ACT

Dayak Bakumpai, Pendakwah dan Penyebar Islam di Pedalaman Kalimantan (3-Habis)

0 1.398

HUBUNGAN erat suku Dayak Bakumpai dan Kesultanan Banjar bak pinang dibelah dua. Sebagai masyarakat pedagang perantara sekaligus penyebar dakwah Islam hingga ke pedalaman Kalimantan.

SOSIOLOG dan antropolog Universitas Lambung Mangkurat, Setia Budhi mengetengahkan sebuah kajian sejarah Tumenggung Dayak di kawasan Sungai Barito. Hasil riset Helius Sjamsuddin yang dirangkum dalam sebuah buku berjudul Pegustian dan Temenggung terbitan Balai Pustaka tahun 2000.

“Sjamsuddin menyinggung soal islamisasi suku Dayak di Kalimantan pada abat ke-17 dan 18. Dalam kajian ini, menempatkan suku Dayak Bakumpai sebagai pendakwah dan penyebar agama Islam ke pedalaman Kalimantan. Dia mengkategorikan orang Bakumpai merupakan perantara dua budaya antara Melayu dan Dayak. Ini erat kaitannya dengan orang Melayu yang ada di kawasan pantai Kalimantan Selatan,” tutur Setia Budhi kepada jejakrekam.com, belum lama ini.

BACA : Diaspora Orang Bakumpai dari Barito hingga ke Mahakam dan Katingan (1)

Sedangkan, beber dia, ZA Maulani dalam buku Pedalaman Kalimantan: Kearifan Budaya dan Etnik (2000) mengutip pendapat antropolog Inggris, Charles Hose, memasukkan orang Bakumpai dalam etnik Dayak dari sub Kahayan, dipercayai berasal dari satu desa dengan istilah Bakumpai di hulu Sungai Barito.

“Mereka ini yang melakukan migrasi ke kawasan selatan. Yakni, ke kawasan Sungai Kahayan dan Sungai Mentaya Sampit sehingga ke kawasan Tumbang Samba, Sungai Kasongan di Kalimantan Tengah,” ucap Setia Budhi.

Pendapat lain juga dikemukan Bernad Selatto (2000), seorang doktor antropolog EHESS Paris, Perancis, dari hasil risetnya di Borneo pada 1973-1975, menyebut jika orang-orang Dayak Ngaju di kawasan Sungai Barito disebut dengan Biaju.

“Sellato berpendapat Ngaju atau Biaju menggambarkan suku-suku yang tinggal di hulu sungai, khususnya di hulu Sungai Barito dan Sungai Kahayan. Salah satu rumpunnya adalah orang Bakumpai. Dalam hal ini, bahasa Ngaju merupakan bahasa penghubung atau lingua franca di kawasan Kahayan, Katingan dan Barito yang digunakan masyarakat Kalteng dan Kalsel. Ini menandakan orang Bakumpai berasal dari Dayak Ngaju,” tutur Setia Budhi.

BACA JUGA : Bandar Marabahan dan Melacak Asal Usul Orang Bakumpai (2)

Doktor antropologi jebolan Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) ini mengatakan dari pendapat Sellato itu menduga orang-orang Bakumpai yang datang dan menetap di Sungai Ratah, sebuah sungai di aliran Sungai Mahakam, Kalimantan Timur berasal dari Kalimantan Tengah.

“Nah, komunitas Dayak Bakumpai telah memeluk Islam. Dengan kata lain, orang-orang Dayak yang telah memeluk Islam adalah etnis Bakumpai. Namun, hubungan orang Bakumpai dengan Dayak, hanya terkait dengan tradisi pengobatan seperti upacara Badewa Mananamba, yang melibatkan makhluk gaib,” ucap Setia Budhi.

Hal ini diperkuat lagi dengan penelitian manuskrip pengobatan tradisional Dayak yang dilakukan seorang Dokter AH Klokke yang pernah bertugas di Kuala Kapuas, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.

“Dalam pandangan Klokke (1988) mengkaji jika tradisi pengobatan Dayak Ngaju dengan menggunakan persembahan atau sesaji sama dengan upacara Badewa dalam kultur masyarakat Bakumpai dengan melibatkan seorang balian,” kata Setia Budhi.

BACA LAGI : Etnis Bakumpai Lebih Dulu Menganut Islam Dibanding Masyarakat Banjar

Dengan begitu, Setia Budhi menegaskan orang Bakumpai sangat jelas berasal dari Dayak Ngaju atau Ot Danum yang bermukim di Kalimantan Tengah. Masih menurut Setia Budhi, posisi orang-orang Bakumpai sangat strategis dalam memainkan peran bagi masyarakat Dayak dalam pergulatan melawan kolonial Belanda. Hingga sebagian sejarawah berpendapat jika pasukan elit Kesultanan Banjar didominasi orang-orang Dayak Bakumpai yang telah memeluk Islam.

“Peranan orang-orang Bakumpai selaku penyebar dan pendakwah Islam di Tanah Dayak Kalimantan Tengah, sangat kental. Hal ini tak terlepas dari hubungan erat mereka dengan Kesultanan Melayu Banjar. Hanya orang-orang Dayak Bakumpai yang mampu memadukan kebudayaan Islam yang diserap dari Melayu Banjar, di sisi lain mereka tetap mempertahankan tradisi leluhur. Tak mengherankan, jika para pedakwah Islam dari kalangan Dayak Bakumpai ini bisa menembus pedalaman Kalimantan Tengah, Timur dan Selatan,” imbuhnya.(jejakrekam)

 

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.