ACT

Pergulatan Armada Dagang Belanda dan Perahu Bugis di Pulau Laut

0 183

SEDARI dulu, Pulau Laut yang kini dikenal dengan sebutan Kotabaru, Kalimantan Selatan merupakan jalur pelayaran dan perdagangan internasional di era kolonial Belanda. Ini ditandai dengan gencarnya pembangunan infrastruktur seperti pelabuhan dan bandara di masa penjajahan itu.

SEJARAWAN muda FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Mansyur mengungkapkan wilayah Pulau Laut yang kini dikenal dengan Kotabaru, merupakan jalur pelayaran dan perdagangan internasional di jalur Borneo bagian selatan dan timur.

“Ketika itu, ada Pelabuhan Stagen, Kotabaru yang menghubungkan jalur pelayaran Borneo bagian selatan dan timur dengan Jawa Timur berpusat di Surabaya dan Makassar (Sulawesi Selatan). Ini dihubungkan dengan armada Netherlands Indies Steams Navigation (NISN) pada tahun 1888,” ucap Mansyur yang akrab disapa Sammy kepada jejakrekam.com, Sabtu (26/10/2019).

BACA : Cerita Sebutir Kelapa, Komoditas Berharga di Era Kolonial Belanda

Begitu vitalnya posisi Pulau Laut, hingga Pemerintah Kolonial Belanda menerjunkan armada Koninklijk Paketvaart Maatshappij (KPM) milik pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1898-an dengan rute pelayaran yang sama.

Magister sejarah jebolan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini mengungkapkan secara tidak langsung, keberadaan NISN maupun KPM mengakibatkan menurunnya perahu yang singgah di pelabuhan utama Nusantara ketika itu, hingga pertengahan 1920-an. Terkecuali, Pelabuhan Makassar.

“Inilah mengapa keberadaan armada milik Hindia Belanda itu yang canggih di eranya, tidak bisa mematikan peranan perahu layar atau pinisi para saudagar dan pedagang Bugis. Malah, keberadaan perahu rakyat ini menjadi armada transportasi pembantu atau feeder vessels di masa itu,” papar Sammy.

BACA JUGA : Mengintip Kejayaan Karet Kalsel Era Kolonial Belanda

Dalam dokumen yang didapat sejarawan FKIP ULM ini mengungkapkan pada kurun waktu 1926 hingga 1936, daerah Kotabaru menjadi salah satu rute pelayaran Roepelin dengan Surabaya sebagai pangkalan utamanya.⁣

“Rute ke Kalimantan ini melayani pelabuhan di Kalimantan bagian timur, tenggara dan barat, seperti Banjarmasin, Kotabaru, Pagatan, Balikpapan, Samarinda dan Pontianak,” urai pegiat historia Kalsel ini. ⁣

Menurut Sammy, untuk rute pelayaran ini, muatan yang diangkut perahu atau kapal adalah berbagai macam barang impor, beras, gula, botol kosong, dan besi tua.⁣

BACA LAGI : Kehidupan Sungai Banjar dalam Jurnal Penjelajah Belanda

Sammy mengungkapkan pelayaran kembali ke Surabaya dari pelabuhan yang ada mengangkut hasil perkebunan dan hutan seperti kayu, kopra dan kelapa. Sejak itu, jalur perdagangan perahu layar itu disebut dengan ekspedisi perahu dagang dari Borneo.

“Komoditas yang diperdagangkan antar pulau ini juga merupakan barang yang sangat dibutuhkan masyarakat di Kalimantan. Makanya, keberadan perahu atau kapal kecil bisa menjangkau daerah hinterland pelabuhan Pagatan seperti Batulicin, Sebamban dan daerah lainnya,” imbuhnya.(jejakrekam)⁣

Penulis Siti Nurdianti
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.