SBT Melawan Lupa, Cara Pelukis Misbach Tamrin Merawat Ingatan Kolektif

PELUKIS Sanggar Bumi Tarung (SBT) dan eks Ketua Lekra Kalsel, Misbach Tamrin, merilis dan membedah buku terbarunya berjudul ‘SBT Melawan Lupa’ di Kampung Buku Banjarmasin, Senin (7/10/2019) malam.

BUKU ini merupakan cara Misbach merawat sejarah sebagai pelukis SBT yang sempat dituding rezim Orde Baru sebagai afiliasi Partai Komunis (PKI). Karya 226 halaman ini berkisah tentang tokoh-tokoh seni rupa di Indonesia, organisasi SBT, pandangan keseniannya, hingga perspektif Misbach tentang negara.

Tulisan-tulisan yang termuat dalam SBT Melawan Lupa berasal dari unggahannya di laman Facebook pribadinya. Menulis sejak tahun 2010, ia merasa harus mengabadikan tiap catatan digitalnya lewat buku.

BACA: Pandora 2019 untuk Perkenalkan Seni dan Kuliner Nusantara

“Seperti Milan Kundera, ini cara saya melawan lupa terhadap ingatan-ingatan kolektif masa lalu. Dan Menjadi pembelajaran untuk generasi muda,” ujar Misbach kepada jejakrekam.com

Lewat forum tersebut, ia juga menepis tudingan jika Lekra dan SBT, tempat ia bernaung serta berkesenian benar-benar terafiliasi dengan PKI. Misbach mengaku tertarik mengikutinya lantaran organisasi ini memiliki kerja jelas terhadap kebudayaan dan kemanusiaan.

“Dari dulu selalu menjadi pertanyaan. Tapi nyatanya ketua Lekra waktu itu tidak pernah menerima ajakan PKI untuk bergabung. Masyarakat sudah terlanjur menganggap underbownya PKI,” paparnya.

Sementara itu, pengamat seni dari Yayasan Palatar, Novyandi Saputra, juga menjadi pembicara dalam forum bedah buku SBT Melawan Lupa. Menurutnya, apa yang dilakukan Misbach sudah tepat dengan menuliskan catatan tentang seni rupa hingga menjadi buku.

BACA JUGA: Bela yang Tersisih, Kritik Tajam Puisi Banjar Seniman Nyentrik YS Agus Suseno

“Kita perlu lebih banyak penulis yang tidak hanya reportase, tapi perlu juga kritik karya yang kontekstual sampai publik benar-benar memahami makna dari karya,” ujarnya.

Menurut dia, semakin banyak sebuah karya dilihat publik, maka nilai dari karya itu sendiri bakal meningkat dengan sendirinya. “Ini masih ekslusif. Karya-karya masih parsial hanya untuk kelompok tertentu saja,” imbuhya Novyandi.(jejakrekam)

Penulis Siti Nurdianti
Editor Fahriza