Punya Sejarah, Kalsel Paling Berpeluang Tuan Rumah Muktamar NU 2020

PERSAINGAN untuk menjadi calon tuan rumah Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) 2020, makin ketat. Ada tiga wilayah yang tengah membidik tuan rumah perhelatan organisasi masyarakat (ormas) Islam, yakni Kalimantan Selatan, Lampung dan DI Yogyakarta.

TIM verifikasi calon Muktamar 2020 dari PBNU dipimpin Robikin Emhas mendatangi Kalsel. Tim pun mengecek kondisi rencana lokasi perhelatan Muktamar NU 2020 di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Falah dan Asrama Haji Banjarmasin, Senin (16/9/2019).

Katib Syuriah PWNU Kalsel HM Syarbani Haira mengakui saat ini, saingan kuat Kalsel ada dua provinsi, yakni Lampung dan DI Yogyakarta.

“Sebelumnya, ada tujuh wilayah yang mengajukan jadi calon tuan rumah Muktamar NU pada 2020 mendatang. Yakni, Palembang (Sumatera Selatan), Padang (Sumatera Barat), Semarang (Jawa Tengah), dan Banten. Namun, untuk Semarang, kemungkinan tipis karena Muktamar Muhammadiyah akan berlangsung di kota itu, jadi tidak memungkinkan Pemprov Jawa Tengah menggelar dua even besar dari dua ormas Islam,” tutur Syarbani Haira kepada jejakrekam.com, Senin (16/9/2019).

BACA : Bisa Mengulang Sejarah, NU Kalsel Tawarkan Diri Tuan Rumah Muktamar ke-34

Mantan Ketua PWNU Kalsel ini mengakui berdasar permintaan PBNU, penyelenggara Muktamar 2020 akan digelar di pondok pesantren, karena sebelumnya pernah dihelat di asrama haji.

Jadi, tutur Syarbani, dengan kondisi itu, PWNU Kalsel mengusulkan pusat kegiatan akan berlangsung di Ponpes Al Falah, Ponpes Walisongo, Ponpes Darul Ilmi di Banjarbaru serta STAI Darussalam Martapura serta Kampus UNU Kalsel di Gambut. Termasuk, Asrama Haji Banjarmasin di Banjarbaru.

“Dari tempat yang ada, sangat memungkinkan untuk wadah bersidang dan menginap para delegasi. Apalagi, ada 34 delegasi dari seluruh provinsi di Indonesia. Termasuk, ada 30 negara yang akan mengirimkan delegasi dalam Muktamar NU 2020 mendatang,” tuturnya.

BACA JUGA : PW Muhammadiyah Kalsel Siap Jadi Tuan Rumah Muktamar Muhammadiyah Tahun 2025

Syarbani hakkul yakin Kalsel sangat berpeluang menjadi tuan rumah Muktamar NU 2020 mendatang, karena nilai plus adalah sisi historis. Kalsel merupakan satu-satunya jaringan NU di luar Pulau Jawa yang menggelar muktamar, tepatnya Muktamar ke-11 pada 1936.

“Bahkan, Muktamar NU ke-11 tahun 1936 di Banjarmasin itu melahirkan rekomendasi bentuk negara, apakah Darul Islam atau Darussalam. Akhirnya, Presiden Soekarno pun memilih konsep Darussalam yang diusulkan NU dari hasil muktamar itu,” ucap mantan wartawan ini.

Menurut dosen UNU Kalsel ini, konsep Darussalam yang ditawarkan NU menggambarkan negeri yang damai terinspirasi dalam ajaran Islam. “Semuanya itu terangkum dalam Pancasila yang sangat kuat mengandung ajaran Islam di dalamnya. Dari sila pertama hingga sila kelima, semuanya sejalan dengan ajaran Islam bersumber dari Alquran dan Hadits Nabi Muhammad SAW,” ucap Syarbani.

BACA LAGI : Guru Tuha Ponpes Darussalam, Pejuang Gerilya dan Pendiri NU di Kalimantan

Kelebihan lainnya, papar mantan dosen IAIN Antasari ini adalah posisi Kalimantan sebagai calon ibukota negara, sehingga hal itu akan menjadi pertimbangan plus PBNU dalam memutuskan siapa yang akan berhak tuan rumah muktamar.

“Inilah mengapa nilai plus Kalsel ini akan jadi pertimbangan PBNU. Dalam memutuskan siapa yang akan jadi tuan rumah muktamar, akan ditetapkan dalam rapat pleno PBNU pada akhir bulan ini dengan melibatkan seluruh PWNU se-Indonesia,” papar Syarbani.(jejakrekam)

 

 

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi