Datu Kayan di Alalak, Ulama Sufi asal Banten yang Jadi Panglima Dayak

Foto : Berbagai Sumber

FOTO pria berjanggut panjang dengan wajah berparas Timur Tengah tergantung di Kubah Makam Datu Kayan, ada pula menulis Datu Khayan di Desa Berangas Timur, Kecamatan Alalak, sebagai pertanda siapa yang disemayamkan dalam pusaran besar.

HINGGA kini, Datu Kayan yang dipercaya bernama asli Syekh Abdurrahman Sidik, merupakan nama samaran. Ini disebabkan di era kolonial Belanda, ulama terkemuka di komunitas masyarakat Berangas Alalak ini merupakan salah satu ulama penentang penjajahan kulit putih itu di Tanah Borneo.

Sejarawan Islam UIN Antasari Banjarmasin, Humaidy Ibnu Sami mengungkapkan peran Datu Kayan atau Khayan sangat penting dalam perlawanan terhadap Belanda, khususnya di daerah pedalaman Kalimantan Selatan dan Tengah, terutama di pesisir Sungai Alalak, Kapuas, hingga Kahayan.

BACA : Digerus Bahasa Banjar, Penutur Bahasa Berangas yang Kian Langka

“Berdasar tradisi lisan yang berkembang di Alalak Berangas, Datu Kayan merupakan ulama sufi asal Banten yang turut menyebarkan Islam di daerah pendalaman Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah hingga ke Kalimantan Barat,” tutur Humaidy Ibnu Sami kepada jejakrekam.com, Minggu (14/7/2019).

Kegigihan dalam garis perlawanan terhadap Belanda ini menyebabkan Datu Kayan termasuk orang yang dicari untuk ditangkap dan hukum, layaknya sebutan para pemberontak kepada para penentang hegemoni kolonial di Tanah Banjar.

“Serdadu Belanda selalu mencari keberadaan Datu Kayan, karena merupakan sosok pejuang yang membela kebenaran. Dari perjalanan dakwahnya ke sejumlah daerah, seperti Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, Datu Kayan akhirnya memilih menetap di Kampung Alalak Berangas, ketika itu,” ucap Humaidy.

BACA JUGA : Bahasa Dayak Ngaju Berakar Sama dengan Melayu

Magister pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini mengungkapkan saat berada di Kalbar, Datu Kayan diberi gelar Sayyid Abdurrahman As-Segaf Al Bukhayyan. Menurut Humaidy, dari berbagai literatur dan cerita rakyat, disebutkan dalam beberapa pertempuran antara pejuang pribumi melawan serdadu Belanda, kiprah Datu Kayan sangat menonjol karena berada di garda terdepan.

“Utamanya lagi, saat Belanda hendak menguasai alur pelayaran Sungai Barito, Datu Kayan termasuk yang mencetuskan perlawanan terhadap pasukan Belanda. Nah, atas keberanian itu, akhirnya masyarakat Dayak memberi gelar Darrun Khayyan, atau panglima salah satu subetnis Dayak, Khayyan,” beber Humaidy.

Saat mendakwahkan Islam di pedalaman Kalimantan, Datu Kayan pun memiliki banyak murid. Hingga dari tiga istrinya, yakni Zamrud berasal dari Martapura dikarunia lima anak. Sedangkan, istri kedua, Syarifah Radiah berasal dari Nagara, Hulu Sungai Selatan dan dikarunia tiga anak.

“Nah, ketika bermukim di Alalak Berangas, Datu Kayan menyunting wanita setempat bernama Siti Sajanah yang kini makamnya berdampingan dengan beliau. Dari rahim Siti Sajanah, lahir tiga putra yakni Datu Abdul Manaf, Datu Tamim dan Datu Icut,” ucap Humaidy.

BACA LAGI : Haul Habib Abdullah di Alalak Jadi Ajang Reuni Keluarga Besar Al Balghaits

Namun dari ketiga putranya, Datu Incut dikenal sebagai wali dzajab Al-Habib Yusuf, yang perangainya dinilai aneh mirip dengan Wali Amut, seorang waliyullah yang khariqul ‘adat atau memiliki kelebihan berkat anugerah dari Allah SWT karena termasuk orang dekat dengan sang Khalik.

Hingga pada 1850, Datu Kayan wafat dalam usia 150 tahun, tepat pada 10 Rabiul Awwal, dalam hitungan kalender hijriyah berusia 153 tahun di Desa Berangas, Kecamatan Alalak. Menurut Humaidy, dari berbagai sumber, peninggalan Datu Kayan yang dipercaya berupa 13 kitab karangan, di mana 12 kitab membahas ilmu kepahlawanan atau kedigjayaan. Satu kitab lagi mengupas ilmu tawasuf bernama Kitabul Haq Kalamullah.

“Dulu, saat Syekh Muhammad Zaini Abdul Ghani atau Guru Sekumpul masih hidup, sempat menanyakan keberadaan kitab-kitab karangan Datu Kayan. Sebab, kitab yang ditulis Datu Kayan ini dipercaya masih dipegang para zuriatnya yang menyebar, tak hanya ada di Alalak Berangas,” ucap dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari ini.

Jejakrekam.com pernah menemui beberapa zuriat Datu Kayan, yang masih menyimpan beberapa warisan sang ulama, seperti jubah yang sering digunakan sehari-hari. Termasuk, beberapa kitab serta piring malawen dan mangkok bertuliskan rajah Arab.

BACA LAGI : Dirikan Banyak Pabrik, Banjarmasin Dibagi Jepang dalam 19 Kampung

Sayangnya, zuriat Datu Kayan ini enggan menjelaskan apa khasiat dari beberapa peninggalan sang ulama yang mengajarkan dinul Islam di komunitas masyarakat Berangas dan Alalak tersebut.

Menariknya, foto Datu Kayan ini juga disimpan beberapa tokoh Banua seperti almarhum pemilik usaha Hasnur Group, H Abdussamad Sulaiman HB, pemilik koran Kalimantan Post H Taufik Effendi, serta tokoh lainnya yang diyakini masih terkait dengan zuriat sang ulama ini.(jejakrekam)

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi