Sungai Jingah, Kampungnya Saudagar Banjar (1)

Oleh : Mansyur 'Sammy'

Foto : Koleksi KITLV

RUMAH tua nan kokoh berderet megah di tepian Sungai Martapura. Kampung tua itu pun hingga kini namanya tak berubah, Kampung Sungai Jingah yang kini termasuk dalam Kecamatan Banjarmasin Utara. Kini, Kampung Sungai Jingah telah terbagi dalam dua kelurahan; Kelurahan Sungai Jingah dan Kelurahan Surgi Mufti.

KETIKA masa Hindia Belanda, berdasar penelusuran Wajidi Amberi, sejarawan yang juga peneliti sejarah dari Balitbangda Provinsi Kalsel, terungkap Kampung Sungai Jingah awalnya sangat luas. Wilayahnya membentang dari Kampung Teluk Masjid (bekas lokasi Masjid Jami) hingga Kampung Kenanga (lokasi Museum Wasaka sekarang).

Karenanya, kampung-kampung yang ada sekarang, seperti kampung Teluk Masjid, Teluk Kubur, Kubah Surgi Mufti, hingga Kampung Kenanga secara administratif berada di kawasan Jingah. Dalam perkembangannya, penyebutan wilayah Sungai Jingah mulai menyempit.

Wilayah kampung ini hanya mencakup kawasan kampung di sepanjang jalan Sungai Jingah. Apalagi kawasan Jalan Sungai Jingah kini juga terbagi atas dua kelurahan yakni Kelurahan Sungai Jingah dan Kelurahan Surgi Mufti.  Kampung Sungai Jingah yang menjadi bagian dari Kelurahan Surgi Mufti disebut Kampung Surgi Mufti.

BACA : Antara Kauman dan Bong; Sekelumit Kisah Kampung Pekauman Banjarmasin

Kemudian, Kampung Sungai Jingah yang menjadi bagian Kelurahan Sungai Jingah dan disebut sebagai Kampung Sungai Jingah. Tapal batas dua kelurahan itu adalah batas alam yakni sungai kecil (handil) Sungai Jingah.

Nama Kampung sungai Jingah berasal dari nama sungai kecil bernama Sungai Jingah. Sungai ini merupakan sebuah handil atau semacam saluran yang muaranya di sungai atau di anjir/antasan. Sungai Jingah mengalir menuju Sungai Andai dan bermuara di Sungai Pangeran.

Penamaan Sungai Jingah kemungkinannya adalah bahwa dahulunya di sepanjang sungai kecil ini terdapat banyak pohon Jingah. Jingah adalah vegetasi khas tanaman rawa di wilayah Banjarmasin dan sekitarnya.

Penggambaran mengenai posisi Sungai jingah atau Soengai Djinga terdapat dalam sumber peta Hindia Belanda berjudul Schetskaart van de Hoofdplaats Bandjermasin en Omliggend Terrein (peta sketsa wilayah utama di Banjarmasin dan sekitarnya), diterbitkan pada tahun 1916 yang dibuat H.P. Loing. Adapun lokasi Sungai Jingah dalam peta tersebut ditampilkan sebagai berikut.

BACA JUGA : Riwayat Pelabuhan Martapura Lama Era Belanda dan Jepang

Wajidi juga memaparkan, pada kawasan ini dahulunya berdomisili beberapa saudagar kaya. Satu di antaranya H. Muhammad Said Nafis. Rumah sang saudagar ini di Sungai Jingah berada dekat Kubah Surgi Mufti. Tepatnyadi arah sisi barat kubah tersebut. Namun sayangnya, satu di antara rumahnya berarsitektur Eropa sudah dirobohkan ahli warisnya.

Muhammad Said Nafis mempunyai armada kapal dan beraktivitas melakukan perdagangan antar pulau. Komoditas utama yang diperdagangkan adalah tembakau(timbako). Muhammad Said Nafis juga mempunyai rumah di Ampenan Pulau Lombok, dan dikenal saudagar paling kaya di sana.

Seperti disitir sebelumnya, diperkirakan, penamaan kampung ini karena dahulunya di tempat tersebut, berdomisili beberapa saudagar kaya dengan rumah-rumah besar dan mewah. Satu di antaranya, saudagar H Muhammad Said Nafis.

BACA JUGA : Pasar Soedimampir dan Amarah si Jago Merah

Nama saudagar H. Muhammad Said Nafis, biasanya dipanggil Thaib Nafis. Rumah Nafis bertipe rumah panggung tingginya sekitar satu meter, terbuat dari bahan ulin. Sebagai orang kaya, Nafis memiliki banyak peralatan memasak yang berukuran besar seperti bogol (tempat memasak daging) dan ceper dari bahan kuningan. Karena itulah,ketika masyarakat kampung yang punya hajat menikahkan anak, biasanya meminjam barang tersebut ke Thaib Nafis.

