Dirgahayu

The Banjarmasin Secret; Berburu Harta Karun BJ Haga, Gubernur Borneo Tahun 1938-1942 (5-Habis)

Oleh : Mansyur 'Sammy'

Foto : Koleksi Troppen Belanda/Wikipedia

TAK hanya di wilayah Mandiangin, lokasi alternatif yang diyakini tempat penimbunan harta karun BJ Haga adalah Kalimantan Tengah. Analisis ini diungkapPramudya Handoko dalam tulisannya “Memburu Harta Karun Bauke Jan Haga di pedalaman Kalimantan, Bagian II”, diposting Senin, 15 Mei 2017.

MASUKNYA tentara Jepang dari Muara Uya ke-Amuntai, membuat pasukan Pemerintah Hindia Belanda yang tergabung dalam AVC (Algemene Vernielings Corps) mengambil langkah-langkah yang bertentangan dengan kebijakan pemimpinnya, Van der Meulen.

Pada 8 Februari 1942, hari Minggu, malam hari AVC melakukan  pembumihangusan tempat-tempat vital agar tidak bisa dipergunakan pihak musuh. Kondisi Kota Banjarmasin sangat mencekam. Rakyat menjadi panik, Pasar Sudimampir dan Pasar Lima dirusak dan dibakar.

Fort Tatas yang dipergunakan untuk menyimpan karet dan beras untuk tentara, ikut dibakar, api berkobar menerangi Sungai Martapura. Begitupula, pelabuhan, gedung-gedung, dan pusat listrik juga dirusak. Percetakan Suara Kalimantan dan Bumi Putera juga habis dilalap api.  Penyimpanan bahan-bakar di Benua Anyar dan Bagau dimusnahkan. Semua kendaraan militer dikumpulkan di Sungai Bilu dihancurkan satu per satu.

BACA : The Banjarmasin Secret : Berburu Harta Karun BJ Haga, Gubernur Borneo Tahun 1938-1942 (1)

Jembatan Coen, satu-satunya jembatan untuk menyebrangi Sungai Martapura, diledakkan dengan dinamit suaranya terdengar disekitar kota Banjarmasin. Pemerintah Belanda tidak bisa berbuat apa-apa, di seluruh kota terjadi penjarahan besar-besaran.

Pasar Lama yang tidak ikut terbakar diserbu rakyat. Isi gudang-gudang dan toko-toko milik orang Cina, Belanda, dan pribumi dirampas rakyat. Hingga, 9 Februari 1942, aksi pembakaran dan penjarahan terus berlanjut, nyaris tidak ada yang bersisa.

Begitu, tentara Jepang memasuki Kota Banjarmasin pada Selasa, 10 Februari 1942, taak ada perlawanan dari serdadu KNIL. Melihat kerusakan pada tempat-tempat vital,  Komandan Rikugun yang dikenal  dengan sebutan “Cap Bintang“ menjadi murka.

BACA JUGA : The Banjarmasin Secret : Berburu Harta Karun BJ Haga, Gubernur Borneo Tahun 1938-1942 (2)

Kesalahan itu pun ditimpakan pada Van der Meulen dan beberapa orang lainnya.Mereka langsung dibunuh di hadapan warga Banjarmasin. Untuk mengembalikan keamanan di wilayah Banjarmasin, Jepang segera membentuk  Panitia Pemerintahan Civil (PPC), diketuai Mr Rusbandi, sebagai pemerintahan sementara. Anggota-angotanya terdiri atas pemuka-pemuka rakyat dan tokoh-tokoh pergerakan.

Masuknya tentara pendudukan Jepang di Banjarmasin diiringi menghilangnya Dr Bauke Jan Haga berserta petinggi Belanda lainnya. Hal ini menyebabkan W Okomoto, selaku pucuk Pimpinan di Banjarmasin menjadi berang. Intelijen un disebar, dengan arahan Dr Bauke Jan Haga harus ditangkap hidup-hidup.

Menurut Pramudya Handoko, pelarian Gubernur Dr Bauke Jan Haga bersama rombongan ke pedalaman Kalimantan, menimbulkan berbagai macam spekulasi. Menurut catatan, selama berada di pedalaman Kalimantan, Bauke Jan Haga  sering melakukan pertemuan dengan beberapa  orang pribumi yang datang dari Banjarmasin melalui Kelua, Buntok dan Muara teweh. Catatan tersebut tidak menyebutkan apa maksud dan tujuan  dari pertemuan tersebut.

Terciumnya rencana perlawanan terhadap Jepang di balik pelarian Dr Jan Bauke Haga, diketahui setelah Sasuga didatangkan langsung dari Jepang. Reputasi Sasuga di bidang Intelijen tidak diragukan lagi.

Pihak Jepang melakukan blokade untuk memutus lintas informasi maupun bantuan makanan dan obat-obatan. Cara ini terbilang efektif, pada hari Minggu, 8 Maret 1942, Dr Bauke Jan Haga mengirim utusan yang dipimpin Kapten Van Epen ke Banjarmasin untuk melakukan perundingan.

BACA JUGA : The Banjarmasin Secret : Berburu Harta Karun BJ Haga, Gubernur Borneo Tahun 1938-1942 (3)

Kapten Van Epen bersama rombongan ditangkap dan dipaksa menunjukkan tempat persembunyian Gubernur Bauke Jan Haga beserta rombongannya. Tentara Jepang membawa Kapten Van Epen ke Puruk Cahu. Sasaran pertama adalah melucuti persenjataan dan penyerahan diri pihak militer Belanda.  Sedangkan, sasaran kedua penyerahan diri pihak Pemerintah Sipil Hindia Belanda.

Walhasil, pada 17 Maret 1942, Dr Bauke Jan Haga resmi menyerahkan diri dan ditahan di Benteng Tatas Banjarmasin. Namun, aksi perburuan tak berhenti meski sang pimpinan sudah ditangkap.

Sasuga terus melakukan  perburuan  terhadap pengikut Dr Bauke Jan Haga. Mengorek informasi soal pertemuan-pertemuan rahasia yang dilakukan Bauke Jan Haga dengan kelompoknya di daerah pedalaman menjadi perhatian serius dari Sasuga.

Penekanan Sasuga bukan kepada rencana perlawanan terhadap Jepang tetapi fokusnya dari mana biaya perang gerilya   tersebut berasal. Lantas siapa yang membiayainya. Sasuga sangat paham bagaimana caranya membongkar  kasus ini.

Orang-orang dekat Bauke Jan Haga, istri, ipar, staf, pejabat militer dan pejabat pemerintah diinterogasi dan disiksa dengan kejam. Tidak tahan dengan siksaan yang kejam, banyak yang mengaku bahwa semua itu atas perintah Gubernur Bauke Jan Haga.

Perintah sang gubernur jelas semua harta kekayaan pejabat militer, pejabat pemerintah, saudagar Cina, Arab dan hasil tambang emas di Gunung Mas, Pengaron, Muara Teweh serta intan di Cempaka, dikumpulkan dan disimpan di suatu tempat. Di tempat itu, harta karun itu disembunyikan. Sayang, semua tidak ada yang tahu.

BACA LAGI : The Banjarmasin Secret; Berburu Harta Karun BJ Haga, Gubernur Borneo Tahun 1938-1942 (4)

Gubernur Bauke Jan Haga sudah memperhitungkan hal-hal yang terburuk, semua orang termasuk istrinya tidak ada yang tahu dimana harta tersebut disembunyikan. Interogasi dan siksaan yang kejam terhadap Gubernur Bauke Jan Haga dilakukan siang dan malam, hasilnya nihil. Bauke Jan Haga tetap bungkam. Sebelum diadili Bauke Jan Haga meninggal dunia karena siksaan yang sangat kejam.

Sasuga tidak putus asa, penangkapan terhadap komplotan Bauke Jan Haga terus dilakukan dan banyak yang dibunuh. Berdasar catatan Enrico Pareira, salah seorang  yang ikut dalam pelarian Bauke Jan Haga ke daerah pedalaman, menulis;  “Sebelum Bauke Jan Haga menyerahkan diri, malam harinya saya melihat dia memanggil Leutnant Steine Boom bersama lima tentara KNIL, seingat saya orang-orang inilah yang dibawa dari Boentoei, Kuala Kapuas.”

Keenam orang ini tidak terlihat sewaktu Jepang menjemput Bauke Jan Haga. Daftar nama keenam orang ini sudah dikantongi Sasuga. Perburuan pun makin diintensifkan terhadap enam orang ini hingga ke pelosok pedalaman Kalimantan, hasilnya nihil.

Tak ada kabar, keenam orang itu hilang bagai ditelan bumi. Hingga, perburuan dihentikan ketika Jepang menyerah pada Pasukan Sekutu tahun 1945. Akhirnya, harta karun yang disembunyikan Bauke Jan Haga, sampai kini tetap menjadi misteri.(jejakrekam)

Penulis adalah Staf Pengajar Prodi Sejarah FKIP ULM

Sekretaris Pusat Kajian Budaya dan Sejarah Banjar Universitas Lambung Mangkurat

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (LKS2B) Kalimantan