Bela yang Tersisih, Kritik Tajam Puisi Banjar Seniman Nyentrik YS Agus Suseno

ADA tujuh puisi yang dibacakan seniman nyentrik Kalimantan Selatan, YS Agus Suseno berisi kritikan sosial, petuah dan nasihat kepada anak Banua agar peduli dengan kondisi yang ada khusus di Kalimantan Selatan.

DI malam santuy, di Kampung Buku Jalan Sultan Adam yang dibina para sastrawan dan pegiat literasi pimpinan Hajran Syah, Jumat (6/9/2019) malam, YS Agus Suseno dengan intonasi khasnya saat membacakan puisi menggugah pada pendengarnya.

Di bawah temaran lampu warna-warni, YS Agus Suseno pun membacakan bait demi bait puisinya berjudul Gunturnya Haja-Hujannya Kada. Puisi ini berisi kritikan kepada para wakil rakyat dan kepala daerah yang membutuhkan suara masyarakat, seakan begitu baiknya. Namun, begitu sudah menduduki posisinya, rakyat pun terlupakan dan terus tersisih dari dinamika kehidupan.

BACA : LK3 dan Komunitas Seni Kotabaru Gelar Musikalisasi Puisi Karya YS Agus Suseno

Giliran puisi berbaha Banjar kedua pun disuarakan sang penyair yang juga dikenal kalangan seniman sebagai ‘Datu Tadung Mura’, karena kritisannya menyemprot para pelaku curang ini. Puisi berjudul Ilmu Mahumpinak Macan yang ditulis pada 3 Januari 2018 ini, cukup tajam berisi pesan dan kritik terhadap pemimpin daerah.

Makin malam makin bersemangat. Sang penyair YS Agus Suseno pun melanjutkan puisi ketiga yang ditulis pada 9 Januari 2019 berjudul Kuur Sumangat. Sebuah tradisi lisan rakyat Banjar yang memberi semangat orangtua kepada sang anak ketika tertimpa musibah atau bencana.

Dalam puisinya, Agus Suseno lagi-lagi menyinggung soal ketika rakyat jelata (urang jaba dalam bahasa Banjar) justru menjadi korban penipuan demi kekuasaan para pejabat, hingga menjual agama. “Namun, semua itu yang mengajari justru orang Jakarta,” kata Agus Suseno.

Usai tiga puisi, dialog pun digelar di jeda waktu. Banyak para seniman, aktivis kampus, pegiat LSM, jurnalis hingga Kepala Perwakilan Ombudsman Kalsel Noorhalis Majid pun memberi tips agar kekritisan sang seniman dan budayawan Banjar, YS Agus Suseno tetap terjaga.

Malam kian larut, hingga menjelang tengah alam, dua puisi berbahasa Banjar pun kembali disuguhkan kepada khalayak. Puisi berjudul Pian Tahu Kada? Yang ditulis pada 25 Februari 2019 dibacakan Agus Suseno.

BACA JUGA : Kritik YS Agus Suseno dalam Monolog Dua Perempuan

Dalam puisi ini, Agus menyinggung ketika tanah warisan pada leluhur atau pedatuan justru telah dikavling-kavling para pencoleng atau maling. Ironisnya, warga Banua (Kalsel) justru terkesan diam, tanpa melawan atau memprotes.

Sang penyair ini juga menyentil peran para akademisi yang memiliki daya nalar tinggi dan luas justru juga membiarkan ketika tanah Kalimantan Selatan malah dikuasai segelintir orang.

“Inilah yang terjadi ketika Pegunungan Meratus yang merupakan warisan dari para leluhur kita telah dibagi-bagi untuk konsensi tambang dan sawit. Rakyat Kalsel hanya menikmati derita, dan terusir dari tanah leluhurnya,” tutur Agus Suseno.

Bagi dia, gerakan #SaveMeratus yang digelorakan koalisi masyarakat sipil seperti Walhi Kalsel, masyarakat Adat, aktivis LSM, para jurnalis, akademisi dan lainnya harusnya gayung bersambut dengan pemerintah daerah sebagai empunya Banua dalam memagarinya agar tetap lestari.

BACA LAGI : Di Bawah Langit Beku: Mimpi Lama Penyair Agus Suseno

Dengan gaya khasnya, Agus Suseno pun membacakan puisi pamungkasnya. Judulnya Urang Banua yang ditulis di Kotabaru, pada 7 November 2019, disambung dengan Batak Ka Pinggir, lalu puisi lainnya Sakira Hidup Sampuraka yang berisi kecaman dan sumpah serapah sang seniman kepada warga Banua yang tak peduli dengan nasib anak bangsanya.

Nasihat pun diberikan kepada para mahasiswa yang ternyata tidak begitu familiar dengan puisi-puisi berbahasa Banjar diberikan Agus Suseno. Ia mengaku mafhum, ketika puisi berbahasa Banjar kurang dikenal di tengah modernitas dan anak zaman now yang gandrung dengan gawai.

Puisi berjudul Papadah Sagan Ading-Ading yang ditulis YS Agus Suseno pada 16 September 2018 lalu, berisi nasihat agar anak muda bisa bijak mencari kawan. Dengan bahasa metafora, Agus pun mengutip papadah urang bahari atau nasihat orangtua di suku Banjar agar jangan berkawan dengan penjual arang kayu atau pandai pesi yang diartikan secara luas menggambarkan orang yang beranasir negatif, kemudian penjual minyak wangi dan orang alim sebagai hal yang positif.

BACA JUGA : Lakon Wayang Banjar di Temaran Blencong, Akhir Malam Karasmin Budaya

Terakhir, puisi berjudul Takaji Ilmu Tampulu yang ditulis sang penyair Banjar ini pada 9 Maret 2018, berisi kritikan keras terhadap tabiat orang-orang tamak, rakus dan gila jabatan yang menyengsarakan rakyat kebanyakan. Hingga puncaknya, puisi Haan Napa Tia? Sebuah puisi berbahasa Banjar yang menggambarkan apa yang didapat ketika semua orang bungkam dengan keadaan, tanpa ada perlawanan.

“Jujur saja, puisi-puisi berbahasa Banjar yang saya susun sering diposting akun facebook pribadi  saya. Syukur alhamdulillah, banyak yang suka, bahkan menjadi inspirasi dalam bentuk seni lainnya. Ya, seperti pelukis Banua yang menasional dan internasional, Misbach Tamrin akan melukis soal Save Meratus dalam karyanya yang akan dipamerkan di Samarinda, pada pertengahan September ini,” tutur YS Agus Suseno.

BACA LAGI : Walau Tak Punya Aksara, Bahasa Banjar Kaya dengan Karya Sastra

Bahkan, menurut dia, para penutur bahasa Banjar yang ada di Negeri Malaysia, dan Tembilahan, Riau dan daerah lainnya merupakan keturunan orang Banjar, justru sangat merespon dengan puisi-puisi berbahasa Banjar ini.

“Anehnya, seniman atau penyair di Kalsel malah tidak tahu menahu soal ini. Padahal, lewat puisi bisa menggerakkan semangat dan kepedulian terhadap Banua yang kini tak lagi bisa kita nikmati sebagai warisan bagi anak cucu kita,” pungkasnya.(jejakrekam)

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi