Kematian Ikan Keramba Diduga Akibat Kualitas Air dan Perilaku Petambak

KEMATIAN 80 ton ikan keramba milik petani tambak di Banua Anyar sejak pekan lalu (3/10/2019) direspon serius oleh Pemerintah Kota Banjarmasin. Kepala Dinas Lingkungan Hidup bersama Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) turun langsung meninjau lokasi tambak terapung di tepi Sungai Martapura, Banua Anyar.

KEPALA DKP3 Laohem Mahfuzi mengungkapkan bahwa ada dua faktor utama penyebab utama kematian ribuan ikan bawal milik masyarakat. Pertama ialah buruknya kualitas air akibat kemarau panjang.

“Kemarin saya langsung perintahkan anak buah saya, anak PPL, Kabid beserta Kasinya, dan diukur ternyata DO (Dissolved Oxygen, atau oksigen terlarut)- nya dua. Itu jam sepuluh siang, kalau malam bisa turun jadi satu,” ucapnya kepada awak media seusai meninjau keramba, Rabu (9/10/2019).

Ia menyebutkan, kadar oksigen paling ideal agar ikan bawal tetap bertahan hidup ialah 4 miligram per liter. Naturalnya, ikan bawal hidup di air tawar atau payau. Sehingga perubahan kadar oksigen yang mendadak membuatnya sulit beradaptasi. “Ikan ini sangat peka, bawal kurang oksigen sedikit, gampang mati,” ujarnya.

Laohem sebenarnya tidak menyarankan masyarakat melakukan pembudidayaan ikan keramba di sungai. Berbeda dengan ikan patin atau lele, ikan bawal yang naturalnya hidup di air tawar atau payau cukup mengalami kesulitan ketika harus beradaptasi dengan air sungai. “Masyarakatnya aja coba-coba untuk bawal, kalau sedikit, lihat-lihat situasi, lihat airnya juga, ph-nya juga. Tidak sembarangan,” tegasnya.

Faktor kedua ialah perilaku pemilik tambak yang tidak melakukan pola penangkaran sesuai dengan standar aturan. Keramba milik masyarakat ini over kapasitas. Standar per keramba yang hanya muat untuk 200-300 ekor, justru dipaksa menjadi 500 ekor.

Selain itu, pemberian pakan ikan yang berlebih juga menjadi penyumbang pencemaran kualitas air di sekitaran keramba. “Kami menyarankan ke depan sesuai aturan, jangan sampai menebar terlalu padat, pakan kan ada ketentuannya. Kalau ditebar semuanya, terendam menjadi racun, lalu upwelling,” ucapnya.

Kepala DLH Mukhyar menyebut bahwa pihaknya akan berusaha mencari solusi lain untuk memindahkan keramba-keramba ini ke darat. Ikan-ikan yang mati, dan pakan ternak ini jadi faktor pencemaran sungai. “Kita kan sama-sama sudah lihat ke lokasi dan melihat keramba masing-masing. Ini jelas menjadi pencemaran bagi sungai kita,” ujarnya.

Ia berharap peristiwa yang selalu berulang setiap tahun ini bisa menjadi pembelajaran bagi para penambak ikan di tepian Sungai Martapura ini.
“Ini menjadi pembelajaran untuk mereka, kan sia-sia sekali, sudah menambak seperti ini, bertambah-bertambah lagi, akhirnya rugi, kasihan mereka,” ujarnya.(jejakrekam)