ACT

Pulau Bakut, Delta Membelah Sungai Barito, Pulaunya Monyet Belanda

0 297

DIPERMAK habis sejak 2018, kini wajah Pulau Bakut yang berada di bawah Jembatan Barito, tampak lebih tertata. Delta yang berada di Sungai Barito menjadi habibatnya bekantan, monyet Belanda (nasalis larvatus) telah berubah statusnya jadi Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Bakut.

UNTUK menarik wisatawan datang ke TWA Pulau Bakut, dermaga pun dibangun dengan jasa penyeberangan klotok yang berada di tepian Sungai Barito, Desa Marabahan Baru, Kecamatan Anjir Muara, Kabupaten Barito Kuala (Batola).

Dengan membayar Rp 10 ribu per orang, bolak-balik, penumpang akan diantar jemput sang motoris. “Kalau hari biasa, agak sepi. Tapi di akhir pekan seperti Sabtu dan Minggu, ada ratusan orang yang menyeberang ke Pulau Bakut,” ucap Anang, motoris klotok kepada jejakrekam.com, Sabtu (21/7/2019).

Untuk parkir sepeda motor dan mobil pun relatif aman, karena ada petugas parkir yang siap menjaganya. Cukup membayar Rp 2.000 untuk sepeda motor, dan Rp 5.000 untuk mobil, para pengunjung tak perlu waswas dengan kendaraan bermotornya.

BACA : Dedikasi Agus Bei dari Balikpapan, Adakah Figur Itu di Banjarmasin?

Saat tiba di Dermaga TWA Pulau Bakut, sudah disuguhi titian ulin dan jalur jalan yang menembus hutan mangrove pulau tersebut. Cukup membayar uang masuk Rp 10 ribu pada hari biasa, dan akhir pekan (weekend) Rp 12.500, pengunjung sepuasnya menikmati view hutan mangrove dengan tumbuhan khas Sungai Barito, seperti rambai, jingah, serta tumbuhan perdu lainnya.

Di bawah pengelolaan SKW II Banjarbaru BKSDA Kalimantan Selatan, Pulau Bakut di atas lahan seluas kurang lebih 18,70 hektare menyuguhkan wisata alam sekaligus petualang bagi pengunjung. Apalagi, di tempat itu, berdiri dua menara pantau yang bisa dinikmati pengunjung untuk mengamati gerak-gerik hewan endemik Borneo itu saat mencari makan dan berada di komunitasnya.

Pengunjung bisa bersantai di beberapa gazebo di tengah titian ulin yang mengitari Pulau Laut, sembari menikmati panorama Sungai Barito di pagi dan senja hari. Meski suara bising dari kendaran bermotor yang lalu lalang di atas Jembatan Barito, cukup memecah keheningan rimba di tepian sungai.

BACA JUGA : Jembatan Barito Makin Memprihatinkan, Empat Tahun Terakhir Tak Ada Pemeliharaan

Untuk menjaga kebersihan dan keamanan Pulau Laut, BKSDA Kalsel melalui SKW II Banjarbaru pun menggandeng kelompok sadar wisata (pokdarwis) dari dua desa berbatasan. Yakni, dari Desa Marabahan Baru, Kecamatan Anjir dan Desa Beringin, Kecamatan Alalak, Kabupaten Batola.

Bicara fasilitas di TWA Pulau Bakut, cukup representatif, dengan berdirinya mushala dan toilet umum. Termasuk, ada warung terapung yang menyediakan makanan dan minuman bagi para pengunjung.

Misran, petugas SKW II Banjarbaru mengungkapkan tiket masuk ke TWA Pulau Bakut sebenarnya untuk pemeliharaan fasilitas wisata yang ada. Sebab, sejak dibangun pada pertengahan 2018 lalu, fasilitas yang disiapkan untuk umum itu harus dirawat. Termasuk, membayar honor para petugas keamanan dan kebersihan pulau itu.

BACA LAGI : BKSDA Kalsel Berencana Pulangkan Bekantan yang Dipinjamkan ke KBS

“Biasanya, saat akhir pekan, ada ratusan pengunjung yang datang ke sini, usai Pulau Bakut dibuka untuk umum. Mereka biasanya ingin melihat langsung bekantan yang hidup di habitatnya,” ucap Misran.

Ia mengakui Pulau Bakut termasuk wilayah konservasi bekantan, di samping Pulau Kaget. Apalagi, beberapa bekantan yang menghuni pulau itu, kebanyakan merupakan hasil pelepasliaran. Termasuk, bekantan yang dilepas Sahabat Bekantan.

“Yang penting, pengunjung bisa menjaga kebersihan dan tidak mengganggu bekantan. Makanya, kami siapkan jalan titian ulin serta dua menara pantau. Jadi, bisa mengamati dari jarak dekat dan jauh, kehidupan para bekantan,” kata Misran.

BACA LAGI : Pelepasliaran Bekantan di Tengah Ancaman Kepunahan

Sementara itu, Arman, pengunjung Pulau Bakut mengaku baru pertama berkunjung ke pulau tersebut. Ia pun cukup menikmati udara yang segar dari pepohonan mangrove, sembari berjalan santai dengan keluarganya meniti titian ulin.

“Sayangnya, saat berkunjung ke sini, bekantan tak ada. Mungkin lagi cari makan di tempat lain, yang terlihat hanya kotoran di titian ulin,” kata Arman, terkekeh.(jejakrekam)

 

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.