Cerita Sebutir Kelapa, Komoditas Berharga di Era Kolonial Belanda

Oleh : Mansyur ‘Sammy’

KEBERADAAN tanaman kelapa, atau nyiur dalam Bahasa Banjar, memang menjadi komoditas urgen. Mulai dari bahan sayuran humbut nyiur hingga bahan utama piduduk yang disajikan dalam acara-acara adat, acara keagamaan, maupun acara keselamatan kampung.

BAHKAN nyiur memiliki banyak arti filosofis. Sebut saja nyiur yang disertakan dalam upacara perkawinan adat Banjar. Memiliki arti bahwa perkawinan yang dilakukan langgeng dan tahan lama ibarat nyiur yang susah dicabut dari akarnya.

Sejak kapan urang Banjar mengenal tanaman yang bergenus cocos ini? Keberadaan komoditas kelapa mulai disebut-sebut dalam Hikayat Banjar yang diperkirakan bertarikh dari 1663 M. Diceritakan Raja Majapahit mengirimkan hadiah balasan ke Maharaja Suryanatadi Negara Dipa yang ditaruh di dalam kotak emas.

Hadiah itu dibawa oleh Nakhoda Lampung (nakhoda dari Kerajaan Negara Dipa)  yang berupa beras, kelapa, gula, minyak kelapa, asam kamal, bawang, rempah-rempah dan kain-kain batik yang indah.

BACA : Berita Teror Buaya, Monster Air Sungai Barito dan Atraksi Paaliran Pukau Pejabat Hindia Belanda

Demikian pula dalam Hikayat Lembu Mangkurat. Menceritakan tentang Ki Mas Lelana yang bercita cita hendak pergi keNegaradipa bersama-sama dengan juragan Dampu Awanguntuk berniaga. Ki Mas Lelana memberi hadiah kepada Lembu Mangurat barang berupa gula kelapa, minyak nyiur, asam, bawang, beras, sagu,kain batik, ikat pingang, kopiah dan alat-alat wayangdan topeng.

Dari kedua sumber tersebut menunjukkan bahwa kelapa dibawa sebagai hadiah ke wilayah Borneo. Dalam perkembangannya sejak abad ke-17, keberadaan kelapa di wilayah Borneo bagian selatan mengalami pasang surut.

Oleh karena itu, urang Banjar lalu mulai berkebun kelapa (nyiur). Berkebun merupakan kegiatan masyarakat yang dilakukan di dataran rendah dan di dataran tinggi sesuai dengan geografis wilayahnya. Usaha berkebun ini sebagai usaha jangka panjang yang dilakukan.

Berkebun nyiur merupakan usaha perkebunan kelapa yang berada didataran rendah yang biasanya ditanam diatas tanggul atau galangan dan parit-parit. Biasanya berupa jalur-jalur untuk membawa buah yang dipetik dengan cara menghayutkan buah kelapa tersebut di parit-parit.

BACA JUGA : Jadi Bandar, Umur Pasar Terapung Muara Kuin Setua Kesultanan Banjar

Menurut Dana Listiana (2011) dari perkebunan di wilayah hulu sungai ini lalu berkembang ke wilayah lain di seantero Borneo bagian selatan. Termasuk ke wilayah Banjarmasin. Dalam peta topografi Banjarmasin yang dibuat berdasarkan data tahun 1920an menunjukkan persebaran perkebunan terutama kelapa dan karet yang diusahakan oleh penduduk dan pengusaha swasta. Penghasilan penduduk juga didapatkan dari kelapa.

Selain di Banjarmasin, kelapa juga dihasilkan dari wilayah Amuntai yang terletak di aliransungai Negara. Daerah ini dikenal sebagai pusat perdagangan kapas, lilin, sarangburung, dan berbagai hasil produksi lainnya. Barang-barang tersebut dipasok desa-desa di sekitar Amuntai.

Pada daerah sekitar Amuntai banyak ditemukan penanaman kapas, kelapa, pisang, sagu, pinang, dan pohon buah-buahan lainnyaHasil produksi dari Amuntai itu sebagian besar mengalir ke Banjarmasin untukdiekspor ke berbagai daerah lain yang membutuhkannya.

Tradisi perkebunan rakyat berupa perkebunan kelapa masih dikerjakan secara luas di seluruh Borneo Selatan setidaknya hingga tahun 1930an. Sebab, kebun kelapa masih memberi tambahan biaya hidup bagi masyarakat. Terutama saat harga kopra meningkat di pasar Jawa dan suplai bahan baku dari daerah setempat kurang. Wajar, kelapa dari Borneo (Kalimantan) menjadi andalan untuk mencukupi industri kopra.

