Universitas NU: Menjawab Tantangan, Menangkap Peluang

PERGURUAN tinggi swsta semakin menggeliat. Berkembang mengikuti perubahan zaman. Kampus berbasis organisasi massa, juga tumbuh. Tuntutan peningkatan sumber daya manusia, menjadi peluang kampus berinovasi. Sekarang, tantangan baru dunia digital, harus pula dihadapi. Digitalisasi, melahirkan robotik, artificial intellegece, membabat banyak peluang kerja. Kedepan, perkembangannya semakin dahsyat. Kampus harus cepat berubah agar tidak dimakan zaman.

UNIVERSITAS Nahdatul Ulama atau UNU, berdiri tahun 2014. Gagasannya sudah ada sejak awal 90-an. Zaman Prof DR H Zurkani Yahya, kemudian dilanjutkan oleh Syarbaini Haira. Mereka menggagas Yayasan Bintang Sembilan. Lalu, pada tahun 2010, dalam sebuah seminar di Mahligai Pancasila, kembali diungkapkan kesanggupan NU mendirikan perguruan tnggi.

“Waktu itu saya juga terlibat sebagai narasumber bersama Syarbaini Haira, dan kemudian dipersiapkan, hingga tahun 2014 UNU berdiri,” kata Rektor UNU Kalsel DR H Gerilyansyah Basrindu, mengawali obrolan di Palidangan Noorhaliis, Pro 1 RRI Banjarmasin, Kamis (5/9/2019.

Sumber daya manusia di kalangan NU ini sangat banyak, hal tersebut menjadi peluang bagi NU untuk memiliki kampus atas nama NU. Selama ini hanya dimiliki oleh warga NU. Tidak kurang 200 kampus sudah berdiri, tersebar di seluruh Indonesia. Sedangkan kampus UNU itu sendiri baru ada 33 di seluruh Indonesia.

Sekarang sudah memasuki tahun kelima. Insya Allah tahun ini wisuda pertama. Sekarang sudah ada 6 fakultas dan 10 program studi. Lebih banyak IPTEK. Beberapa yang sosial juga arahnya ke IPTEK. Jurusan Farmasi, fokus pada obat-obatan tradisional. Bahkan ada hasil penelitian tentang khasiat kalakai, sayur yang sangat digemari.

“Luas areal kampus kita 4,5 hektare. Areal ini sangat cukup bagi pengembangan kampus kedepan. Areal kampus itu minimal 1 hektar. Jadi kalau 4,5 hektare, artinya lebih dari cukup untuk berkembang,” katanya.

Tantangan kedepan, harus bersaing dengan perguruan tinggi yang lebih dahulu ada. UNU pendatang baru. Karenanya, bukan hanya harus berlari, tapi juga melompat agar cepat mengejar ketertinggalan. Layar sudah terkembang, pantang surut ke belakang, demikian kira-kira pribahasa yang harus kita pegang. Apapun yang terjadi, harus tetap memajukan UNU karena orang sudah mulai percaya dan menitipkan anaknya kuliah di UNU.

BACA : Sukses Dirikan Universitas, NU Kalsel Target Berdiri 16 SMK di Kalsel

“Agar semakin banyak peminatnya, kita juga mengharapkan pesantren merekomendasikan alumninya melanjutkan ke UNU. Sedang dirintis kerjasama dengan pengurus wilayah ikatan pesantren se-Kalimantan Selatan. Agar pesantren dapat menyalurkan alumni ke kampus UNU. Sebaliknya, alumni UNU dimanfaatkan pesantren,” tuturnya.

Kerjasama luar negeri dilakukan. Dengan Malaysia. Alumni akan diberikan kesempatan bekerja di perusahaan milik Malaysia. Dalam rangka menjawab berbagai kerjasama tersebut, sekarang sedang dilakukan desain ulang kurikulum yang baru, yang menyeimbangkan Imtak dan Iptek.

Apalagi sekarang era 4.0, perlu kerjasama dengan perguruan tinggi yang lain. Sekarang sudah ada kerjasama dengan perguruan tinggi yang juga memiliki jurusan TI, antara lain STIMIK, Sari Mulia. Pakar IT di kampus tersebut juga membantu UNU. Pun pakar IT dari Universitas Sultan Idris Malaysia. Mereka memiliki ahli pembuatan game untuk pendidikan. Di dalam negeri ada kerjasama dengan Universitas Budi Luhur Bandung, mereka ahli security system. Semua kerjasama itu, diharapkan terjadi transfer pengetahuan, sehingga semakin menguatkan sumber daya yang ada di UNU.

