Dirgahayu

Dilema Sebuah Pilihan Perempuan Bercadar

Oleh : Arpawi

PERJALANAN memutuskan bercadar bagi seorang perempuan tidaklah mudah, utamanya mahasiswi yang mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi. Dengan berpakaian syar’i, mereka ingin memperbaiki diri menjadi muslimah yang lebih baik.

MEMAKAI cadar tak hanya serta merta menambahkan penutup pada sebagian wajah. Berbagai macam pertimbangan pun turut menghantui nurani, kala cadar akan dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Ragu, terkekang, atau merasa terbatas lantaran menggunakan cadar? Mungkin sempat mereka rasakan melalui pemikiran panjang dan usaha pencarian ilmu agama dari beberapa pihak.

Ambil contoh, mengikuti beberapa pertemuan dakwah Islam. Sembari menggunakan jilbab panjang hingga memantapkan diri untuk bercadar. Memang, yang saat ini kalian baca bukanlah tulisan dari seorang mahasiswi bercadar. Tetapi, setidaknya memiliki sedikit pengetahuan tentang islam, meski hanya melalui teman pengguna media sosial. Misalnya story Instagram ataupun WhatsApp sebagai wadah berdakwah. Termasuk, berbagi pengalaman menggunakan cadar melalui gawainya.

BACA : Ketika Cadar Dilarang di Kampus

Mereka yang bercadar, tentu memiliki alasan kuat ketika memutuskan menutup seluruh bagian wajah yang lain. Jika kita bedah perlahan, bercadar merupakan bagian dari memuliakan perempuan dalam menjaga pandangan kaum adam. Mungkin agak berkesan misterius. Tapi setelah merenungkan beberapa hal, sungguh memakai cadar itu perbuatan yang mulia.

Hal itu tergambarkan dari cara berpakaian mereka yang tak ingin orang lain memandangnya hanya dari indah rupa dan lekuk tubuhnya. Namun, di balik semua itu ada yang lebih penting, yaitu akhlak dan agama.

Memang, tak sedikit dari mereka mendapat tentangan dari keluarganya. Lantaran dianggap penganut ajaran yang salah, bahkan dicap sebagai teroris. Namun, beberapa dari mereka berhasil meyakinkan keluarga, hingga memberikan pengertian dan dukungan.

BACA JUGA : PCINU Belanda dan Universitas Radboud Perkenalkan Konsep Islam Jalan Tengah

Sementara di Banjarmasin, dalam perkuliahan saat ini memang tidak ada larangan terhadap mahasiswinya yang menggunakan cadar. Hal itu, jika menilik Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al-Banjari (MAB) sebagai Perguruan Tinggi swasta yang mengklaim terbesar di Kalimantan dan kental dengan nuansa Islami ini.

Ya, Uniska sangat memberikan kebebasan kepada mahasiswi maupun dosen pengajar untuk menggunakan cadar, dengan alasan bukan sesuatu hal yang mengganggu proses belajar-mengajar. Meskipun ada beberapa Perguruan Tinggi yang melarang mahasiswinya menggunakan cadar.

Kebebasan ini tentunya patut diacungi jempol. Apalagi, jika beberapa mahasiswi berkerudung dengan paras cantiknya yang acapkali terpampang dipinggir jalan, sebagai bahan promosi kampus diganti dengan pakaian cadar. Mungkin cukup sampai situ. Sebab yang ingin dibahas bukan tentang itu.

Nah, kembali ke pembahasan awal, salah satu mahasiswi Uniska sempat membeberkan, bahwa perlu proses yang panjang memantapkan diri untuk bercadar. Apalagi ketika mulai menerapkan dilingkungan program studi Ilmu Komunikasi, dirinya mendapatkan pandangan negatif dari orang sekitarnya.

Bahkan, keluarga pun menganggap mahasiswa semester enam ini mendapat ajaran dari teroris. Ini lantaran, bertepatan maraknya pemberitaan adanya tragedi bom di Surabaya oleh dua perempuan bercadar.

BACA LAGI : Takjub Lihat Orang Shalat, Kisah Muallaf Tionghoa Banjarmasin Mengenal Islam

Adanya pandangan negatif yang muncul di lingkungan kampus, tak menyurutkan niatnya untuk menggunakan cadar. Sebab, ia menganggap setiap bagian tubuh dari wanita merupakan sumber fitnah.

Meski sedari awal, lingkungan disekitar sulit untuk menerima dan menyamakan haknya sebagai perempuan pada umumnya, namun tak ada kendala besar yang dirasakan mahasiswi saat menggunakan cadar.

Seiring berjalannya waktu, pergaulan yang dilakukan mahasiswi bercadar pun, kini tak jauh beda dengan mahasiswi lainnya. Hanya saja, mereka menyadari dan memahami untuk bisa membatasi diri kepada orang yang bukan mahramnya, untuk menghindari fitnah bagi dirinya maupun orang lain.

Terlepas dari pro dan kontra mahasiswi bercadar, semua tergantung dari pribadi masing-masing untuk memilih dan menilai dengan cerdas, karena pada dasarnya semua perempuan mempunyai hak yang sama baik itu di mata Tuhan maupun dari pandangan tempat seseorang tersebut tinggal.(jejakrekam)

Penulis adalah Jurnalis Jejakrekam.com

Mantan Ketua LPM Lentera Uniska MAAB