Selain saudagar H Muhammad Said Nafis, juga terdapat rumah megah bertipe Bangun Gudang di Sungai Jingah, milik H.A. Gani Kamar atau Haji Abdul Gani Kamar. Dia merupakan seorang saudagar dengan matapencaharian sebagai pedagang antar pulau. Gani berdagang tembakau dan Bawang dari Bima dan Surabaya.

Selain itu, terdapat pengusaha lain yang terkenal berasal dari Sungai Jingah yakni Hadji Koetoei atau Haji Kutui. Beliau memiliki usaha yakni dok tempat pembuatan kapal di wilayah Sungai Jingah. Dok tempat pembuatan kapal sungai telah lama menjadi tradisi masyarakat di Kota Banjarmasin.

BACA LAGI : Melintas Batas Benteng Tatas, Dibina Inggris hingga Bumi Hangus

Ditinjau dari kurun waktu pembangunan rumah-rumah yang ada di kawasan ini dibangun sekitar awal hingga pertengahan Abad 19. Bangunan arsitektur rumah panggung dengan bahan bangunan didominasi kayu ulin. Lalu lintas jalur sungai dan pelayaran antar daerah hingga saat ini masih bisa dilakukan, hanya saja perahu tertentu karena konstruksi ketinggian jembatan yang kadang kurang mendukung/terlalu rendah sehingga menghalangi lalu lintas perahu besar yang melintas khususnya di saat air sungai pasang.

Kampung Sungai Jingah, tertulis dalam register Pemerintah Hindia Belanda tentang kampung-kampung yang terletak di sepanjang Sungai Martapura ke Sungai Barito. Khususnya di wilayah Bandjermasin en Ommelanden. Pendataan ini dilakukan .G. Stemler pada akhir bulan Desember 1886 dan dibukukan dalam buku Jaarboek van het mijnwezen in Nederlandsch Oost-Indie, volume 22, tahun 1893.7

Nama Kampung SungaiJingah ditulis dengan Soengei Djingga. Kemudian dalam laporan South Coast Of Kalimantan From Tanjung Puting To Selat Laut, Sailing Directions for Celebes, Southeast Borneo, Java (except from Java Head to Batavia), and Islands East of Java yang dirilis Hydrographic Office, 1935, juga memberikan beberapa informasi tentang Sungai Jingah.

Pada laporan yang diterbitkan tahun 1935 tersebut, dituliskan telah dibangun suar (lampu petunjuk) untuk kapal kapal yang berlayar di Sungai Martapura. Satu diantara lokasi pembangunan suar tersebut adalah di pintu masuk (muara) Sungai Djinga. Suar ini diletakkan di plat logam/besi setinggi 5 meter, berdiri di sisi sungai, 3 mil dari Tanjung Telan.

BACA LAGI : Berawal dari Langgar Berdiri Masjid Noor, Masjidnya Para Pedagang

Bahkan dituliskan terdapat sebuah rumah Banjar berwarna putih yang didirikan di tepi sungai, di sekitar Muara Sungai Djinga. Sementara Dalam peta Hindia Belanda, tahun 1916, nama sungai Jingah ditulis dengan Soengai Djinga. Pada wilayah sekitar kampung Sungai Jingah terdapat kampung bernama Kampung “Djuragan Koesin”.

Penduduk setempat, Syarkawi, mengakui memang pada lokasi yang berdekatan dengan simpang tiga Sungai Jingah terdapat sungai kecil. Masyarakat setempat mengenalnya dengan nama Sungai “Juragan Kusin”. Kondisinya saat ini sungai tersebut hampir “sekarat” dan akan menjadi sungai “mati” karena kondisinya surut. Kemudian pada bagian tepi, bahkan sampai ke tengah sungai banyak dijadikan perumahan penduduk.

Pada zaman Hindia Belanda, Banjarmasin menjadi pelabuhan masuk dan keluar bagi seluruh wilayah Hinterland di Daerah Aliran Sungai Baritodan merupakan pelabuhan transito untuk kapal-kapal yang datang dari Singapura dan Jawa, ke pantai timur Kalimantan. Dari Kalimantan, dikirim keluar barang-barang hasil hutan seperti rotan, damar, kapur barus, karet, jelutung, tikar purun, telur itik, buah-buahan, barang anyaman rotan, batubatuan dan berlian.

Barang yang masuk terdiri dari beras, ikan asin, barang, barang pecah belah, minyak tanah, garam, besi dan sebagainya. Industri orang Eropa pada waktu itu terdiri dari pabrik es, galangan kapal yang kecil milik Borneo Industri Mij dan perdagangan yang dikelola oleh Borneo Soematra Handel Mij, Heinneman & Co, dan Kantor Cabang dari Javasche Bank en Factorij.

Pada masa itu, Banjarmasin mempunyai pelayaran yang teratur dan langsung dengan Sampit, Kotabaru, Samarinda, Martapura, Marabahan, negara, Amuntai, Buntok, Muara Teweh dan Kuala Kapuas dan di luar wilayah Kalimantan dengan Surabaya dan Singapura.(jejakrekam/bersambung)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin