Dirgahayu

Ketika Rektor ULM Sutarto Hadi Bercerita Bayang-Bayang Jadi Nyata

MENULIS dan terus menulis. Itu yang dilakoni Rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Prof Dr H Sutarto Hadi. Teranyar, pakar pendidikan matematika ini mengupas perjalanan kariernya dari seorang guru hingga guru besar. Sejak menjadi dosen biasa hingga kini menjabat rektor di perguruan tinggi tertua di Kalimantan.

TERINSPIRASI dari cita-cita yang dibayangkan menjadi hal konkret, Sutarto Hadi pun meluncurkan buku kelimanya berjudul “Membingkai Bayang-Bayang” di Theatre Hall Gedung Baru ULM, Banjarmasin, Kamis (1/8/2019).

Tak hanya meluncurkan buku, bedah karya sang rektor ini juga dijajal para sahabatnya. Yakni, Rektor UIN Antasari Banjarmasin Prof Dr Mujiburrahman, Rektor Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMB), Prof Dr Ahmad Khairuddin dan Ketua Program Stui Sosiolog FISIP ULM, Setia Budhi.

BACA : Sutarto Hadi Diusulkan Jadi Menteri Asal Kalimantan

Dalam prolog buku yang ditulis cukup runut oleh sang sahabat, Prof Dr Ersis Warmansyah Abbas. Sesama berkarier sebagai pengajar di FKIP ULM, Ersis pun yang menuliskan biografi Sutarto Hadi. Banyak memori dan rekam jejak sang rektor disuguhkan halaman demi halaman.

“Ketika Pak Ersis mewawancara saya, membuat saya teringat kembali perjalanan karier saya. Nah, karena buku tentang biografi saya yang ingin ditulis Pak Ersis belum terbit. Ya, saya sendiri menulis autobiografi saya,” kata Sutarto, disambut gelagat tawa peserta bedah buku.

Dalam bukunya, Sutarto blak-blakan bercerita tentang perjalanan kariernya yang tidak banyak publik ketahui. Termasuk dua kali momen pemilihan rektor ULM yang begitu dramatis.

“Pada momen pemilihan Rektor ULM, saya mendapatkan serangan yang bertubi-tubi. Termasuk dilaporkan ke KPK. Lalu, kasus lama diungkit kembali, padahal faktanya kasus itu sudah tuntas,” kata alumnus doktor Universiteit Twente Belanda ini.

 

Sutarto dalam bukunya menceritakan kunci keberhasilan meraih proyek Islamic Development Bank (IDB) 7 in 1 selama menjabat menjadi Wakil Rektor IV ULM yang membidangi kerjasama dan humas. “Proyek IDB 7 in 1 dengan nilai sebesar Rp384,7 miliar, itu tidak mudah ULM dapatkan.Alhamdulillah dengan bantuan dari IDB, akan bisa bersaing dengan perguruan tinggi di Pulau Jawa,” kata Sutarto.

BACA JUGA : Tiga Wajah Baru Wakil Rektor, Sutarto Hadi Sebut Tantangan ULM Berat

Rektor UIN Antasari, Prof Mujiburrahman pun memandang buku berjudul Membingkai Bayang-Bayang, karya Sutarto Hadi mengandung kisah perjalanan hidup yang menjadi bisa pembelajaran bagi pembaca.

“Saya melihat Pak Prof Sutarto Hadi itu sosok yang sabar. Dengan ketabahan itu, walau beliau diserang dari berbagai penjuru, beliau masih bisa tenang dan sabar. Kalau saya di posisi Pak Sutarto mungkin sudah kena stroke,” gurau Mujiburrahman.

Sama-sama menempuh studi di Belanda, Mujiburrahman pun mengaku kenal dengan Sutarto Hadi. Menurut dia, sosok Sutarto Hadi memiliki mentalitas kosmpolitan yang merangkul berbagai golongan dari latar belakang yang berbeda. Bahkan, Sutarto di mata Mujiburrahman, menjadi pemimpin di semua golongan dan figur yang terbuka terhadap kritik dan masukan.

“Karakter pemimpin kosmopolitan yang dimiliki Prof Sutarto Hadi inilah yang saya kira tepat memimpin institusi sebesar ULM,” kata ahli perbandingan agama ini.

BACA LAGI : Mardani-Rudy Ariffin-Syaifullah dan Sutarto Layak Jadi Menteri Jokowi

Mujib menyebut keberhasilan Sutarto Hadi selama memimpin ULM menjadi pemicu UIN Antasari untuk bergerak ke arah yang lebih baik. “Sebenarnya UIN Antasari dan ULM adalah saudara kandung. Jadi, keberhasilan kakak kandung , UIN Antasari akan kami ikuti,” ucap Mujib disambut tepuk tangan peserta bedah buku.

Sedangkan, Setia Budhi menilai sosok Sutarto Hadi bersama Rektor UIN Antasari dan UMB mengubah cara pandang lama dalam mengejar ketertinggalan dengan perguruan tinggi yang ada di Pulau Jawa.

“Dan ini terbukti minat masyarakat untuk melanjutkan pendidikan ke ULM, UIN Antasari dan UMB semakin tahun semakin meningkat,” tandas Budhi.(jejakrekam)

 

Penulis Ahmad Husaini
Editor Didi GS