Menilik Rumah Bangun Gudang, Sisa Kejayaan Saudagar Sungai Jingah (4-Habis)

Oleh : Mansyur ‘Sammy’

Foto; Dok Mansyur Sammy

MASA keemasan Haji Abdul Gani Kamar, seorang saudagar asal Kampung Sungai Jingah sekitar tahun 1925. Ini ditandai dengan membangun rumah megah serta memboyong anak istri naik haji ke Tanah Suci Makkah-Madinah pada tahun itu.

SISA-sisa kejayaan orang kaya di Sungai Jingah, terlihat dari corak rumah yang dibangun dengan arsitektur Banjar tipe Bangun Gudang berdiri pada 1925. Jika dihitung berarti umur rumah ini hampir satu abad.

Data artefak pendukung rumah ini dibangun tahun 1925 adalah tulisan berhuruf Arab 1334 Hijriyah dan anno 1925 di bagian atas rumah. Anno dalam Bahasa Belanda berarti dalam tahun. Artinya anno 1925 berarti dibangun dalam tahun 1925. Rumah ini bercat warna krem dan sedikit perpaduan cat warna coklat tua itu, masih berdiri kokoh. Selain itu, rumah ini juga diberi sentuhan warna hijau pada bagian pintunya.

Menurut penuturan M Rasyid, rumah tersebut milik kakeknya, H Abdul Gani Kamar. Kakeknya memiliki 14 anak. Dulu, semua anaknya tinggal dalam satu atap. Dalam perkembangannya, semua anak cucunya satu per satu mulai memiliki rumah sendiri. Hingga tahun 2019, rumah ini ditempati Rasyid sekeluarga bersama sang ibu.

BACA : Sungai Jingah, Kampungnya Saudagar Banjar (1)

Sejak awal rumah ini tidak mengalami banyak perubahan dengan tipe Bangun Gudang serta bentuk dan warnanya. Keberadaan latar belakang sejarah di masa Hindia Belanda, kemudian masyarakat Banjar, serta pengaruh Islam dan perdagangan, menjadikan kawasan Sungai Jingah sebagai kawasan yang memiliki beragam budaya.

Warga Sungai Jingah di perkampungan ini membangun beragam tipe rumah tradisional banjar maupun rumah berciri khas Banjar antara lain rumah bertipe Palimasan, Joglo, Palimbangan, Balai laki, Balai Bini hingga tipe Gajah Manyusu.

Selain rumah tradisional Banjar tersebut, juga terdapat bangunan rumah yang tipenya merupakan akulturasi antara rumah adat Banjar, tipe rumah kolonial serta modern seperti rumah bertipe bangun gudang yang dibangun Haji Abdul Gani Kamar di Sungai Jingah.

Dalam kajian Tim Muskala Depdikbud Kalsel yang pernah mengadakan penelitian rumah Bangun Gudang ini pada 1977/1978 menyatakan bahwa ciri-ciri rumah bangun gudang adalah atap berbentuk atap gajah (perisai), tangga masuk dari muka rumah, pamedangan kecil, pintu masuk tiga buah serta pintu masuk tawing halat dua buah.

Rumah Bangun Gudang yang dibangun Haji Abdul Gani Kamar memiliki ciri pada serambi pamedangan kecil di tengah-tengah. Rumah ini dibangun dengan tipe Bangun Gudang, bukan asal pilih. Hal ini dipcu latar belakang pekerjaan Haji Abdul Gani Kamar selaku pengusaha antar pulau yang memerlukan tempat yang aman untuk menyimpan stok barang sebelum dijual kembali di wilayah Gemeente Banjarmasin, sebutan Kota Banjarmasin saat itu.

BACA JUGA : Sarat Makna Filosofis, Sayang Rumah Arsitektur Banjar Makin Terkikis

Selain itu, Bangun Gudang adalah salah satu rumah tradisional suku Banjar (rumah Banjar) yang sedang trend di Kalimantan Selatan pada era Hindia Belanda tahun 1925-an. Rumah ini tidak dibangun dengan sisi panjang di sejajar jalan, tetapi tegak lurus terhadap jalan. Atap rumah pada dasarnya memakai atap perisai dengan serambi pamedangan (beranda) kecil di tengah-tengah.

