ACT

Melintas Batas Benteng Tatas, Dibina Inggris hingga Bumi Hangus

Oleh : Masyur ‘Sammy’

0 278

TATAS awalnya masuk wilayah Kesultanan Banjar yang berbentuk delta. Delta inilah yang seiring perkembangan geografis menjadi sebuah pulau kecil yang dinamakan Pulau Tatas. Nama Tatas yang diambil dari nama tempat itu sendiri yaitu Pulau Tatas.

SEBELUMNYA Kota Banjarmasin lebih dikenal dengan sebutan Pulau Tatas yang berasal dari bahasa daerah watas artinya batas. Penamaan tersebut diambil dari keadaan tempat itu dikelilingi  Sungai Martapura serta anak-anak sungainya, sehingga tampak merupakan batas-batas untuk tempat itu sendiri.

Delta ini terletak pada posisi persimpangan sungai antara Sungai Martapura (atau Sungai Cina) dengan Sungai Antasan (atau Sungai Kween). Tempat ini sangat strategis karena terletak di persimpangan. Bila ke barat maka akan memasuki wilayah tradisional Kerajaan Banjar awal di Kween. Sementara itu dari wilayah Tatas terus ke arah timur akan menuju Martapura dan daerah Hulu Sungai.

BACA : Nasib Meriam Kuno Warisan Benteng Tatas yang Makin Tak Jelas

Sebab, letaknya yang sangat strategis itulah, armada­armada dagang milik bangsa­bangsa Eropa seperti Portugis, Inggris, Belanda, Cina, Melayu, Bugis, Jawa, acapkali melabuhkan jangkarnya di Bandar Tatas.

Apalagi ketika komoditas utama Kerajaan Banjarmasin, berupa lada mengundang keinginan bangsa­bangsa Barat yang sangat bernafsu untuk menguasai dan menetap di wilayah ini pada sekitar abad ke­17.

Di awal kedatangannya,  di wilayah Kerajaan Banjarmasin pada 1606, armada dagang VOC Belanda sama sekali belum melirik Tatas. Mereka justru berlabuh di perairan Sungai Barito, yang berdekatan dengan muara Sungai Kween (Kuin). Tidak jauh dari kediaman Sultan Banjar.

BACA JUGA : Dari Benteng Tatas, Tata Kota Banjarmasin Digagas

Oleh Gillies Michelzoon yang memimpin armada dagang itu, dilakukan audiensi sekaligus meminta izin melakukan aktivitas dagang kepada Panembahan. Begitu pun di kedatangannya kedua kali pada 1612, armada perahu VOC Belanda belum mau melirik wilayah Tatas.

Silih berganti delta Tatas beralih kepemilikan. Yang semula adalah merupakan bagian dari wilayah tradisional Kerajaan Banjarmasin, kemudian beralih kepemilikan lagi sebagai imbas dari ditandatanganinya kontrak/perjanjian sewa menyewa  pada tahun 1747 antara Sultan Banjarmasin dengan VOC Belanda.

Landskap lokasi Masjid Sabilal Muhtadin dan Siring, mengalami perkembangan dan perubahan dari waktu ke waktu. Benteng Tatas yang kemudian menjadi Asrama Tatas sampai dibangunnya Masjid Sabilal Muhtadin dibangun di DAS Martapura yang merupakan delta.

BACA JUGA : Pasar Soedimampir dan Amarah si Jago Merah

Bangunan fisik di kawasan ini pada awalnya bangunan Loji (logie) dibangun 29 November 1635 oleh persekutuan dagang Belanda atau VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie). Fungsinya sebagai kantor dagang di Banjarmasin di bawah pimpinan Wollebrandt Gelenysen de Jonge. Secara resmi pada 1650 di Banjarmasin, terdapat perwakilan dagang VOC.

