Dirgahayu

Guru Ibad, Ulama Kesohor Martapura yang Merengkuh Jalan Politik

Foto : Berbagai Sumber

NAMA KH Badaruddin atau populer dengan sebutan Guru Ibad, di dunia politik sudah kesohor di Kalimantan Selatan. Jalan politik ditempuh ulama asal Martapura yang juga membina Pondok Pesantren Darussalam. Sebuah lembaga pendidikan Islam yang melahirkan banyak ulama di Tanah Banjar.

DARI trah keilmuan, Guru Ibad lahir dari keluarga besar ulama terkemuka di Martapura. Putra KH Ahmad Zaini dari Tunggul Irang dan darah keulamaan juga berasal sang kakek, KH Abdurrahman. Guru Ibad lahir di Martapura pada 29 Zulqaidah 1355 atau 11 Februari 1937.

Di dunia dakwah hingga seni tradisi Islam, Guru Ibad pun diyakini merupakan ulama yang pertama kali memasyarakatkan pembacaan syair Maulid Habsyi dan kini membumi di Kalimantan Selatan. Pada 1960-an, pendarasan Maulid Habsyi (Simthud Durrar) pun makin masyhur, ketika Syekh Muhammad Zaini Abdul Ghani atau Guru Sekumpul, mempopulerkannya dengan iringan seni terbang khas Banjar, serta syair-syair yang menyentuh hati.

BACA : Guru Tuha Ponpes Darussalam, Pejuang Gerilya dan Pendiri NU di Kalimantan

Guru Ibad pun pernah dianugerahi Satya Lencana Penegak dari Pemerintah Indonesia atas jasanya turut membantu penumpasan gerombolan PKI di Kalsel. Karir birokrasi diawali sebagai Penghulu di Kampung Jawa dan Sungai Paring, Martapura pada 1955 hingga diangkat menjadi pegawai Departemen Agama Kabupaten Banjar pada 1960.

Sejarawan UIN Antasari Banjarmasin, Humaidy Ibnu Sina mengakui sosok Guru Ibad tak hanya dikenal dengan keulamaannya, tapi juga ketika jalan politik ditempuhnya saat bergabung dengan parpol penguasa era Orde Baru, Golkar.

“Memang, nama Guru Ibad dikenal sebagai  ulama politik. Namun, kiprahnya dalam dunia pendidikan, khususnya membesarkan Ponpes Darussalam Martapura tak boleh diabaikan,” ucap Humaidy Ibnu Sami kepada jejakrekam.com, Selasa (16/7/2019).

BACA JUGA : Berawal dari Dalam Pagar, Lahir Pondok Pesantren di Tanah Banjar

Menurut dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari ini, justru ketika banyak ulama menempuh jalan politik, lembaga pendidikan jadi tak terurus dan terbengkalai. Hal itu berbeda, ketika Guru Ibad bergabung ke Golkar, perkembangan Ponpes Darussalam Martapura, justru luar biasa.

“Dari segi pendidikan, Guru Ibad termasuk penerus semangat pembaruan dari pimpinan Ponpes Darussalam sebelumnya, seperti KH Salim Ma’ruf, KH Anang Sya’rani Arif, Tuan Guru H Abdul Qadir Hasan dan Tuan Guru H Kasyful Anwar,” ucap Humaidy.

Malah, dalam pengamatan Humaidy, justru ketika Guru Ibad melakoni itjihad politik sebenarnya demi kemajuan pendidikan Islam, terkhusus Ponpes Darussalam. Menurut Humaidy, dari masa ke masa, hingga di era Guru Ibad, pesantren yang berada di tepian Sungai Martapura di bawah Yayasan Pondok Pesantren Darussalam memiliki santri terbanyak di Kalsel, bahkan di Kalimantan.

BACA LAGI : Fenomena Pemilu di Banjarmasin Era Orde Baru

Meski menempuh pendidikan non formal di Madrasah Iqdamul Ulum dan Ponpes Darussalam, hingga menimba ilmu di Kota Makkah, Arab Saudi dan kembali ke kampung halaman, hingga berguru ke ulama terkemuka, di antaranya kepada sang kakak, KH  Husein Qadri, KH Anang Sya’rani Arif, KH  Muhammad Samman Mulia, KH. Salim Ma’ruf dan beberapa ulama serta habaib di Pulau Jawa, mengasah keahlian dalam ilmu agama.

“Saat di bawah pimpinan Guru Ibad, Ponpes Darussalam Martapura memiliki perkembangan sangat pesat dengan dibukanya, SMP, SMK, SMR hingga STAI Darussalam Martapura. Ketika itu, Guru Ibad juga merupakan anggota DPRD Tingkat II Kabuapten Banjar dari Golkar yang diangkat pada 1961, hingga pada 1978 menjadi anggota  MPR RI selama dua periode. Berikutnya, pada 1978, selama dua periode menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) RI,” beber Humaidy.

Atas kiprahnya itu, Humaidy pun meyakini jika Guru Ibad memilih jalan politik sangat erat dengan kaitannya untuk membesarkan dunia pendidikan, khususnya Ponpes Darussalam Martapura, serta memperjuangkan tegaknya syiar Islam di Kalsel. Ini karena, lewat dunia politik, akan lebih mudah untuk menyalurkan aspirasi ke daerah kekuasaan, dibandingkan jalan lain.

BACA LAGI : Istiqamah dalam Berjuang, KH Idham Chalid Teladan bagi Politisi Muslim

Ini terbukti, ada dua tipikal sekolah dikembangkan Yayasan Ponpes Darussalam, tak hanya terkosentrasi pada pesantren, namun ada MI, MTs, MA di bawah pembinaan Kementerian Agama, namun juga sekolah umum seperti SD, SMP, SMA, STM dan SPMA di jaringan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Jejak Guru Ibad pun diterauskan sang putra H Muhammad dan H Hasanuddin juga mendirikan pondok pesantren di Saudakan, Negeri Sabah, Malaysia dari TK hingga Aliyah dan diakui negeri jiran itu.(jejakrekam)

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi