ACT

Dalas Ganting Asal Kada Pagat

Oleh : Noorhalis Majid

0 43

GANTING itu hampir putus, sedangkan pagat berarti putus. Biarlah hampir putus, asal jangan putus. Ungkapan ini bukan sekadar paribasa atau peribahasa dalam Bahasa Banjar. Sering kali menjadi prinsip hidup, pedoman menjalani kehidupan.

GANTING bisa pula dimaknai hemat, cermat berhitung. Sedangkan putus, pagat, dimaknai dengan habis, tamat. Sesuatu yang cukup untuk satu bulan, bila tidak hemat, tidak cermat mengaturnya,  bisa saja habis dalam sehari.

Makna paribasa ini sangat dalam. Memberi nasehat agar pandai mengatur hidup. Sering kali dipakai, mengatur keuangan rumah tangga. Atau keuangan apapun, organisasi dan sebagainya. Bila diketahui dananya sangat terbatas, tidak berlebihan, keahlian mengatur agar cukup untuk semuanya dalam waktu tertentu, sangat diperlukan.

BACA : Digerus Bahasa Banjar, Penutur Bahasa Berangas Yang Kian Langka

Pendapatan dalam sebulan hanya mengandalkan gaji Rp 3 juta. Bila pandai mengaturnya, berarti pengeluaran sehari tersedia Rp 100 ribu. Lebih dari Rp 100 ribu,  mengganggu pengeluaran hari lainnya.  Pengeluaran Rp 500 ribu, mengganggu lima hari. Mungkin pada hari disaat pengeluaran Rp 500 ribu itu bisa makan atau pesta sepuasnya. Namun ingat, ada lima hari kemungkinan kita putus, habis tidak memiliki dana.

Mengatur logistik, diperlukan keahlian. Seberapa logistik tersedia, dibagi jumlah tanggungan, dibagi  lamanya hari. Diketahui berapa jatah logistik dalam setiap orang, setiap hari. Mungkin  logistiknya sangat terbatas, sehingga hasilnya sangat kecil, tapi dari pada tidak cukup untuk rentang waktu tertentu, lebih baik menahan sakit, berhemat. Terasa genting, tapi tidak sampai tamat.

BACA JUGA : Hikayat Sang Penyusun Kamus Bahasa Banjar, Prof Djebar Hapip

Kemampuan mengatur logistik ini sering kali didasari pengalaman hidup. Orang banjar memiliki budaya madam, merantau. Hidup dalam perjalanan atau di tanah rantau, tidak ada yang bisa diharapkan. Logistik yang dibawa dari kampung, harus cukup untuk waktu tertentu. jangan sampai putus atau habis sama sekali. Lebih baik berhemat, sehemat-hematnya. Biarlah mengencangkan ikat pinggang sekencangnya, membatasi makanan, dari pada habis sama sekali hingga kelaparan. Belum tentu ada pertolongan.

BACA LAGI : Walau Tak Punya Aksara, Bahasa Banjar Kaya Dengan Karya Sastra

Berdasarkan pengalaman madam itulah  paribasa ini lahir. Mengajarkan agar pandai mengatur keuangan, logistik. Kalau saat berlebih, ingat masa susah, sehingga menabung untuk mengantisipasi kemungkinan datangnya masa susah, paceklik. Saat susah, belajar mencukupkan yang tersedia, tidak usah menurutkan keinginan, karena keinginan tidak ada batasnya, cukupkan kebutuhan,  dalas ganting asal kada pagat. (jejakrekam)

Penulis adalah Kepala Ombudsman Perwakilan Kalsel

Pemerhati Bahasa dan Budaya Banjar

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.