Oleh VOC Belanda kemudian di atas Pulau Tatas didirikan perkantoran atau loji (bahasa Belanda; lodge) dagang, sekaligus sebagai tempat/wadah/gudang penumpukan barang­barang komoditas yang mereka beli. Terutama, dari pedagang­pedagang Banjar maupun pedagang­pedagang bangsa lain yang berniaga di sekitaran Bandar Tatas.

Pada 1756 atas perjanjian antara Sultan Banjermassin dan Johan Andreas Para Vinci pada Oktober 1756, kepemilikan wilayah ini beralih ke Inggris. Dalam perjanjian tersebut ditetapkan bahwa East India Company (Inggris) untuk melindungi kepentingannya. Kemudian, Sultan Banjar mengizinkan Inggris untuk membangun sebuah benteng batu bernama Fort Tatas. Fort Tatas berbentuk pentagon lengkap dengan pagar, tiga bastion, dua di sisi sungai dan dua di sisi daratan.

BACA LAGI : Misteri Pulau Kembang, Antara Penguasa Gaib dan Tenggelamnya Kapal Dagang Inggris

Perkembangan berikutnya, beralih kepemilikan lagi. Pada 1786-1787, Sultan Banjar menyerahkan kedaulatan kepada VOC. Wilayah Banjarmasin adalah kekuasaan VOC yang dipinjamkan kepada Sultan Banjar. VOC lalu mendirikan benteng dan pusat pemerintahan di tanah daratan yang menyerupai pulau (delta) yang disebut Tatas.

Dalam hal ini, Tatas sekaligus berfungsi sebagai pusat kota. Pada wilayah Tatas (kota) itu dibangun rumah wadah pemukiman orang-orang Belanda, kanal, rumah sakit, alun-alun dan gudang.

Pada wilayah sekitar Tatas (di luar benteng), terdapat kampung-kampung yang dihuni oleh berbagai macam etnis. Kondisi ini menyebabkan migrasi ke daerah sekitar benteng untuk mencari peluang usaha. Namun, dalam perkembangannya muncul persoalan di sekitar benteng yang tidak mampu menampung arus migrasi yang membutuhkan tempat bermukim.

BACA LAGI : Sekelumit Kisah Penghukuman Panglima Batur dari Koran De Preanger-Bode

Pada 1806,  A.C. Coenradi kemudian merancang kembali pembangunan Benteng tatas yang dibuatnya dalam sketsa bangunan Benteng Tatas yang berjudul Platte grond Teekening van ’t Fortje Talas (Tatas) te Banjermaassing.

Berikutnya, pada 1876 diputuskan untuk menggantikan Benteng Tatas lama dengan gedung baru di situs yang sama. Benteng ini dari empat bastion ini dirombak ulang oleh Gubernur Jenderal Willem Rooseboom (1899-1904) pada Desember 1901.

Pada 1910, ada hampir tidak ada sisa-sisa benteng yang terlihat. Walaupun demikian dalam beberapa sumber foto, masih memperlihatkan bahwa masih adanya meriam yang ditempatkan di Benteng Tatas.

BACA LAGI : Kemesraan Raffles dan Hare, Sang Penguasa Banjarmasin

Pada 1942, sebelum tentara Jepang memasuki Banjarmasin, AVC melakukan pembumihangusan. Pada 8 Februari 1942, di malam hari, Kota Banjarmasin, Pasar Sudimampir, dan Pasar Lima dirusak dan dibakar. Fort Tatas yang dipergunakan untuk menyimpan karet dan beras untuk tentara dibakar habis.

Sejak tahun 1950-an hingga 1981, bekas Benteng Tatas adalah Komplek Asrama Tentara Tatas. Pada 1981, dibangun Masjid Sabilal Muhtadin di situs Benteng Tatas. Sisa-sisa peninggalan yang bertahan dari benteng ini adalah parit benteng.(jejakrekam)

Penulis adalah Staf Pengajar Prodi Sejarah FKIP ULM

Sekretaris Pusat Kajian Budaya dan Sejarah Banjar Universitas Lambung Mangkurat

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (LKS2B) Kalimantan

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.