Kadar Garam Tinggi, Intake Sungai Bilu Terancam Tak Bisa Berproduksi

INTRUSI air laut dengan kadar garam semakin tinggi telah menyerbu Sungai Martapura, terutama di pabrik pengolahan air baku di Intake Sungai Bilu terhitung sejak Minggu (22/9/2019).

BERDASAR informasi yang dirilis Humas PDAM Bandarmasih menyebut kadar garam untuk air baku di Sungai Martapura mengalami lonjakan dari ambang batas 250 mg/liter menjadi 1.669mg/liter hingga Minggu (22/9/2019).

Akibatnya, air baku yang diolah di Intake Sungai Bilu untuk produksi tidak bisa dilakukan pabrik air milik Pemkot Banjarmasin, walau dicampur dengan suplai air yang dipasok dari Intake Sungai Tabuk. Ternyata, PDAM Bandarmasih tak bisa mengolahnya menjadi air bersih tawar, karena tingginya kadar garam yang tak bisa diturunkan.

BACA : Pipa Bocor, PDAM Bandarmasih Gratiskan Air Leding bagi Pelanggan Terdampak

Walhasil, IPA Pramuka di Jalan Pramuka, Banjarmasin yang selama ini mendistribusikan para pelanggan di wilayah Kecamatan Banjarmasin Timur dan Banjarmasin Selatan. Akhirnya, PDAM Bandarmasih pun harus putar otak untuk mendistribusikan air yang diolah dari IPA Pramuka bagi pelanggan di lima kecamatan yang menjadi wilayah cakupannya.

Dalam informasi PDAM Bandarmasih itu mengabarkan volume air yang diproduksi mengalami penurunan tekanan atau drop di berbagai wilayah. Ini diakibatkan terjadi penurunan tekanan air produksi yang dihasilkan dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) 2 Pramuka, hingga mencapai 32 persen. Terutama, untuk wilayah cakupan pelayanan PDAM di wilayah Kecamatan Banjarmasin Timur dan Banjarmasin Selatan.

Ketua Yayasan Sasangga Banua, Syahmardian mengakui gara-gara penurunan debit air yang disuplai PDAM Bandarmasih melalui jaringan pipanya ke rumah pelanggan, pasokan air pun semakin menepis.

“Sejak beberapa hari ini, tekanan air menurun dan volume air yang diterima pelanggan pun makin sedikit. Ya, kami memaklumi masalah ini akibat tingginya kadar garam yang telah memasuki kawasan Sungai Martapura, selama ini menjadi sumber air baku bagi Intake Sungai Bilu,” ucap Syahmardian kepada jejakrekam.com di Banjarmasin, Minggu (22/9/2019).

BACA JUGA : Air Laut Intrusi Sungai Martapura, PDAM Bandarmasih Jamin Masih Aman

Menurut dia, dengan terganggunya distribusi air bersih ke rumah pelanggan yang menjadi sumber satu-satu bagi kebutuhan masyarakat kota, maka PDAM Bandarmasin dan Walikota Banjarmasin harus segera mengambil sikap.

“Ya, kita tahu keterbatasan sumber daya air yang selama ini hanya bertumpu pada Intake Sungai Tabuk, namun masalah ini harus segera diatasi, karena krisis air bersih bisa membuat gaduh warga,” tutur Syahmardian.

Menurut dia, sudah saatnya penerapan kompensasi yang dilakukan PLN, bisa ditiru PDAM Bandarmasih dengan memberi keringan pembayaran rekening air listrik tiap bulan selama terjadi penurunan tekanan air.

“Untuk distribusi air bersih dengan mobil tangki juga harus menjadi perhatian.  Setidaknya diberikan gratis terutama kepada kawasan yang terdapat hebat,” ucap aktivis muda ini.

Caranya, beber Syahmardian, jika selama ini pembagian air harus kolektif dengan syarat minimal diteken lima warga setempat, bisa diubah dengan memberi keringanan.

“Polanya harus diubah demi mengatasi terjadinya penurunan kapasitas produksi air bersih dari PDAM Bandarmasih. Bagaimana pun masalah air bukan soal tanggung renteng, namun harus ada jaminan ketersediaan air bagi pelanggan tanpa syarat,” tuturnya.

BACA LAGI : Musim Kemarau, Pemakaian Air PDAM Bandarmasih Meningkat Tajam

Sayangnya, jejakrekam.com berusaha mengontak Direktur Teknik dan Operasional PDAM Bandarmasih Supian dan Humas PDAM Bandarmasih, Muhammad Nur Wahid belum bisa dikonfirmasi hingga Minggu (22/9/2019) malam. Telepon selulernya keduanya tak aktif hingga berita ini ditayangkan.(jejakrekam)

Penulis Asyikin/Arpawi
Editor Didi GS