Ciri khas lain rumah Bangun Gudang yang dibangun Haji Abdul Gani Kamar, pada bagian kiri dan bagian kanan dari serambi pamedangan diubah sebagai dinding depan kecuali bagian tengah yang tetap sebagai serambi pamedangan kecil yang diapit di antara kedua dinding depan tersebut.

Rumah ini memiliki tiga pintu masuk yaitu satu dari tengah, dari samping kiri dan dari samping kanan pamedangan. Tidak terdapat empat buah pilar yang biasanya ada pada teras rumah Banjar.

Mengenai sejarah bahan pembangunan rumah Bangun Gudang yang didirikan Haji Abdul Gani kamar, umumnya menggunakan bahan dari kayu ulin. Alasannya karena umumnya masyarakat di kawasan ini seperti halnya di hampir seluruh Kalimantan mengenal jenis kayu ini, sebagai bahan yang daya tahannya cukup besar terhadap pengaruh air dan kelembaban tanah. Selain ulin, di beberapa tempat Haji Abdul Gani Kamar memakai bahan kayu cendana, galam dan jenis kayu lain yang tersedia di lingkungan sekitar.

BACA JUGA : Kampung Qadi dan Tuan Mufti Besar Banjarmasin, Syekh Jamaluddin (2)

Dalam memilih bahan bangunan dipilih kayu yang dianggap mempunyai kualitas terbaik, digunakan untuk bagian bangunan yang sering terendam air, khususnya tiang/kolom bangunan sehingga rumah bangun gudang yang dibangun dapat bertahan lama.

Untuk dinding dan lantai umumnya memakai papan kayu ulin. Sedangkan untuk material atap, menggunakan atap sirap. Alasan penggunaan atap ini karena kemampuannya meredam panas matahari sehingga ruangan dalam rumah tetap sejuk. Dalam membangun rumah bangun gudang ini, Haji Abdul Gani Kamar juga memperhitungkan kebiasaan-kebiasaan dalam bersosialisasi.

Profesinya sebagai pedagang antar pulau beliau sering didatangi tamu maupun pedagang lain serta keluarga yang kadang kadang dijamu di palatar (teras) yang juga dipergunakan untuk bersantai pada sore hari sambiI melihat lalu lintas perahu di sungai.

Mengenai pembangunan pagar, hanya dibangun pagar rendah di beberapa sisi depan rumah. Untuk samping tidak diberi pagar karena pada masa lalu hubungan kekerabatan dengan tetangga yang dekat, sehingga antara satu rumah dengan yang lainnya tidak ada pembatas seperti pagar samping. Hal ini juga terlihat pada kawasan Sungai Jingah di mana rumah- rumah yang dibangun di bawah tahun 1950, jarang memiliki pagar pembatas sementara rumah-rumah yang dibangun diatas tahun 1950-an cenderung untuk menegaskan batas dengan mendirikan pagar.

BACA LAGI : Riwayat Pelabuhan Martapura Lama Era Belanda dan Jepang

Untuk menghubungkan rumah yang satu dengan yang lainnya biasanya digunakan jalan kayu yang ujungnya kadang-kadang berfungsi sebagai dermaga kecil di tepi sungai. Selain itu, pembangunan serambi depan dari palatar, biasanya terdapat Lumpangan dari kayu berisi air untuk mencuci kaki karena pada zaman dahulu di wilayah Sungai Jingah jalan-jalan belum beraspal, sehingga keadaan jalanan darat penuh lumpur pada musim hujan dan dan berdebu pada musim panas.

Haji Abdul Gani Kamar juga mempertimbangkan kisaran pasang-surut air sungai yang mencapai ketinggian ± 1 meter, menghindari kelembaban yang disebabkan iklim tropis. Sistem Pondasi dan memaksimalkan perlindungan terhadap binatang, menjadi dasar penentuan ketinggian lantai rumah sekitar 1,5 sampai 2 meter. Ukuran-ukuran yang dipergunakan dalam menetapkan tinggi, lebar, panjang dan ukuran-ukuran rumah lainnya dipakai dasar ukuran dari tubuh manusia, yaitu depa, hasta, siku dan jengkal.

