Bandar Marabahan dan Melacak Asal Usul Orang Bakumpai (2)

Foto : luk.staff.ugm.ac.id/KTLV

PENJELAJAH Eropa Carl A.L.M Schwaner berkeyakinan Dayak Bakumpai yang bermukim di sepanjang Daerah Aliran Sungai Barito (DAS) merupakan etnis Dayak Ngaju. Naturalis Jerman yang bekerja di Museum Leiden ini cukup apik mencatat perjalanannya mengitari pedalaman Kalimantan di masa kolonial Belanda.

RUTE  penjelajahan Schwaner, berangkat dari Banjarmasin pada 2 November 1847 dan berakhir di Pontianak tiba pada November 1848. Schwaner pun dipercaya merupakan penjelajah Kalimantan pertama dari bangsa Eropa.

“Dari catatan Schwaner (1853) dalam ekspedisi geologi di Sungai Barito menyatakan Bandar Marabahan atau Muara Bahan merupakan pusat perniagaan atau perdagangan yang besar untuk kawasan Sungai Nagara, Sungai Kapuas dan Sungai Kahayan, ketika itu,” ucap Ketua Program Studi Sosiolog FISIP Universitas Lambung Mangkurat, Setia Budhi Ph.D kepada jejakrekam.com, Selasa (3/9/2019).

BACA : Diaspora Orang Bakumpai dari Barito hingga ke Mahakam dan Katingan (1)

Nah, menurut Setia Budhi, di Bandar Marabahan merupakan tempat tinggal orang-orang Bakumpai, dan berinteraksi dengan dunia luar, terutama orang-orang Melayu. Bahkan, Bandar Marabahan menjadi dermaga perdagangan besar yang menghubungkan orang-orang Dayak di pedalaman Kalimantan dengan Melayu-Banjar di kawasan pesisir atau pantai.

“Ini dibuktikan dalam gambaran Schwaner, banyaknya perahu-perahu niaga yang bersandar di Bandar Marabahan,” tuturnya.

Sosiolog lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menyebut dari riset Schwaner juga menyebut peranan kuat orang-orang Bakumpai dalam menyebarkan Islam sejak tahun 1688. Diakui Setia Budhi, Schwaner sendiri tidak mengenal akrab bahasa Bakumpai karena berbeda dengan bahasa yang dituturkan daerah pesisir, terutama Melayu Banjar.

BACA JUGA : Etnis Bakumpai Lebih Dulu Menganut Islam Dibanding Masyarakat Banjar

“Dari sini, Schwaner meyakini dari banyaknya kosa kata Dayak menunjukkan asal usul orang Bakumpai berasal dari Dayak Ngaju. Berbeda dengan pendapat pakar antropologi Eropa mengkategorikan Bakumpai bagian dari kumpulan Dayak Barito atau Ngaju,” tutur Setia Budhi.

Masih menurut dia, ada pula yang mengistilahkan “Ngajus” atau Oloh Tumbang yang berada di muara Sungai Barito, menunjukkan keberadaan komunitas Bakumpai.  Pendapat senada juga dilontarkan Ibrahin (1978) dari aspek ethno linguistik hingga Rahmi (1987), menyelidiki kepercayaan atau agama Dayak Bakumpai sangat dipengaruhi Melayu Banjar.

“Begitupula, A.B Hudson (1967) mengaitkan bahasa yang dipakai di Kalimantan Tengah, terutama di DAS Barito atau Barito Isocel, sebagian besar penutur bahasa adalah orang-orang Bakumpai,” beber Setia Budhi.

BACA LAGI : Dermaga Muara Bahan dan Kisah Para Pemburu Rempah (3-Habis)

Lain lagi dengan sejarawan Dayak, Tjilik Riwut (1993) menegaskan orang Bakumpai bagian dari 7 kelompok besar Suku Dayak. Suku Dayak itu terbagi dalam Dayak Ngaju, Dayak Apu Kayan, Dayak Iban dan Heban atau Dayak Laut, Dayak Klemantan atau Dayak Darat, Dayak Murut, Dayak Punan, dan Dayak Ot Danum.

Berdasar pendapat Tjilik Riwut, Suku Dayak Ngaju terbagi dalam empat suku besar yakni Ngaju, Ma’anyan, Lawangan dan Dusun. “Jadi, Tjilik Riwut berpendapat orang Bakumpai termasuk dalam rumpun Dayak Ot Danum yang terbagi dalam 68 suku kecil, di antaranya Ngaju, Kapuas, Kahayan, Katingan, Sampit dan Seruyan,” tutur Setia Budhi.

BACA LAGI : Dermaga Muara Bahan dan Kisah Para Pemburu Rempah (2)

Namun, menurut Setia Budhi, baik Dayak Ngaju maupun Dayak Ot Danum mengandung arti yang sama, yakni Ot berarti hulu dan Danum sinonim dengan air. Jadi, kata dia, Ot Danum berarti hulu air atu hulu sungai yang menunjukkan orang yang tingal di hulu sungai udik.

“Ini selaras dengan Ngaju yang berasal dari kata Bi-aju. Sedangkan, Bi-aju berarti udik jadi Bi-aju artinya dari Udik. Ngaju memiliki makna Udik. Dengan demikian, orang Bakumpai berasal dari suku Dayak, terutama Dayak Ngaju dan Ot Danum,” imbuhnya.(jejakrekam/bersambung)

 

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi