Lakon Wayang Banjar di Temaran Blencong, Akhir Malam Karasmin Budaya

DUA lakon pewayangan purwa Banjar menjadi suguhan terakhir di malam karasmin budaya di Pangung Bakhtiar Sanderta, Taman Budaya Kalsel, Jalan Brigjen H Hasan Basry, Kayutangi, Banjarmasin, Minggu (18/8/2019) malam.

PERTUNJUKAN wayang yang hampir semalan suntuk ini menampilkan dua dalang populer di Kalimantan Selatan. Yakni, Dalang Taufik Rahmat Hidayat dari Desa Barikin, Haruyan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) dan Dalang M Kaderiansyah alias Kaderi dari Kandangan, Hulu Sungai Selatan.

Sebelumnya, dua dalang ini menyuguhkan wiracerita soal kerajaan antah berantah di Banua Banjar, pertunjukan wayang orang dan wayang kulit ala Sleman, Yogyakarta didalangi Dalang Catur Banyak Kuncoro ditampilkan.

Paduan musik kekininan hiphop dan lakon-lakoni jenaka wayang asal Sleman ini mengantarkan dua dalang Banua untuk memamerkan kebolehan memainkan lakon wayang Banjar.

BACA : Jalan Sunyi Wayang Banjar, Bertahan di Tengah Budaya Makin Glamor

Lakon carang wayang Banjar di bawah lampu temaran, blencong, Dalang Taufik pun dengan iringan rancak gamelan Banjar memecah keheningan malam yang sudah beranjak dinihari. Blencong sendiri merupakan lampu sumbu api berbahan minyak kelapa sebagai penerang layar untuk pementasan wayang Banjar.

Suara saron, sarantam, kenong, dawu serta agung kecil dan besar, dipadu dengan kangsim gendang atau babun menambah semangat para penonton yang kebanyakan berusia tua. Sayangnya, terlihat jarang sekali para penonton wayang Banjar dari kalangan muda, turut menikmati pementasan yang terbilang makin langka itu.

Alkisah, Dalang Taufik pun mengangkat sebuah cerita seorang pangeran miskin yang ingin mempersunting seorang putri dari kerajaan kaya raya, hingga memicu konflik antar dua kerajaan itu.

Berbeda dengan wayang purwa Jawa yang memiliki pakem, wayang Banjar dengan bentuk lebih kecil ini agak bebas dalam mengambil lakon dalam pertunjukan, terlebih lagi untuk hiburan seperti karasmin budaya memeriahkan Hari Jadi Provinsi Kalsel ke-69.

BACA JUGA : Wayang Kulit Goes to Netherlands

Budayawan Banua, YS Agus Suseno mengakui pementasan wayang purwa Banjar sangat jarang digelar sejak era 1990-an hingga sekarang. Ia berharap dalam beberapa momen seperti peringatan hari jadi provinsi, kabupaten dan kota se-Kalsel bisa memberi tempat bagi para seniman wayang Banjar untuk unjuk diri.

“Sekarang ini, pementasan wayang Banjar itu bisa dihitung dengan jari. Sangat jarang, itu pun kebanyakan hanya di beberapa daerah khususnya di wilayah Hulu Sungai,” ucap Agus Suseno kepada jejakrekam.com, Minggu (18/8/2019) malam.

Menurut dia, wayang Banjar juga sangat sarat dengan makna dan pesan moral bagi semua generasi, terutama menceritakan lakon kehidupan sehari-hari masyarakat Banjar, meski berlatarbelakang kerajaan atau masa lampau.

BACA LAGI : Damarwulan Banjar, Kesenian Asli Banjarmasin Berada di Tepi Zaman

“Sebenarnya, wayang Banjar itu juga berisi kritikan sosial, seperti ketika ada seorang yang papa ingin mempersunting gadis yang kaya. Ini banyak terjadi dalam keseharian masyarakat kita, dengan adanya kesenjangan sosial yang begitu tajam,” tutur Agus.

Agus pun memuji para dalang wayang Banjar yang berani keluar dari pakem dengan berisi sentilan kepada para penguasa agar memerhatikan rakyatnya. “Inilah mengapa para seniman tradisi Banjar itu harus mendapat tempat. Ini Banua kita, tentu mereka harus menjadi tuan rumah, bukan tamu di sini,” imbuhnya.(jejakrekam)

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi