, jalan ini masih dipenuhi pepohonan rindang. Hingga pada 121 tahun kemudian berubah menjadi deretan toko, kantor pemerintahan hingga rumah ibadah,” tutur Mansyur yang akrab disapa Sammy ini kepada jejakrekam.com, Selasa (29/10/2019).

BACA JUGA : Dari Benteng Tatas, Tata Kota Banjarmasin Digagas

Magister sejarah Undip Semarang ini mengungkapkan di masa Hindia Belanda, terdapat empat status penamaan jalan. Di antaranya Boulevard untuk jalan lebar di tengah jalur hijau. Kemudian Laan untuk jalan penghubung antara jalan ramai. Straat untuk jalan yang memiliki kegiatan bisnis dan perdagangan.

“Kemudan, Weg merupakan nama jalan untuk daerah permukiman, contohnya Militaire Weg. Nah, Kawasan Weg terlarang untuk tempat perdagangan,” ucap Sammy.⁣⁣⁣⁣

Sementara itu, dalam buku Sedjarah Kota Bandjarmasin (1970), tulisan Arthum Artha, mengungkapkan terdapat banyak jalan baik di era Hindia Belanda hingga kemerdekaan, termasuk Jalan Kalimantan yang menghubungkan ke Kertak Baru (kini Jalan Haryono MT) dan Teluk Dalam (sekarang Jalan Sutoyo S).

“Jalan Kalimantan merupakan jalan terpenting di Kota Banjarmasin, selain Jalan Lambung Mangkurat dan Jalan Sudirman, Jalan Pangeran Samudera, Jalan Pangeran Antasari,” tulis mantan Ketua DPRD Kotamadya Banjarmasin.

BACA JUGA : Jejak Kampung Amerong, Perkampungan Elit Eropa di Banjarmasin

Artum Artha yang juga seorang wartawan era perjuangan ini mengatakan status Jalan Kalimantan atau Militaire Weg, serupa dengan Jalan Belitung atau Blitung Weg era Kolonial Belanda, usai status Banjarmasin naik dari keresidenan meningkat gemeente (kotamadya), hingga menjadi Provinsi Borneo.

Baru, pada 8 Februari 1942 berdasar tulisan Artum Artha, Pemerintahan Militer dan Sipil Belanda di Banjarmasin akhirnya meninggalkan kota, saat Jepang datang untuk menduduki Pulau Borneo.

“Di masa Jepang juga didirikan kantor pusat pemerintahan seperti Borneo Minshibu, Banjarmasinshi Shitju, Bunking Kanrekan, hingga Toyo Menka Kabushiki Kaisah, dan lainya. Termasuk wahana hiburan dan lainnya,” tulisnya.

BACA LAGI : Ketika Keluarga Belanda Mencari Makam Leluhurnya di Eks Pekuburan Kamboja

Hingga Jepang menyerah usai kalah dari Perang Asia Raya dengan Sekutu, Banjarmasin pun diserahkan ke Tentara Australia dibonceng NICA Belanda. Singkatnya, begitu Belanda mengakui kedaulatan RI, nama-nama jalan berbau Belanda pun berganti dengan nama-nama pahlawan tanah air terutama di era Orde Baru.(jejakrekam)

 

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.