Kaya Warik Turun Ka Kacang

Oleh : Noorhalis Majid

WARIK atau monyet, tinggal di hutan. Makan buah-buahan hutan. Kebun-kebun petani dekat hutan, sering diganggu warik. Dianggap hama. Sama seperti babi hutan yang mengganggu  tanaman. Dianggap musuh, hama yang harus diusir, diburu beramai-ramai.

TIDAK mudah bagi warik mendapatkan makanan di hutan. Tidak semua tanaman hutan bisa dimakan. Pohon-pohon juga tidak semuanya menghasilkan buah. Daunnya tidak semua bisa kunyah. Kebun penduduk dekat hutan, berisi aneka tanaman makanan. Baik sayur ataupun buah, menjadi incaran warik.

Kebun-kebun petani sekitar hutan ditanami palawija. Terutama kacang-kacangan, termasuk kacang panjang.  Jenis palawija, mudah tumbuh dan berumur pendek. Menguntungkan ditanam. Namun palawija, terutama kacang, juga makanan kesukaan warik.

Bila warik masuk ke kebun kacang, dia makan dengan sangat lahap. Seolah besok tidak ada makanan lagi. Seisi kebun ludes dihabisi. Warik yang menemukan kebun kacang, sangat kegirangan. Mengamuk. Kalap. Melahap semua kacang.

BACA : Pulau Bakut, Delta Membelah Sungai Barito, Pulaunya Monyet Belanda

Fenomena warik ke kebun kacang, menjadi perumpaan dalam melihat sikap seseorang yang nampak bernafsu pada sesuatu yang dia sukai, atau sesuatu yang lama dimimpikan, kemudian didapatkan. Kegirangan, hingga lupa diri.

Bukan hanya soal makanan. Juga pada hal lainnya yang membuat sesorang sangat bernafsu atau sangat ingin merasakannya, karena sudah lama diangankan. Suatu bentuk kesenangan yang amat sangat, karena pertama kali menemukannya, atau merasakannya.

Lupa diri melihat sesuatu yang sangat disukai, membuat kalap dan hilang kendali. Seperti sekelompok anak yang berebut permen coklat atau ice cream. Menyerbunya, sampai lupa diri. Tidak mau menyisakan sedikitpun. Habis dimakan dengan lahap.

BACA JUGA : Misteri Pulau Kembang, Antara Penguasa Gaib dan Tenggelamnya Kapal Dagang Inggris

Tindakan ini bila dilakukan orang dewasa, dianggap memalukan. Tidak bisa mengontrol diri. Sikap lupa diri karena melihat sesuatu yang sangat dimimpikan, dianggap lepas kontrol. Seorang yang berbudaya, beradab, harus pandai menahan diri. Bentuk kematangan diri.

Kalau tidak bisa menahan diri, bukan manusia namanya, tapi warik atau kera. Bila lupa diri, mengumbar nafsu, walaupun pada sesuatu yang sudah lama diangankan, paribasa banjar menyindirnya, ‘kaya warik turun ka kacang’. (jejakrekam)

Penulis adalah Kepala Ombudsman Perwakilan Kalsel

Pemerhati Budaya dan Bahasa Banjar