BACA LAGI : Panjat Pinang, Hiburan Warisan Kolonial Belanda untuk Menghina Kaum Pribumi

Sayangnya, memasuki tahun 1930-an kualitas kelapa dikabarkan semakin menurun karena para tuan kebun tidak lagi memelihara kebunnya seperti dulu. Hal ini disebabkan oleh harga jual yang rendah dan hama merajalela. Kalaupun harga kopra sedang meningkat, masyarakat tidak merasakan karena tidak mendapat informasi harga. Pihak yang meraih untung adalah para tengkulak yang banyak dilakoni orang Tionghoa.

Dana Listiana (2011) juga menuliskan, meskipun gejala penurunan produksi kelapa mulai muncul, usaha agar masyarakat kampung mendapatkan untung tetap diusahakan pemerintah dari Dinas Pertanian (Landbouwvoorlichting) dan Departemen Dalam Negeri. Satu di antaranya adalah dengan mendirikan badan untuk mengurus pertanian dan para petani. Usaha ini sudah dilakukan di Jawa namun hasil penerapannya di Borneo Selatan belum dapat diketahui hingga tahun 1936.

Selain usaha peningkatan penghasilan petani, seiring maraknya wacana industri membuat luasnya kebun kelapa. Ini ditopang peluang besar bagi pembangunan pabrik-pabrik minyak kelapa dan pabrik sabun cuci yang kini hanya dimiliki oleh orang asing. Di sisi lain, pribumi hanya memiliki usaha kecil.

BACA LAGI : Sate Banjar, Riwayat dari Cita Rasa Kuliner Nusantara

Hingga tahun 1926, perkebunan kelapa baik yang dikelola secara bebas oleh rakyat maupun secara profesional oleh perusahaan perkebunan (onderneming) di Kota Banjarmasin dan sekitarnya masih luas. Perkebunan rakyat dapat dikatakan tumbuh di setiap perkampungan dan di sepanjang aliran sungai.

Peta menunjukkan persebaran onderneming (Og.) merata di berbagai sisi Kota. Pada bagian utara Kota yakni di sekitar aliran Sungai Alalak terdapat Og. Alalak Besar dan Og. Tandjoeng Pagar.

Sementara di bagian barat kota di sekitar Sungai Barito dan Sungai Palamboean (Pelambuan) terdapat Og. Louise Albertine dan Og. Palamboean. Pada bagian timur kota yakni di aliran Sungai Martapura terdapat Og. Pangambangan, Og. Pematang Ramania, dan Og. Sungai Lokbantan.

Selain itu, di sepanjang jalan darat antara Banjarmasin-Martapura yakni di alirananak Sungai Martapura, Sungai Lulut dan Sungai Taboek, terdapat Og. Sungai Bakung, Og. Sungai Madang, dan Og. Aboemboen. Pada wilayah Hindia Belanda tidak terdapat garis pemisah yang tegas antara perkebunan dan kebun karet milik pribumi. Adapun di Malaya, perkebunan adalah unit tanaman karet dengan luas lebih dari 40 hektare, sedangkan bumiputera sekitar 1hingga 5 hektare.

Perkebunan dan perdagangan kelapa diwarnai berdirinya Serikat Penanam Indonesia berdiri pada tahun1934. Perkumpulan ini bergerak seputar perdagangan hasil pertanian. Oleh karena itu usaha yang dilakukan adalah melakukan pembelaan terhadap petani seperti penanam getah para, kelapa, kapuk, dan lada. Selain itu di wilayah Aluh-Aluh terdapat banyak kebun kelapa. Kemudian, Kelayan di mana terdapat ladang padi dan pabrik penggergajian kayu.

Ketika keperluan kelapa tidak bisa diantisipasi, kadang kadang komoditas ini harus dibeli dari luar pulau. Biasanya dibawa sebagai barang dagangan dalam jaringan pelayaran orang Mandar, Bugis, dan Makassar.

BACA LAGI : Antara Kauman dan Bong; Sekelumit Kisah Kampung Pekauman Banjarmasin

Pelabuhan Banjarmasin merupakan salah satu mata rantai dalam jaringan pelayaran mereka. Menurut L. van Vuuren, ketika daerah-daerah di Kalimantan belum bisa mencukupi sendiri kebutuhan akan kopra dan minyak kelapa, pelayaran dari Mandar ke Kalimantan sangat ramai. Pelabuhan Banjarmasin pun dipenuhi  perahu-perahu Mandar yang mengangkut kopra dan minyak kelapa.

Komoditas kelapa juga menjadi komoditas angkutan pelayaran rakyat yang tergabung dalam Roepelin atau Roekoen Pelajaran Indonesia yang didirikan di Surabaya pada 10 September 1934.

Roepelin menetapkan tujuh rute pelayaran dengan Surabaya sebagai pangkalannya. Satu di antara komoditas unggulan yang diperdagangkan dalam rute pelayarannya adalah kelapa dan hasil olahan kelapa. Hingga, pada masa pendudukan Jepang, minyak kelapa dari Kalimantan dan pulau lainnya yang dijual Jepang sebanyak 11,467 metrik ton.(jejakrekam)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news and updates delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time