ACT

Palindangan Noorhalis: Mengenal Musikalisasi Puisi

93

PUISI bukan hanya dibacakan. Juga dapat dinyanyikan. Menyanyikan puisi, diiringi alunan musik, membuatnya lebih hidup. Banyak penikmatnya. Berbeda dengan lagu. Musikalisasi puisi, tetap mengutamakan isi puisi sebagai kekuatan, bukan musik. Pesan sampai melalui kata-kata yang dibalut musik. Puisi dan musik menjadi satu, saling menguatkan.

MUSIKALISASI puisi adalah seni memadukan antara puisi dengan musik. Musik tidak boleh dominan. Musik menjadi penggiring. “Isi puisi tetap utama,” kata YS Agus Suseno, seorang budayawan kalsel, pada dialog Palidangan Noorhalis, Kamis (29/8/2019) di Pro 1 RRI Banjarmasin, mengangkat tema Mengenal Musikalisasi Puisi.

Sebelum dialog berlangsung, sebuah musikalisasi puisi bertema Menulis Sajak Membuka Cakrawala Membaca Sejarah, karya YS Agus Suseno yang dibawakan oleh Vinie, diiringi petikan gitar Jay dan Isbay, diperdengarkan dan dipancarkan melalui pro 1 RRI Banjarmasin. Untuk mengenalkan kepada pendengar tentang wujud atau bentuk musikalisasi puisi tersebut.

YS Agus Suseno lebih lanjut menyampaikan, bahwa sebelumnya sastra itu adalah dunia sepi. Orang hanya tahu sastrawan terkenal setingkat Amir Hamzah atau Khairil Anwar. Selebihnya, sepi, tidak dikenal banyak orang.

Maka musikalisasi puisi, merupakan bentuk sosialisasi dari puisi itu sendiri. Pioner musikalisasi puisi di Indonesia adalah Arie-Redha. Mereka membawakan karya-karya puisi Safardi Djoko Damono, judulnya Aku Ingin dan Hujan di Bulan Juni. Seorang penyanyi dan seorang pemetik gitar. Karena itu pemusiknya tidak banyak. Kalau banyak, nanti musiknya dominan.

Dalam musikalisasi puisi, puisi bukan menjadi sisipan. Isinya tidak boleh diubah barang satu kata pun. Kalau lagu, sering kali diubah, untuk menyesuaikan musik. Juga tidak boleh ditambah. Reff atau pengulangan bisa saja, tapi menambah atau mengurang, tidak diperkenankan. Kalau dilakukan, maka dia berubah menjadi lagu, bukan lagi musikalisasi puisi.

BACA : LK3 dan Komunitas Seni Kotabaru Gelar Musikalisasi Puisi Karya YS Agus Suseno

Di Kalsel sendiri, kata Agus, masih banyak tafsir soal musikalisasi puisi. Bahkan terkadang musiknya sangat dominan. Ada group musikalisasi puisi yang anggota musiknya sampai 15 orang. Musiknya nyaring, hingar-bingar. Antara musik dan puisi saling berebut, beradu dominan, hingga tidak terdengar dan maknanya hilang.

Sementara itu Iskandar Sibaway, seorang pegiat musik, gitaris, yang dilibatkan dalam dua kali pageran Musikalisasi Puisi karya YS Agus Suseno, di Taman Budaya Banjarmasin dan Hotel Grand Surya Kotabaru, mengatakan bahwa di kalangan anak muda sudah mulai disukai musikalisasi puisi. Hanya saja belum menjadri trend.

Masih hidup pada komunitas tertentu, terutama komunitas seni dan sastra. Di luar dari pada itu masih kalah jauh dengan kebudayaan pop, hip hop dan lain lain. Waktu konser di Kotabaru, kata Isbay, pesertanya selain komunitas seni, juga adalah pelajar. Mereka hanyut mendengarkan musikalisasi puisi. Nampak khusuk. Menyimak dan sangat menikmati.

“Sebagai pemain musik, bila penonton nampak menikmati, ada kepuasan bagi kami. Berarti musik yang kita bawakan, merasuk masuk pada penonton. Apalagi dipadu dengan musikalisasi puisi, isi puisi semakin bisa diresapi,” katanya

Noorhalis Majid, selaku pemandu Palidangan Noorhalis, kembali menyakan pengamatan YS Agus Seseno tentang perkembangan di Kalsel soal musikalisasi puisi. Agus mengatakan, berdasarkan pengamatan dia, para pegiat seni belum memiliki banyak referensi soal musikalisasi puisi. Akhirnya, perkembangan musikalisasi puisi tidak terlalu kuat. Padahal menyampaikan suara hati nurani, suara spiritual.

BACA JUGA : Musikalisasi Puisi EBTAM, Mengangkat Karya Sastrawati Nailiya Nikmah

Agus kemudian bercerita soal pagelaran musikalisasi puisi di Taman Budaya yang dia lakukan, temanya Diredup Cahaya Bulan Mati. Bahwa pagelaran tersebut dianggap membawa sesuatu yang baru. Banyak mendapat pujian. Menikmati puisi dengan cara lain. Puisinya dibalut oleh musik, sehingga nampak lebih indah.

Pendengar Palidangan Noorhalis, turut berpartisipasi menyampaikan pendapatnya, Ratu di Kelayan Banjarmasin, menanyakan apakah puisi bahasa banjar juga dapat dimusikalisasi? Kalau bisa, maka bahasa daerah lainnya tentu juga bisa.

Arie di Tanah Bumbu, Said Husen di Banjarmasin dan Sadam di Kotabaru, memberikan apresiasi atas diangkatnya tema musikalisasi puisi ini pada Palidangan Noorhalis. Kata mereka, sangat menambah pengetahuan tentang kebudayaan.

Agus Suseno menanggapi, bahwa tentu saja puisi bahasa banjar boleh dimusikalisasi, hanya saja perlu keahlian, karena puisi bahasa banjar itu cukup sulit. Agus kemudian membacakan salah satu contoh puisi bahasa banjar bertema, Gunturnya Haja, Hujannya kada. Puisi tersebut mengakhiri Palidangan Noorhalis. Kemudian dilanjutkan dengan mendengarkan dua musikalisasi puisi, bertema Diredup Cahaya Bulan mati dan Kota-kota Pun Tertidur. Kedua puisi ini merupakan rekaman pagelaran di Taman Budaya dan di Kotabaru.(jejakrekam)

Penulis Andi Oktaviani
Editor Andi Oktaviani

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.