Pengetahuan Haji Abdul Gani Kamar akan sistem konstruksi kayu memunculkan sistem yang dikenal dengan istilah “Barasuk’ dan sistem pasak. Barasuk adalah sistem perpaduan antara balok-balok atau hasil pahatan balok dengan balok-balok lainnya sehingga tercipta adanya pertautan yang baik. Kemudian sistem pasak yakni mempergunakan pasak kayu ulin membuktikan bahwa keawetan pasak lebih baik dibandingkan paku yang dapat berkarat dan patah.

Membangun rumah Bangun Gudang ini pada tahun 1925 dilakukan secara bergotong-royong. Meskipun begitu memang terdapat tukang yang khusus dipercaya untuk melaksanakan pembangunannya. Dimulai dengan tahap pertama, merupakan tahap persiapan. Haji Abdul Gani Kamar sebagai pihak yang akan rumah bangun gudang, mendatangi tokoh adat untuk meminta petunjuk dan nasihat- dalam membuat rumah.

BACA JUGA : Kisah Saudagar Banjar dan Monopoli Pelayaran KPM Belanda (3)

Dari petunjuk tersebut dapat diketahui waktu dan hari yang baik untuk memulai pengumpulan dan pemilihan bahan yang akan digunakan. Bahan yang akan dipilih juga ada syarat-syaratnya, baik dari segi kekuatan maupun tampilan bahan itu sendiri. Tampilan bahan yang dimaksud adalah yang berhubungan dengan rezeki dan keselamatan si penghuni, syarat-syarat ini hanya orang-orang tertentu yang mengetahui.

Kemudian tahap kedua, pengerjaan bahan bangunan yang dilakukan oleh tukang, seperti pembuatan kusen pintu dan jendela, konstruksi atap, tangga dan lain-lain. Pengerjaan ini didahului dengan upacara tukang, yaitu menjamu makan tukang-tukang disertai dengan doa-doa agar pekerjaan tukang berjalan lancar dan selamat.

Tahap terakhir, adalah tahap mendirikan bangunan yang didahului dengan mendirikan tiang-tiang, dilakukan dengan cara gotong royong. Tiang yang mula-mula didirikan adalah tiang-tiang utama di keempat sudut rumah, diikuti tiang-tiang lainnya. Kemudian secara bemrutan pada umumnya adalah tahap pemasangan slop, biasanya dengan sistem barasuk, pemasangan gelagar, tiang dinding, balok pengerat, nok, kuda-kuda, gording, balok, kasau, dan reng.

Menurut Rasyid, cucu Haji Abdul Gani Kamar, pada rumah bangun gudang yang didirikan kakeknya ini, menggunakan elemen kaca yang dibeli khusus dari Jawa. Penggunaan kaca yang memungkinkan perembesan cahaya lewat dinding kaca. Walaupun demikian juga menggunakan jendela terbuka.

BACA LAGI : Melintas Batas Benteng Tatas, Dibina Inggris hingga Bumi Hangus

Pihak yang melaksanakan pembangunan rumah tinggal adalah tukang-tukang dari Urang Banjar yang dipercaya oleh Haji Abdul Gani Kamar. Mereka sudah terbiasa membuat rumah dan sudah dipercaya serta hasil karyanya diterima masyarakat di Sungai Jingah. Bentuk arsitektur rumah Banjar, tidak dirancang oleh seorang arsitek (belum banyak arsitek di tahun 1925-an) tetapi diciptakan oleh tukang yang dipercaya.

Sejak didirikan pada tahun 1925 tidak banyak perubahan yang dialami rumah ini, hanya perbaikan dan penggantian sebagian atap sirap dengan seng yang pernah dilakukan. Meskipun memiliki konfigurasi rumah yang mirip dengan tipe Palimasan, namun rumah ini memiliki perbedaan yang cukup besar dalam pembentukan elemen elemennya. Rumah kembali menghadap ke arah Sungai Martapura, namun dengan halaman depan yang lebih kecil dan mengalami perkerasan.