“Sekarang ini jumlah mahasiswa UNU sudah mencapai 670 orang, mereka terbanyak ada di Teknologi Informatika dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Sisanya merata dan harus terus berjuang untuk diminati,” katanya.

Pendengar Palidangan Noorhalis turut berpartisipasi, Saddam di Kotabaru, menanyakan soal apa pentingnya mendatangkan orang lain untuk mengajar. “Apakah tidak ada orang kita yang mampu mengajar,” katanya.

Gerilyansyah memberikan tanggapan, bahwa melibatkan orang lain sebagai dosen, memiliki nilai tambah dalam angka kredit atau akreditasi suatu kampus. “Universitas negara lain juga membangun kerjasama dengan kita agar bisa saling belajar. Malaysia misalnya, tertarik dengan kita untuk bekerjasama. Karena ada beberapa perkembangan yang sesuai dengan jurusan di kampus mereka. Misalnya ketika Banjarmasin menuju smart city, Malaysia tertarik mengkaji dan menerapakan ilmu yang mereka tekuni,” bebernya.

Sekarang ini perguruan tinggi asing boleh buka, hanya saja kita masih menahan, karena tentu belum siap. Rektor asing juga ramai dibiarakan, karena kampus di Bali sudah merekrut rektor dari Korea. Semua itu dalam rangka saling belajar dan percepatan kemajuan.

BACA JUGA : UNU Kalsel Rambah Luar Negeri, Teken MoU dengan 40 Universitas Top Taiwan

UNU sedang mempersiapkan beasiswa yang berasal dari warga NU, dalam bentuk orang tua asuh. Atau rekomendasi dari ranting atau cabang, sehingga dengan itu yang bersangkutan dibebaskan biaya kuliah atau mendapat 50 persen potongan.

Sistem pelajaran atau per kuliah menggunakan online juga sedang dikembangkan. Sejumlah mata kuliah yang memungkinkan disampaikan secara online dipilih. Namun mata pelajaran yang memerlukan pemantauan perubahan sikap dan prilaku, masih harus tatap muka langsung. Sekaranng 40 persen-50 persen sudah online.

Dosen yang sebagian besar masih muda, sangat mudah beradaptasi. Sehingga online kedepan akan sangat memudahkan proses belajar, karena era digital tidak bisa dilawan.

Program magang juga dilakukan. Sekarang sudah ada kerjasama dengan beberapa Dinas terkait, dengan perusahaan IT atau komputer. Sedangkan untuk Kuliah Kerja Nyata, kita sudah mulai lakukan dan bekerjasama dengan Pemda Tanah Laut, pertimbangannya lebih dekat dan mudah memantaunya.

Kegiatan ekstra juga ada, organisasi kampus antara lain BEM, Menwa, dan kesenian Islam, juga ada grup band. Kelompok studi melakukan kegiatan setiap Jumat. Mahasiswa juga mengikuti berbagai lomba, baik lokal maupun nasional.

“Kedepan, kita masih memerlukan bangunan fisik, terutama laboratorium. Penyediaan peralatan teknologi informatika, server yang memadai. Juga akan mengintensifkan kerjasama dengan pesantren, termasuk pesantren yang ada di luar Kalsel,” katanya.

Pesantren kita rata-rata sudah memiliki unit usaha, peluang ini akan ditangkap jurusan akuntasi ekonomi syariah, untuk membantu pengembangan unit usaha di pesantren. Setidaknya sudah ada lebih dari 250 unit usaha pesantren. Ini peluang yang sangat besar bagi alumni akuntasi ekonomi syariah.

“Terakhir, Universitas NU sudah ada, mari kita bangun bersama-sama, UNU sendiri sedang mempersiapkan jejaring melalui pesantren dan sekolah-sekolah yang selama ini sudah diinisiasi warga NU. Semoga dengan itu UNU semakin berkembang,” pungkasnya.(jejakrekam)

Penulis Arpawi
Editor Andi Oktaviani