Dirgahayu

Kada Jadi Baras; Sindiran Pekerjaan yang Sia-Sia

Oleh :Noorhalis Majid

KADA jadi baras atau tidak menjadi beras. Paribasa Banjar yang sangat populer, khas masyarakat agraris. Meminjam beras, makanan pokok sebagai paribasa. Mendekatkan hal yang paling akrab, kebutuhan utama, untuk mengukur, menilai, mempertimbangkan derajat kepentingan suatu urusan. Memadankan beras yang “pokok” pada sesuatu yang dianggap “substantif”.

BERMAKNA melakukan hal sia-sia dan tidak berguna, sekadar omong kosong, kegiatan tidak berfaedah. Tidak menjadi apa-apa, tidak penting diperhatikan, apalagi dikerjakan. Ditempatkan pada banyak peristiwa atau situasi. Untuk menilai, mengukur kemanfaatan suatu keadaan.

Baras dimaknai sangat luas. Tidak sekadar beras secara harafiah. Akan tetapi juga berarti hasil kerja, keuntungan, pengaruh positif, perbaikan situasi, terbukanya peluang, kemanfaatan, kemaslahatan, dan banyak hal yang menggambarkan progres atau prestasi suatu hasil pekerjaan.

Ada paribasa lain yang menggambarkan perbuatan atau pekerjaan sia-sia, manunggu buah bungur. Namun, paribasa ini dapat dimaknai sebagai suatu penantian yang sia-sia. Membuang waktu menunggu yang tidak menghasilkan apapun. Kada jadi baras, lebih to the point, tertuju pada hasil. Agar jangan melakukan sesuatu yang tidak berguna.

BACA : Paribasa Banjar; Dimamah Hanyar Ditaguk Penuh Makna

Hidup harus bermanfaat dan memberi manfaat pada orang lain. Hindari  yang  tidak mendatangkan manfaat. Terus bermafaat, baik pada diri sendiri, ataupuan manfaat bagi orang lain. Papadah ini relevan dalam setiap zaman. Terlebih saat gadget menyita waktu dan mengalihkan perhatian banyak orang. Padahal tidak menghasilkan apapun untuk perbaikan kehidupan.

Dengan papadah ini, bukan berarti orang banjar pragmatis, hanya mau untungnya saja. Justru menggambarkan  tidak mau melakukan hal yang tidak berfaedah. Karenanya orang tua dulu, tidak suka melihat perbuatan yang dinilai sia-sia. Perbuatan seperti begadang, nongkrong di pinggir jalan, atau sekedar raun (jalan-jalan), seringkali untuk menyudahinya, disindir dengan paribasa kada jadi baras.

BACA JUGA : Baguna Tahi Larut; Paribasa Banjar, Refleksi Budaya

Sekarang pragmatisme semakin menguat. Maka paribasa ini menjadi otokritik. Sesuatu bersifat pamrih. Tidak mendatangkan uang, enggan dilakukan.  Kondisi seperti ini sulit membangun partisipasi. Parahnya lagi, kegiatan seperti rapat RT, musyawarah warga, menghadiri penyuluhan di balai desa, atau  gotong-royong, ditafsirkan tidak mendatangkan uang.

Semuanya tereduksi menjadi materi. Pragmatisme kemudian tumbuh subur dalam perhelatan politik. Kada jadi baras menemukan momentumnya.  Pragmatisme tidak terhindarkan. Siapa paling banyak memberi uang, itulah yang dipilih, karena itulah yang jadi baras.(jejakrekam)

Penulis adalah Kepala Ombudsman Perwakilan Kalsel