Teras (palatar) luas sebagaimana lazimnya rumah Banjar, digantikan dengan teras kecil berukuran 1,5 x 1,5 didepan pintu masuk. Rumah ini kembali memiliki tiga pintu kembar namun dengan penempatan yang berbeda, satu pintu menjadi pintu masuk utama dan dua lainnya saling berhadapan membentuk tiga pintu kembar pada tiga sisi teras.

Tidak ada interupsi pada tindakan masuk disini, namun seorang tamu harus berhenti sejenak, memperhatikan dan memilih pintu mana yang yang akan diketuk dan sekaligus menjadi titik penerima. Sebenarnya dua pintu yang saling berhadapan telah lama tidak digunakan dan ruang yang tercipta dibelakang telah dipenuhi dengan perabotan yang jarang digunakan.

Mengenai bagian dalam rumah, cenderung lebih terang banyaknya jendela yang dibuka juga penggunaan warna merah pada dinding rumah. Ruang dalam kembali dibagi menjadi tiga bagian, panampik basar, dalam dan padapuran yang memiliki perbedaan ketinggian lantai dan ketiganya dipisahkan oleh dinding. Ruang depan merupakan satu pertiga bagian dari rumah. Seperangkat perabot yang dibeli sejak tahun 1925 hingga tahun 1960-an, terdiri atas meja panjang, satu kursi panjang dan tiga kursi berlengan, menegaskan fungsi ruangan tersebut sebagai ruang tamu.

BACA LAGI : Jembatan Coen, Penghubung Dua Tepian dan Kutipan Tol Sungai

Meskipun sifatnya publik dan terkesan fornal, tempat mengekspresikan dan menegosiasikan status keluarga dalam menerima tamu ini tampak dengan kehadiran ranjang besi terkadang dipakai untuk tidur atau untuk menaruh barang tidak terpakai-dan peralatan lainnya.

Tawing halat kembali digantikan oleh dinding masif, namun pada bagian ini hanya terdapat sepasang pintu kembar yang salah satunya tidak digunakan dan telah ditutup. Ruang tengah kembali menjadi pusat rumah, ruangan terbesar ini dipenuhi dengan beragam lemari pajang berisi peranti pecah belah, perangkat makan, dan barang antik. Sebuah kasur untuk bersantai dan tidur, televisi, ayunan anak dan peralatan domestik lainnya megenaskan posisi ruangan.

Di sinilah, Haji Abdul Gani Kamar dan keluarganya menerima tetamu dekatnya tanpa beban formalitas dan tata krama yang kaku. Berbeda dengan rumah pertama, dua ruang tidur terletak di bagian sebelah kanan ruang tengah. Dalam pemakaian, Gani dan istri memakai kamar sebelah depan. Sementara anak-anak memakai kamar lainnya atau pun tidur di ruang tengah.

Ruang belakang terbagi menjadi dua, setengah lebih ruangan menjadi semacam ruang serba guna dengan kehadiran tangga menuju ke kamar di ataas sebuah lemari es, jemuran dan beberapa barang lain serta sebuah pintu samping menuju gang kecil di samping rumah dan sungai kecil di belakangnya. Setengah bagian karena keluarga Haji Abdul Gani Kamar cenderung untuk bersantap bersama di ruang tengah.

Di sebelah kanan belakang dapur, terdapat dua buah kamar kecil sehingga faktor kenyamanan jelas bukan merupakan pertimbangan, mandi dan buang air di sungai merupakan kebiasaan yang sangat terlihat di sini. Pada sebelah kanan ruang terdapat semacam lorong yang berhubungan dengan garasi di depan.(jejakrekam)

Penulis adalah Staf Pengajar Prodi Sejarah FKIP ULM

Sekretaris Pusat Kajian Budaya dan Sejarah Banjar Universitas Lambung Mangkurat

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (LKS2B) Kalimantan