ACT

Belajar dari Datu Kalampayan dan Datu Sanggul

Oleh : Humaidy Ibnu Sami

0 328

KONON pada waktu Datu Kalampayan berada di Makkah, beliau menemui keanehan pada setiap hari jum’at, ketika berada di Masjid Al-Haram. Ada seseorang yang berpakaian lain dari kebiasaan pakaian orang Arab lainnya, atau pakaian umumnya orang yang sedang beribadah.

ORANG tersebut berpakaian hitam dan memakai laung serta membawa butah (tas dari anyaman bambu khas dari daerah Banjar). Setiap habis berdoa, tiba-tiba dia selalu menghilang tanpa bekas. Dengan rasa penasaran kemudian pada Jumat berikutnya beliau menunggu kembali kedatangan orang tersebut, tapi seperti biasa selesai habis salat Jum’at dan berdoa orang tersebut menghilang lagi.

Kemudian, pada Jumat berikutnya ketika orang tersebut datang lagi, beliau segera ikut salat di sampingnya dengan harapan dapat berkenalan dengannya. Ketika selesai berdoa tak ingin kehilangan yang kesekian kali, beliau dengan sigap menangkap dan memegang tangan orang tersebut untuk diajak berkenalan dan dia ternyata adalah Datu Sanggul, berasal dari Kampung Muning Tatakan Rantau, Kalimantan Selatan.

BACA : Diguyur Hujan, Haul Akbar Datu Kalampayan Berlangsung Khidmat

Setelah pertemuan pertama itu, keduanya terus saling bertemu setiap Jum’at, semakin lama semakin intensif pertemuan hingga menjadi semakin akrab antar mereka dan pada puncaknya mereka saling mengangkat saudara dunia akhirat. Tentu, dalam kebersamaan erat ini mereka saling menyerap ilmu satu sama lain dan saling mengisi kekurangan masing-masing.

Mungkin waktu itu, Datu Kalampayann belum mendalam ilmul Bawathin (esoterisme atau hakikat) ajaran Islamnya, diberi asupan tambahan oleh Datu Sanggul hingga mendekati sempurna aspek kebatinannya. Sebaliknya, Datu Sanggul kurang kokoh ilmul Jawahir (eksoterisme atau syariat) ajaran Islamnya, diisi hidangan tambahan oleh Datu Kalampayan hingga meningkat aspek kezhahirannya.

Lebih dari itu, mereka sama-sama saling membaca dan mendalami kitab yang belum dipelajari sama sekali atau kitab yang baru diperoleh dari warisan guru dari keduanya. Proses pertukaran ilmu dan kompetisi pencarian pemahaman kitab-kitab yang baru diperoleh, mungkin tidak harus saling berguru, cukup dengan cara dialog yang terus-menerus antar mereka dan mendaras kitab tersebut di rumah masing-masing.

Dari semua uraian di atas, yang menarik sepanjang bacaanku yang bebal ini adalah apa makna dari pertemuan dan persaudaraan Datu Kalampayan dan Datu Sanggul ini. Aku kira pertemuan keduanya ini sungguh banyak bermakna karena Datu Kalampayan dan Datu Sanggul adalah ulama besar masyarat Banjar yang legendaris.

Apalagi sampai bersaudara lebih banyak lagi maknanya yang bisa diambil pelajaran dan keteladanan. Di antara, hutan belantara makna yang rimbun itu, aku hanya bisa menggali tiga hal yang kurasa cukup signifikan.

BACA JUGA : Jejak Syekh Muhammad Arsyad di Tanah Betawi

Pertama, antara orang yang sekolah ke luar negeri (Datu Kalampayan) dan orang yang belajar di dalam negeri (Datu Sanggul), hasilnya bisa sama dan seimbang saja. Jadi kualitas pendidikan seseorang bukan ditentukan oleh tempat atau lembaga yang terkenal, melainkan kekuatan pribadi seseorang dalam belajar.

Kita yang studi dalam negeri jangan merasa silau, minder dan inferior dengan mereka yang studi di luar negeri. Sebaliknya, mereka yang studi di luar negeri, jangan juga jumawa dan arogan terhadap orang yang studi di dalam negeri.

BACA JUGA : Kota Para Pengembara, Rantau Layak Berjuluk Kota Sangga Auliya

Demikian juga, kita yang kuliah di universitas swasta jangan merasa kalah dengan mereka yang kuliah di Universitas Negeri. Begitu pun, kita yang di pendidikan non-formal atau otodidak, jangan merasa hina dengan mereka yang di pendidikan formal. Siapa yang sungguh-sungguh rajin belajar, ikhtiar, berdoa, syukur, sabar, beramal dan bertawakkal, maka ia akan pintar dan pandai serta menguasai ilmu luar-dalam.

Kedua, orang yang belajar Islam, berangkat dari Syariat (Datu Kalampayan) dan orang yang berangkat dari Hakikat (Datu Sanggul), akan berujung sama, akan menemukan mutiara ajaran Islam terdalam. Syariat akan berjalan kedalam dan menyelam menuju Hakikat, sebaliknya Hakikat keluar muncul ke permukaan menuju Syariat. Syariat dan Hakikat tak terpisahkan seperti ruh dan tubuh pada diri manusia.

Ketiga, dari pertemuan dan persaudaraan Datu Kalampayan dan Datu Sanggul, keduanya tak terlihat apalagi tertipu simbol. Padahal mereka berdua dalam penampilan sangat berbeda bahkan bisa dikatakan kontras. Datu Kalampayan berpakaian semacam pakaian dinas keulamaan, berbaju gamis, sarung, sorban dan selendang burdah. Sedangkan Datu Sanggul berpakaian jauh dari gambaran keulamaan, berbaju hitam, membawa butah dan ikat kepala laung.

BACA LAGI : Wahdatul Wujud, Ajaran Nur Muhammad dan Sufisme Banjar

Kebanyakan orang Banjar, mungkin akan memandang sebelah mata dengan penampilan Datu Sanggul, tapi sebaliknya sangat menghormati luar biasa dengan penampilan Datu Kalampayan.

Namun Datu Kalampayan melihat tampilan Datu Sanggul langsung ingin menyapa dan berkenalan dengan penuh hormat, sebaliknya Datu Sanggul tak merasa risih, minder dan rendah diri untuk menerima Datu Kalampayan yang memakai pakaian kebesaran ulama.

Selain, Datu Kalampayan tidak melihat Datu Sanggul pada simbol atau tampilan (performen)nya, juga beliau sangat apresiatif terhadap budaya Banjar, sehingga melihat tampilan Datu Sanggul sebagai duta budaya Banjar, beliau jadi ingat kampung halaman dengan segala kebudayaannya yang sudah sangat dirindukan karena lama belum pulang.

Dalam konteks itu jua, beliau serasa bertemu orang sekampung yang bisa sedikit mencurahkan rasa kerinduan dan mengusir rasa sepi yang nyeri bertemu Datu Sanggul cukup bisa mengisi dan menghibur beliau.

Sayang seribu kali sayang, ketika beliau sudah pulang ke kampung halaman, Martapura, tidak sempat bergaul dengan Datu Sanggul, karena ketika beliau sampai di Kampung Muning Tatakan Rantau, ternyata Datu Sanggul saudara angkat beliau, baru saja berpulang ke rahmatullah. Allahummaghfir lahuma, warhamhuma, wafihima wa’fu’anhuma.(jejakrekam)

Penulis adalah Staf Pengajar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari Banjarmasin

Peneliti Senior LK3 Banjarmasin

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.