Tarung 2015 Bisa Terulang, Muhidin Vs Birin, Sultan Khairul Jadi Kuda Hitam

ULTIMATUM Ketua DPW PAN Kalimantan Selatan H Muhidin meminta agar Partai Golkar menerima tawarannya untuk menggaet kader partai, yakni dirinya atau mantan Bupati Banjar Pangeran Khairul Saleh sebagai calon pendamping petahana, Gubernur Sahbirin Noor, berimbas pada suhu politik Banua.

PENGAMAT politik FISIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Setia Budhi menilai jika PAN berani mengusung kader sendiri untuk menjadi penantang sang incumbent, tentu politik Kalsel kembali menarik.

“Nama dua tokoh besar ini pernah berhadap-hadapan di Pilkada Kalsel 2015 lalu, apalagi selisih perolehan suara antara H Muhidin bersama Gusti Farid Hasan Aman melawan petahana, Sahbirin Noor-Rudy Resnawan terpaut kecil, bisa diulang lagi dalam tarung suksesi 2020 mendatang,” ucap Setia Budhi kepada jejakrekam.com di Banjarmasin, Sabtu (3/8/2019).

BACA : Tawarkan Muhidin-Khairul ke Golkar, Jika Ditolak, PAN Siap Tantang Petahana

Ia menilai ultimatum H Muhidin yang meminta kepastian dari Partai Golkar, apakah akan menggandeng kader PAN sebagai pendamping petahana, bisa mengubah strategi politik parpol pemenang Pemilu 2019 itu di Kalsel.

“Dalam hal ini, Golkar ketika ditantang untuk menerima atau menolak tawaran berkoalisi dari PAN dengan syarat memilih kader partai ini sebagai pendamping Paman Birin (Gubernur Kalsel Sahbirin Noor), tentu harus menyusun strategi ulang,” kata Setia Budhi.

Kepala Prodi Ilmu Sosiologi FISIP ULM ini menilai ada konsekuensi logis dari dua pilihan yang ditawarkan DPW PAN Kalsel. Hal itu harus dipikirkan secara matang oleh gubernur petahana, terutama risiko politiknya.

“Saya kira andai H Muhidin menjadi calon wakilnya petahana akan menimbulkan masalah baru. Sebab ketika H Muhidin mau menjadi nomor dua dan penerimaan masyarakat terhadapnya cukup besar, justru di bawah kepemimpinan Paman Birin orangnomor dua malah tidak terlalu siginifikan. Hal ini tentu akan berdampak secara elektoral, ” urai alumnus doktor Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM).

Setia Budhi mengatakan jauh lebih menarik ketika Partai Golkar menolak tawaran PAN, maka di atas kertas memungkinkan adanya tiga calon gubernur yang akan berlaga di Pilgub Kalsel 2020.

BACA JUGA : Viralkan Dua Noor, Nama Rosehan Jadi Pendamping Sahbirin Menguat

Dalam kalkulasinya, Setia Budhi mengungkapkan jika Golkar selaku gerbong koalisi besar menolak tawaran PAN, maka akan dibentuk poros koalisi Indonesia Kerja di Kalsel terdiri dari Golkar, PDIP, PPP, PKB dan Partai Hanura.

Sebagai rivalnya, beber Setia Budhi, sebagai penantang petahana terbentuk Koalisi Indonesia Adil Makmur warisan Pilpres 2019 yakni PAN, Partai Gerindra, PKS dan Partai Demokrat untuk mengusung H Muhidin.

“Di antara dua figur nama besar ini, tentu Sultan Khairul Saleh tetap mengambil opsi maju lewat jalur perseorangan. Saya kira Sultan sebagai calon independen bisa saja akan tampil sebagai kuda hitam,” tandas Budhi.

BACA LAGI : Sahbirin Berduet dengan Muhidin? Samahuddin : Banyak Variabel Menentukannya

Sebelumnya, usai pengarahan dan silaturahmi caleg PAN terpilih hasil Pemilu 2019 di Hotel Best Western Kindai, Selasa (30/7/2019), Muhidin yang juga mantan Walikota Banjarmasin menawarkan dirinya atau Sultan Khairul Saleh sebagai pendamping Paman Birin. Namun, jika bertepuk sebelah tangan, Muhidin memastikan akan menjadi lawan tangguh dari poros pengusung petahana di Pilgub Kalsel 2020 mendatang.(jejakrekam)

Penulis Ahmad Husaini
Editor Didi GS