Kemoderatan dalam Perbedaan

REKTOR UIN Antasari Prof Mujiburrahman di dialog budaya keagamaan Nusantara, Senin (16/9/2019), moderasi agama penting dikedepankan untuk sikapi keragaman. Moderasi agama adalah bagaimana agama disikapi, dipahami kepada esensi, dan substansi agama itu sendiri.

MODERASI itu sederhana, diantara dua ideologi yang ekstrem, di tengah yang moderat. Misalnya, kikir dan boros itu ekstrem hemat itu moderat,” ia mencontohkan.

Diungkapkannya, sikap moderat itu ditandai dengan mencari titik temu dalam perbedaan dan mengakui perbedaan dalam persamaan. “Ini yang perlu kita gali dalam kehidupan berbangsa dan bernegara termasuk dalam hubungan beragama,” ucapnya.

Menurutnya, Indonesia merupakan negara moderat, yang tidak berhaluan kanan dan bukan negara sekuler.

Diungkapkannya, masyarakat Banjar punya sejarah panjang sebagai masyarakat yang moderat. Dicontohkannya, di era Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, hukum waris tidak langsung diterapkan seperti dalam Ilmu faraid berdasarkan Alqur’an, namun juga mempertimbangkan budaya lokal yang berkembang di tengah masyarakat Banjar tempo itu.

“Sehingga muncul gagasan tentang hukum harta papantangan. Sebelum harta warisan dibagi oleh ahli waris, separo dibagikan terlebih dahulu kepada suami atau istri yang masih hidup, baru kemudian setengahnya dibagikan berdasarkan hukum waris,” pungkasnya.(jejakrekam)

Penulis Ahmad Husaini
Editor Andi Oktaviani