Dirgahayu

Usia Renta Pemusik Panting di Bawah Menjamurnya Pengamen Jalanan

MUSISI jalanan mulai menjamur di Banjarmasin. Tak hanya para pengamen jalanan dengan tentengan gitar akustik, grup musik panting khas Banjar pun meramaikan jagat hiburan di emperen toko atau rumah makan.

SALAH satunya adalah Grup Musik Panting Melati Putih, asal Gudang Hirang, Sungai Lulut, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar.

Dengan enam personel yang memegang alat musik masing-masing, grup musik panting dipimpin Marsin (74 tahun) menjajal olah vokal dan musik menghibur para pengunjung Bakso Pal Satu, Jalan Achmad Yani Km 1, Banjarmasin, Sabtu (10/8/2019) malam.

Kompak mengenakan busana khas Banjar dengan laung kuning, Marsin dan kawan-kawan tetap setia menyuguhkan petikan musik panting, gitar tradisional Banjar dipadu dengan tabuhan babun, gong, simbal dan biola.

Terbentuk sejak 1994, grup musik panting yang diberi nama Melati Putih ini memanfaatkan waktu luang dengan mengamen di emperan rumah makan.

“Untuk pertunjukan di Bakso Pal Satu, kami gelar tiga malam setiap minggu. Malam Minggu, Selasa dan Kamis. Selebihnya, kami menunggu panggilan untuk menghibur acara perkawinan atau undangan lainnya,” kata pria renta asal Kandangan ini.

BACA : Sejuta Rasa Musik Panting, Mengangkat Kultur Banjar Menjadi Penting

Dengan menggunakan motor Tossa, peralatan musik pun diangkut. Personel yang ada berkumpul di tempat itu, seperti Rima sang vokalis. Ternyata, semua personel Melati Putih tak berasal dari Gudang Hirang, Sungai Tabuk. Ada anggotanya berasal dari Pekapuran, Jalan Manggis Kebun Bunga, Sungai Lulut hingga Pengambangan.

“Kami tiap malam Minggu, Selasa dan Kamis pasti kumpul di sini. Alhamdulillah, dari mengamen semalam, masing-masing bisa bawa pulang uang Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu, terkadang lebih,” ucap Marsin.

Lagu andalan maestro Banjar, Anang Ardiansyah, serta gubahan lagu-lagu panting khasnya lain dibawakan Marsin dan kawan-kawan dengan apik. “Terkadang lagu lawas Melayu, Mashabi juga kami nyanyikan, namun diiring musik panting, bukan Melayu,” katanya.

Satu yang tak boleh dilakukan Marsin dan kawan-kawan adalah berjoget, karena pemilik Bakso Pal Satu tak ingin para pelanggannya terganggu. Makanya, soudsystem sederhana dipasang dengan suara yang terdengar tak seheboh organ tunggal.

BACA JUGA : Satu Panggung, Berpadu Hentakan Musik Etnik Dayak dan Banjar

Di usia yang sudah senja, Marsin berharap lewat musik jalanan ini, alunan musik panting masih bisa didengar para pencintanya. Ia mengakui musik panting kalah bersaing dengan musik bergenre modern, terlebih lagi organ tunggal yang sudah mengisi acara hajatan di mana pun.

Usai shalat Isya, hingga pukul 01.00 dinihari, Masrin dan kawan-kawan menghibur para penikmat bakso terkenal di Banjarmasin.  Tak ada yang mengajarkan mereka bermusik panting, Marsin mengaku semua tumbuh alami. Bakat alami itu diasah dengan insting dan latihan rutin di rumahnya di Gudang Hirang, Sungai Tabuk.

“Kalau saya sudah bisa bermusik panting dan menggesek biola sejak kecil dari Kandangan. Merantau ke Banjarmasin dan terus diasah dan belajar dengan pemusik lainnya,” tutur Marsin.

Ia bersyukur ternyata anaknya bisa meneruskan kiprahnya bermusik panting, yang kini bisa hitungan jari di Banjarmasin. Satu keinginan Marsin, musik panting tetap eksis di tengah modernitas musik dengan berbagai genre, hingga pengaruh pop asal Korea dan Barat yang digemari kawula muda.

BACA LAGI : Tampilkan Musik dan Lagu Banjar di Fasilitas Umum

Alma, wanita asal Bandung saat menikmati suguhan bakso panas mengaku terhibur dengan musik tradisional di tengah maraknya pengamen jalanan di Banjarmasin. “Saya lihat hanya dua tempat yang menyuguhkan musik panting ini di Banjarmasin. Satunya di Soto Bang Amat, Banua Anyar dan satunya di sini,” kata Alma.

Ia pun mengabadikan setiap lagu yang dinyanyikan Rima diiringi paduan musik panting yang mendayu-dayu dengan kamera ponselnya.

“Sebenarnya, musik tradisional semacam ini yang perlu disuguhkan di rumah makan atau restoran yang ada di Banjarmasin. Sebab, lebih unik dan orang tentu akan mengenal khazanah musik tradisional Banjar,” kata Alma.(jejakrekam)

Penulis Siti Nurdianti
Editor Didi GS