ACT

Ditinggal Manawak, Dibawa Malinggang

Oleh : Noorhalis Majid

0 87

ADA orang diajak serta naik perahu, membuat perahu bergoyang, berlenggang, tidak stabil, hilang kendali, resiko tenggelam. Ditinggal, tidak diajak serta,  justru melempari, manawak, mahamput, maningkalung. Dilematik. Serba salah. serba susah. Bagaimana menghadapi orang seperi ini?

PENGALAMAN naik perahu,  berbagai dinamika penumpang, serta kondisi perahu dan risikonya itu, menjadi pelajaran hidup. Paribasa ini menggambarkan suatu dilema, mengambil ilustrasi seseorang yang serba  menyusahkan. Ikut naik perahu menimbulkan resiko tenggelam, ditinggal justru melempari.

Tetang sifat seseorang yang selalu menyusahkan orang lain. Sikap kita baik, salah. Cuek juga salah. Serba menyusahkan.  Diajak serta, mendatangkan resiko, bahkan menyalahkan dan menuding. Sebaliknya ditinggal, lebih menyalahkan lagi. Problem pada diri orang tersebut, memberi dampak pada orang lain. Suka mengganggu ketentraman, kebahagiaan orang lain.

BACA : Paribasa Banjar; Dimamah Hanyar Ditaguk Penuh Makna

Bagaimanapun, orang seperti ini harus dihadapi. Tentu  tidak mudah menghadapinya.  Serba susah, ngalih. Akan tetapi, sesulit apapun tipe atau sifat manusia, berpulang kepada kita dalam menghadapinya. Paribasa ini memberikan pelajaran tentang tipe orang yang serba menyusahkan. Agar mampu diatasi sebisa mungkin, dengan segala kearifan.

Orang seperti ini, ujian bagi kita. Dalam hidup, bukan hanya ada dua pilihan, baik dan buruk, namun juga ada kondisi serba susah, dilema. Mengharuskan untuk dinamis, fleksibel, mampu mengelola situasi agar selalu dalam keseimbangan. Kalau semua berpulang pada kemampuan mendinamisir situasi dan persoalan, tidak ada yang namanya sifatnya buruk, troubel maker. Semua kembali pada kemampuan kita.

BACA JUGA : Baguna Tahi Larut; Paribasa Banjar, Refleksi Budaya

Fokus saja pada tujuan. Kalau tujuan kita baik, sekalipun ditafsirkan jahat, buruk, tetap saja berbuat baik. Fokus pada perbuatan baik. Tidak terpengaruh sikap dan sifat orang lain. Kalau sifat dan sikap kita, bergantung pada sifat dan sikap orang lain, berarti tidak ada pendirian. Kalau orang lain baik, kita juga akan baik, dan  bila orang lain jahat, kita juga akan jahat. Artinya sifat dan sikap kita tergantung orang lain. Menggambarkan tidak ada pendirian, potret pribadi yang gamang.

Paribasa (peribahasa) dalam bahasa Banjar ini mengajarkan untuk fokus. Apapun sikap dan sifat orang lain, tetap besikap dan berbuat baik. Hidup ini dimenangkan oleh orang yang palig banyak berbuat kebaikan, dan paribasa ini memberikan pembelajaran agar kita mampu menghadapi orang yang serba membuat susah, ditinggal manawak, dibawa malinggang.(jejakrekam)

Penulis adalah Kepala Ombudsman Perwakilan Kalsel

Pemerhati Budaya dan Bahasa Banjar

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.